Advertorial

Donasi Bank DBS Indonesia Untuk Pekerja Harian Lepas

Oleh: Advertorial - 20 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Foodbank of Indonesia (FOI) dengan Bank DBS Indonesia, dan Temasek Foundation menyalurkan makanan siap saji bagi para pekerja harian lepas.
tirto.id - Di samping membuat banyak orang melek akan pentingnya Keberlanjutan, Inklusi Finansial dan tumbuh kembang Wirausaha Sosial, selama pandemi Covid-19, Bank DBS Indonesia juga kian menegaskan betapa pentingnya bahu-membahu memberikan dukungan untuk sesama. Betapa tidak, sebagai ujian bersama, setiap orang harus saling mendukung dan menguatkan dengan cara-cara yang mereka bisa, tidak terkecuali institusi. Hal inilah yang melandasi Bank DBS Indonesia menjalankan donasi “Stronger Together”.

Itulah yang terlihat pada kerja sama antara Foodbank of Indonesia (FOI) dengan Bank DBS Indonesia, dan Temasek Foundation. Melalui Stronger Together Fund, mereka menyalurkan makanan siap saji bagi para pekerja harian lepas.

Kolaborasi Mengurai Dampak Pandemi


“Kita harus menyadari bahwa untuk mengatasi pandemi ini perlu upaya kolektif semua pihak,” kata Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna. Paulus juga menggarisbawahi bahwa pihaknya berinisitaif dalam melakukan program melalui kemitraan ini karena “Stronger Together” bagi Bank DBS Indonesia bukan sekadar jargon, tapi spirit yang melandasi perusahaan.

FOI merupakan organisasi yang hadir untuk membantu mengatasi kesenjangan pangan di masyarakat. Dalam praktiknya, FOI menjadi jembatan antara masyarakat yang berlebihan makanan dengan masyarakat yang membutuhkan. FOI juga mendukung negara untuk memerangi kelaparan seperti yang ditargetkan oleh SDG’s (Sustainable Development Goals) nomor 2 yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.

Sejak pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, FOI mengkampanyekan gerakan “Mereka Butuh Kita” sebagai upaya menolong kelompok paling rentan di masyarakat dengan pangan. Pangan menjadi hal penting karena terkait dengan daya tahan tubuh dan keberlangsungan hidup.

“Kerjasama FOI dengan Yayasan Temasek, sektor swasta yang diwakili Bank DBS Indonesia menjadi lambang kedekatan Singapura dan Indonesia dalam mengelola persoalan sosial saat ini dan di masa depan secara bersama,” kata Hendro Utomo, pendiri FOI.

Benedict Cheong, Chief Executive Temasek Foundation International, mengungkapkan terima kasihnya atas kesempatan menjalin kemitraan dengan Bank DBS Indonesia, FOI, dan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia dalam kegiatan yang sarat makna.

“Pada masa yang penuh ketidakpastian ini, kita tetap perlu bersatu untuk membantu pihak-pihak yang terdampak Covid-19. Semoga upaya kolektif ini dapat mengurangi beban masyarakat dalam melewati masa- masa sulit,” katanya.

Masa sulit dalam hidup juga dialami oleh Choer Afandi, 39 tahun. Tak lama setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama, sosok kepala rumah tangga ini diberhentikan oleh kantornya, sebuah perusahaan swasta di ibu kota yang bergerak di bidang pengecekan jaringan seluler.


“Awal pandemi kan mesti kerja dari rumah, makanya saya mudik. Pada masa new normal, barulah saya kembali ke lapangan,” kata Choer, saat berbicang dengan Tirto.

Sebulan pertama, urusan di lapangan baik-baik saja. Memasuki bulan kedua, Choer mulai cemas terpapar virus Covid-19. Sebabnya, orang-orang di gedung-gedung yang ia sambangi mulai menunjukkan gejala Covid-19, antara lain sering bersin dan batuk-batuk. Penggemar Rhoma Irama ini pun memutuskan bekerja dari kontrakan dengan persetujuan supervisor.

“Sayangnya supervisor lainnya melihat bahwa kerja dari kontrakan itu sebagai suatu hambatan. Meski ada progres, saya masih dianggap belum bekerja maksimal, lalu diberhentikan tanpa mendapatkan gaji dan pesangon,” sambung Choer.

Nasib, kata penyair Chairil Anwar, adalah kesunyian masing-masing. Dan berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 7 April 2020, orang yang bernasib seperti Choer tidak sedikit. Ada 39.977 perusahaan di sektor formal yang telah merumahkan dan melakukan PHK terhadap pekerjanya, sehingga 1.010.579 pekerja merasakan langsung dampak pandemi ini.

Rinciannya, 873.090 pekerja dirumahkan oleh 17.224 perusahaan, sedangkan 137.489 pekerja dari 22.753 perusahaan kena PHK. Sementara itu, perusahaan dan tenaga kerja yang terdampak di sektor informal berjumlah 34.453 perusahaan dan 189.452 orang pekerja.

Bantuan yang diberikan Bank DBS Indonesia dan Temasek Foundation sangat bermanfaat bagi mereka yang kehilangan sumber penghidupannya. Tembem, pengemudi ojek online, mengamini pernyataan itu.

“Sekarang, sehari cuma bisa dapat tiga penumpang. Saya senang ada program pembagian makanan ini karena tak perlu mengeluarkan uang lagi untuk biaya makan. Penghasilan bisa buat anak dan istri di rumah” tutur Tembem.

Sesukar apa pun keadaan, seseorang pantang berputus asa. Secercah titik terang selalu ada, tentu saja, sepanjang manusia terus mau berusaha. “Mengemudikan ojek adalah mata pencaharian saya yang tetap harus dijalani dalam situasi sulit saat ini,” sambung Tembem.

Sementara motor dinyalakan dan lengan kanan bersiap menarik gas sebelum melanjutkan pekerjaan, Tembem tersenyum dan berkata lirih. “Terima kasih Temasek dan Bank DBS Indonesia. Semoga programnya lancar terus.”

Ungkapan semacam itu, di mata Paulus Sutisna, adalah bahan bakar yang membuat spirit Stronger Together Fund terus menyala. “Mari bersama-sama menyalurkan bantuan kepada pekerja harian lepas yang saat ini menghadapi tantangan berat,” pungkasnya.
DarkLight