Donasi lewat Media Sosial Tak Selalu Tepat Sasaran

Ilustrasi melakukan donasi secara online. Getty Images/iStock Editorial
Oleh: Aditya Widya Putri - 25 Agustus 2017
Dibaca Normal 2 menit
Akun-akun yang mengelola donasi online seharusnya melakukan pengecekan ulang tentang orang yang akan disumbang.
tirto.id - Masih ingat Pak Sholeh? Pada 2015, kisah tukang ojek renta ini sempat viral. Seorang pengguna Facebook membagikan cerita hidup Sholeh setelah memakai jasanya. Setelah itu, tukang ojek ini mendapat beragam bantuan dari warganet. Bahkan, ada yang menghadiahinya umrah gratis.

Dulu, setiap hari Pak Sholeh harus menempuh perjalanan dari Sawangan, Depok ke Jakarta Pusat untuk menarik penumpang. Dalam menawarkan jasanya, ia juga tak pernah mematok tarif kepada penumpang. Per hari, Sholeh biasanya hanya mampu mengantongi Rp60 ribu. Terkadang malah harus nombok uang bensin karena kerap tak dibayar.

Namun, semua berubah ketika unggahan tentang dirinya ramai dibagikan. Kini, Pak Sholeh tak lagi ngojek, rumahnya pun sudah pindah ke tempat yang lebih nyaman. Ia tengah menikmati masa tua dengan tenang, seperti seharusnya.

“Sudah lama tidak ngojek, setahun mungkin. Sekarang aktivitasnya berkebun, menanam macam-macam, bunga, singkong, ubi,” ceritanya kepada wartawan Tirto.

Ia tampak sumringah menceritakan saat-saat manis selepas kisahnya viral dulu. Umrah menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan. Sepanjang obrolan, ia tak henti mengucapkan rasa syukur. Sholeh merupakan contoh nyata bahwa media sosial bisa digunakan untuk hal positif.

“Sampai sekarang masih enggak percaya. Bisa umrah gratis pula, kan.”

Media sosial memiliki pengaruh besar untuk mengubah pikiran dan laku penggunanya. Penggalangan dana misalnya, bisa mencapai angka fantastis berkat foto dan caption pilu yang menyertainya. Hal ini dibuktikan dalam penelitian Georgetown University terhadap lebih dari 2.004 pengguna internet Amerika berusia lebih dari 18 tahun.

Baca juga: Pendapatan Selebriti Media Sosial

Sebanyak 76 persen menyatakan perlu memengaruhi orang lain untuk melakukan kegiatan sosial atau minimal mengajak orang lain jadi perduli masalah sosial. Sebanyak 82 persen responden setuju media sosial efektif membuat lebih banyak orang bersimpati terhadap masalah tersebut. Lebih dari setengah responden (55 persen) tergerak membantu.

Ajakan untuk turut berdonasi di media sosial dapat menggerakkan orang untuk melakukan beberapa bantuan. Kebanyakan orang menyumbang uang, ada pula yang ikut menjadi relawan, menyumbangkan barang atau makanan pribadi, dan berpartisipasi dalam suatu acara.

Penelitian ini juga menyertakan macam unggahan yang membuat orang tergerak beramal. Sebanyak 56 persen responden mengatakan ikut tersentuh dan ingin membantu karena membaca cerita. Unggahan berupa video memotivasi sekitar 41 persen responden untuk beramal. Lalu, 40 persen tergerak karena foto, dan 39 persen karena teman atau keluarganya telah lebih dulu beramal.


Ada Donasi Tak Tepat Sasaran

Dari penelitian tersebut, kita dapat melihat tingginya kecenderungan orang untuk menggalang donasi di media sosial. Kini, banyak bermunculan akun penggalang donasi dari warganet. Mereka akan menyalurkan hasilnya kepada target donasi.

Sayang, tak semua akun tersebut benar-benar menyalurkan donasi secara jujur. Ada yang menyalahgunakan uang donasi. Cak Budi misalnya. Uang donasi yang terkumpul sempat dibelikan iPhone 7 dan Toyota Fortuner. Namun, kemudian, kedua benda itu dijual seharga Rp 1,77 miliar dan hasil penjualannya diserahkan kepada lembaga amal Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Baca juga:

Selain kasus penyelewengan dana seperti terjadi pada Cak Budi, ada pula kejadian-kejadian di mana subyek dalam unggahan medsos tak sungguh-sungguh dalam kondisi memprihatinkan. Akun @dramaojol.id misalnya, sempat mengunggah kisah seorang tukang ojek tua bernama yang mengatakan hanya mampu menafkahi keluarganya sebesar Rp30 ribu.

Ojek tua itu tak bisa masuk perusahaan ojek online manapun karena faktor umur, sehingga terpaksa ngojek dengan pendapatan di bawah ojek online. Namun, admin@dramaojol.id kemudian mendapati fakta bahwa bapak tersebut tidak dalam kondisi sulit secara ekonomi. Mereka tergolong keluarga mampu, bahkan memiliki investasi tanah di kampung halaman.

Kisah selanjutnya diceritakan Awi (26). Ia pernah mengunggah ulang foto seorang penjual madu dari Serang dari sebuah akun penggalangan dana di Instagram. Foto tersebut memperlihatkan tangan kanan si penjual madu dibalut perban. Kabarnya karena jatuh saat memanen madu, dan barang dagangannya pun disebut hanya titipan. Penjua madu tersebut biasa berjualan keliling Jakarta dengan berjalan kaki.

Awi berhasil mengumpulkan dana dari beberapa teman dekatnya. Namun, belakangan, ia tahu penjual madu tergolong orang mampu. Ia punya satu mobil, beberapa motor, dan rumahnya pun permanen. Kenyataan tersebut diketahui sehari setelah Awi melakukan donasi, dari unggahan sebuah akun yang juga hampir melakukan donasi kepada Pak Hendi.

“Lemas waktu tahu. Memang salah, sih, melakukan penggalangan dana tanpa kroscek lebih dulu,” ujarnya kepada Tirto.

Empati dan kepedulian sosial adalah hal yang mulia. Namun, tentu bantuan sebaiknya benar-benar sampai bagi pihak yang sungguh membutuhkan. Lakukan upaya pengecekan sebelum kita merapal mantra "klik dan bagikan."

Baca juga artikel terkait DONASI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight