Dosen Mesum di Undip: Ketakutan Kolektif yang Jadi Rahasia Umum

Oleh: Aulia Adam - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 6 menit
Dari laporan seorang alumnus-penyintas pelecehan, kami mendatangi Undip dan berjumpa penyintas lain: pelaku adalah dosen FIB yang sama.
tirto.id - Saat mendengar kasus Agni, nama samaran mahasiswi penyintas kekerasan seksual di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dias—bukan nama asli—kembali terkenang pengalaman pahitnya. Alumnus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini lumayan mengikuti kisah Agni sejak November tahun lalu. Pertama kali mendengarnya, ia bergidik.

“Cerita-cerita begini sering jadi trigger. Bikin saya teringat lagi,” katanya.

Dias makin gondok karena mendengar kasus Agni pada Februari kemarin berakhir “damai”—istilah pasar untuk menyebut "kesepakatan non-litigasi". Ia kecewa tak ada hukuman berat bagi pelaku dalam kasus Agni.


Dias jadi teringat insiden yang menimpanya tahun 2016 ketika masih berstatus mahasiswi.

Juli. Seminggu setelah Idulfitri, ia mengunjungi kampus karena ingin segera sidang skripsi. Waktu itu, semua berkas sudah rapi. Dias ingin meminta tanda tangan persetujuan sidang skripsi dari dosen pembimbingnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Redyanto Noor, biasa dipanggil "Pak Redy."

Saat di depan kantor jurusan, langkah Dias berhenti karena didekati dosen yang namanya kami samarkan sebagai Kodir, pengajar sejumlah mata kuliah wajib di FIB. Dias pernah mengikuti mata kuliah yang diampu Kodir selama beberapa semester. Saat itu Kodir bilang ingin melihat skripsinya. Ia dinasihati banyak hal tentang cara membuat skripsi yang baik.

“Dia bahkan menawarkan untuk bimbingan lagi, padahal skripsi saya sudah selesai dan siap disidangkan,” kata Dias. “Saya cuma iya-iya saja, karena enggak enak.”

Dalam obrolan itu, paha, tangan, dan punggung Dias mulai diraba-raba. Awalnya Dias tercekat. Ia tak bisa gerak dan berteriak. Tapi, pikirannya ke mana-mana. Dias ketakutan dan merasa terancam. Hari itu kampus memang sepi. Jika teriak, ia takut dikira lebay dan tak punya bukti jika ada yang menagih.

“Dia dosen, saya bisa aja dikira yang godain. Saya juga bakal ditanya kenapa diam saja pas dipegang, tapi saya memang enggak tahu kenapa waktu itu diam,” kenang Dias.

Ia baru memberi respons ketika si dosen berusaha menyosor mulutnya, mendekatkan muka, berusaha mencium. Dias berhasil menampik, dan kabur.

Pulang. Syok. Menangis. Dan merasa jijik.

Pada hari yang sama, Dias sempat bercerita kepada beberapa kawan. Mereka mencoba menenangkan, tapi ada pula yang menyarankan untuk tak terlalu menanggapi.

Dias memang sempat mendengar rumor-rumor tak sedap tentang Kodir, tentang reputasinya yang mesum. Sampai hari itu, “Saya enggak nyangka kalau cerita itu mungkin benar, sampai saya sendiri yang kena.”

Keesokan hari, Dias melaporkan kejadian itu kepada seorang dosen perempuan yang dikenalnya ramah dan baik pada mahasiswa. Setelah berkonsultasi, Dias disarankan mengadu pada kepala jurusan. Dari dosen itu pula, Dias mendapatkan informasi bahwa ia bukan yang pertama. Ada tiga korban yang sempat mengadukan dosen yang sama pada jurusan.

Saya mengontak dosen perempuan yang dihubungi Dias. Namun, ia tidak berkomentar panjang dan menyarankan untuk bicara langsung pada kepala jurusan sebagai otoritas kampus.

Berdasarkan saran itu, Dias sempat menemui Kepala Program Studi di FIB Undip. Di sana ia kembali disarankan melapor ke Dekanat.

Maka, Dias pergi melapor pada Pembantu Dekan II Suharyo. Di sana ia juga diberitahu bahwa sebelum dirinya, ada tiga orang yang sempat melaporkan dosen yang sama. Dias disuruh tenang. Suharyo menjanjikan Kodir akan dipanggil Dekanat.

Berakhir Menggantung

Setelah menyelesaikan sidang skripsi, fokus Dias sudah berganti. Ia tak harus ke kampus lagi. Selang beberapa minggu, ia sempat kembali ke kampus untuk mengurusi berkas transkrip nilai. Ia sempat melihat Kodir masih ada di kampus. Dias kaget.

“Kok enak banget sih? Kok masih seliweran?”

Dias kembali bertanya kepada Suharyo, “Saya tanya, apa perlu saya lapor ke Rektorat? Kata beliau, enggak usah. Karena kita di sini (Dekanat) punya prosedural sendiri tentang kejadian kemarin. Karena punya aturan sendiri.”

Dias ingat betul kejadian yang menimpanya dianggap “bukan pelanggaran yang berat”. Suharyo seingat Dias juga berkata bahwa Kodir sempat dipanggil Dekan Redyanto Noor.

“Sama dekan katanya dimarah-marahi, diunek-uneki lah kalau bahasa Jawanya,” kata Dias kepada saya, akhir Februari lalu.

Suharyo juga sempat menjelaskan bahwa Kodir pasti akan dapat sanksi sosial, menurut Dias. Misalnya, “Jelek di mata dosen lain”.

Dias juga diberitahu bahwa izin Kodir sebagai dosen pembimbing skripsi sudah dibatasi; tidak diperkenankan jadi dosen pembimbing skripsi untuk mahasiswa perempuan.

Saya menghubungi Suharyo dan Redyanto Noor lewat pesan WhatsApp, tapi tak direspons. Suharyo juga tak mengangkat telepon dari saya. Sementara Redy menolak wawancara yang saya tawarkan.

Saat kami bertemu di depan kantor Dekan FIB, 5 Maret kemarin, dalam perbincangan sekelabat, Redy sempat berkata tak ingat atas kejadian yang saya jelaskan. Tapi membenarkan bahwa ia mendapat laporan dari Dias ketika saya menyebut nama asli. Dias mengizinkan saya menyebut nama aslinya kepada Redy, Suharyo, dan Kepala Program Studi di FIB Undip.

“Dosennya waktu itu sudah saya panggil. Ya ditegur,” katanya. Saat ditanya lebih lanjut, Redy mengaku sibuk.

Sehari sebelumnya, Kaprodi di FIB Undip tempat Dias studi jurusan—yang enggan disebutkan nama aslinya—membenarkan laporan Dias. Atas laporan itu, sang Kaprodi melaporkan Kodir kepada Redyanto Noor, Dekan FIB saat itu.

Menurutnya, Kodir sudah dipanggil dan kena teguran. “Karena mungkin itu dianggap kasus awal, jadi dekan cuma menyampaikan teguran, ya dan menasihatilah. Itu aja,” katanya.

Sebelum mengadukan ke dekan, sang Kaprodi mengaku telah memanggil khusus Kodir dan memberikan teguran. “Saya tegur dan saya berikan peringatan,” tambahnya.

“Terus terang, sebagai pimpinan Prodi di sini, saya bertanggung jawab atas anak buah atau bawahan saya. Padahal tanggung jawab saya bukan cuma di sini, tapi juga di sana, ya,” katanya, sambil menunjuk langit-langit.

Ia juga mengaku sempat didatangi satu korban lain sebelum Dias. Berbeda dengan Dias, korban satu ini adalah mahasiswa bimbingan skripsi Kodir yang mengaku “tidak nyaman dengan perlakuan si dosen”.

Setelah menerima laporan itu, sang Kaprodi memutuskan mengganti Kodir dengan dosen pembimbing lain. Tapi, ia tak ingat jumlah penyintas yang datang kepadanya. Ia cuma ingat Dias dan satu korban tersebut.

Sang Kaprodi juga akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Kodir untuk tidak boleh lagi jadi dosen pembimbing skripsi mahasiswi. “Sudah dua semester terakhir,” katanya. “Jadi dia cuma boleh bimbing yang putra.”

Masih Ada Mahasiswi yang Jadi Korban

Gia—bukan nama asli—harus tiga kali berhenti di jalan karena syok. Ia sesenggukan karena baru saja berhadapan dengan Kodir di kantor jurusan. Pada saya, selama hampir setengah jam, Gia bercerita detail pengalaman buruknya ketika tangannya digenggam, pipinya dicubit-cubit, dan pinggangnya dirangkul Kodir saat ruangan itu sepi.

Gia enggan ceritanya ditulis rinci. Ia takut identitasnya terlacak dan membahayakan proses studinya.

“Waktu pulang aku nangis. Di jalan itu aku bingung mau ngomong sama siapa. Sampai aku berhenti tiga kali di jalan. Buka HP, tapi bingung mau ngomong sama siapa. Sama teman, ya percuma. Paling cuma dibilangi, kamu itu korban keberapa, kesekian sih. Ya sudah, sabar aja. Kan, malah makin enggak tenang.”

Singkat cerita, karena trauma, ia sempat dua minggu tak masuk kampus. Gia butuh memulihkan diri.

Cerita begitu tak cuma datang dari Gia. Sebelum bertemu Kaprodi, saya menerima cerita dari dua mahasiswa lain yang punya pengalaman serupa Gia.

Iriana dan Vani—keduanya nama samaran—punya cerita sama, tapi enggan kisahnya dituliskan rinci karena merasa tidak aman masih berstatus mahasiswa.

“Kalau aku sendiri merasa terancam. Karena dosen itu memang sudah terkenal genit. Jadi udah bukan hal mengagetkan kalau ada anak-anak yang diapain sama beliau,” kata Iriana. Sama seperti Gia, tangannya pernah digenggam dan dielus-elus, serta pipinya dicubit.

“Aku ngerasa terancam karena bukan cuma sekali,” tambah Iriana.

Dari sejumlah mahasiswa yang saya wawancarai, Kodir dikenal punya reputasi “genit”. Ia “ramah” kepada mahasiswi. “Dia terkenal—dikasih tahu dari senior-senior juga sejak awal masuk—kalau kasih nilai selalu enak. Pasti A, jaranglah yang dapat B,” kata Iriana.

Pernyataan serupa setidaknya diamini oleh empat mahasiswi yang saya tanyai, di luar Dias.

“Saya cuma dengar-dengar semacam rumorlah. Soalnya, katanya, katanya, katanya gitu. Sampai akhirnya kejadian di saya. Saya yakin yang lain juga pernah, tapi enggak berani cerita,” kata Dias.

Kodir juga terkenal sering menyuruh mahasiswi untuk konsultasi atau bimbingan di rumahnya. Gia, Vani, dan Iriana adalah sedikit mahasiswa yang pernah disuruh Kodir untuk datang ke rumah. Tidak semuanya mau. Kalaupun pergi, mereka biasanya mawas diri dengan mengajak kawan lain.

Saya mengontak Kodir dan mengajak bertemu untuk wawancara. Namun, pesan WhatsApp saya cuma dibaca. Saya meneleponnya tapi tak digubris oleh Kodir. Saya kembali mengirim pesan WhatsApp dan bertanya secara eksplisit meminta tanggapannya. Saya juga kembali menelepon dua kali. Kodir tidak merespons sampai artikel ini dirilis.


Infografik HL Indepth Dosen Mesum
Infografik HL Indepth Dosen Mesum Undip

Kejadian Berulang Tidak Cukup Buat Sanksi?

Sementara Nurhayati, dekan baru FIB yang dilantik Januari lalu, mengaku masih belum tahu tentang tindak-tanduk Kodir. Ia memang tidak datang dari jurusan yang sama dengan Kodir dan Redyanto Noor, dekan sebelumnya. Nurhayati berkata belum pernah ada laporan yang masuk sehingga tak bisa banyak berkomentar.

Ia berkata baru bisa bertindak jika ada laporan. “Tentu saja saya akan klarifikasi. Kalau itu benar, kami akan kaji lagi. Sejauh mana Prodi merespons kasus ini. Kami akan selalu kembali pada regulasi yang ada. Untuk memberi sanksi, memberi hukuman. Kan, itu ada regulasi. Kami pasti akan mengacu ke sana,” kata Nurhayati saat kami bertemu, 5 Maret lalu.

Ketika saya tanya tindak lanjut kasus ini seminggu kemudian, Nurhayati berkata, “Saya sudah klarifikasi kasus itu. Dari Prodi menyatakan kasus itu (kasus Dias) sudah selesai.”

Sejauh ini, kasus Dias dianggap selesai karena dosen sudah ditegur Dekanat, dan diberi sanksi oleh Jurusan untuk tidak membimbing mahasiswi lagi. Dan Dias dianggap tidak memperkarakan kasus ini lebih lanjut.

Apakah selesai berarti tidak dianggap ada pelanggaran?

“Ini terjadi pada 2016. Jadi saya tidak bisa memberi komentar. Nuwun,” jawab Nurhayati.

Lantas, bagaimana nasib mahasiswi macam Gia, Iriana, dan Vani?

Testimoni mereka membuktikan bahwa kejadian yang dialami Dias tidak berhenti pada 2016. Dan tidak terjadi pada satu angkatan saja, atau spesifik terjadi pada satu orang. Tidakkah kampus seharusnya menjamin keamanan mahasiswanya?

Nurhayati berkomentar ia belum menerima laporan dari kasus-kasus yang saya ceritakan relatif baru seperti yang dialami Gia, Iriana, dan Vani.

Kaprodi di FIB Undip berkata ia terganjal regulasi. Sanksi terhadap koleganya sejauh ini adalah hal paling maksimal yang bisa ia lakukan. “Di tahap (level) seperti (saya) ini, cuma bisa bikin aturan begitu (melarang Kodir jadi dosen pembimbing mahasiswi).”

Dan hanya itu. Menurutnya, selama ini kampus belum punya regulasi khusus yang spesifik menyebut pelecehan seksual. “Saya juga pernah tanya ke dekan, tapi belum ada jawaban pasti,” kata Kaprodi.

Nurhayati berkata, sepengetahuannya, tidak ada aturan spesifik di lingkungan akademik Undip yang menyebut klausul “pelecehan seksual” atau "kekerasan seksual". Sehingga kampus akan merujuk pada aturan-aturan tentang etika dosen bila pada akhirnya akan menjatuhkan sanksi.

Ia menilai harus melihat secara kasuistik. Menurutnya, regulasi khusus belum diperlukan. “Evaluasi kinerja dosen dilakukan melalui alat kode etik dosen dan ASN (aparatur sipil negara),” katanya.

Namun, tidakkah kampus menilai perlu membuat kebijakan khusus untuk menindaklanjuti kasus yang terjadi berulang?

Saya berusaha mengontak Kepala Humas Universitas Diponegoro Nuswantoro Dwiwarno soal regulasi yang sekiranya dibuat khusus untuk menangani kasus berulang seperti pelecehan atau kekerasan seksual di lingkungan akademik.

Nuswantoro menjawab lewat pesan WhatsApp: "Yang akan dibicarakan kasus pelecehan yang mana, ya? Kalau sudah diselesaikan di Fakultas, dan para pihak sudah legowo semua, apakah perlu dibicarakan? Saya belum tahu posisi kasusnya … jadi saya belum bisa membuat statement."

Ketika saya minta izin menelepon untuk menjelaskan kasusnya, Nuswantoro menolak dan berkata sedang “sibuk.”

========

Laporan ini adalah bagian dari seri laporan mendalam #NamaBaikKampus. Ini adalah proyek kolaborasi antara Tirto.id, The Jakarta Post, dan VICE Indonesia terkait pelbagai dugaan kekerasan dan pelecehan seksual di perguruan tinggi di Indonesia.

Tim Tirto yang bekerja untuk proyek ini adalah Dipna Videlia Putsanra di Yogayakarta, Aulia Adam, Fahri Salam, dan Wan Ulfa Nur Zuhra di Jakarta.

Jika kamu pernah mengalami kekerasan atau pelecehan seksual di kampus dan berkenan berbagi cerita, bantu kami mengisi testimoni untuk mendesak pembuatan kebijakan yang berpihak pada korban:



Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL DI KAMPUS atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan