Dompet Digital Semakin Banyak, Pengguna Belum Tentu Diuntungkan

Layanan Go-Pay di aplikasi GO-JEK. ANTARA News/Arindra Meodia
Oleh: Ahmad Zaenudin - 16 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Banyak pemain baru bermunculan dalam segmen dompet digital di Indonesia. Belum tentu menguntungkan konsumen.
tirto.id - Popularitas dompet digital di Indonesia tengah melonjak. Sepanjang semester pertama 2019, Bank Indonesia mencatat transaksi uang elektronik senilai lebih dari Rp56 triliun melalui berbagai platform, termasuk dompet digital. Perolehan setengah tahun ini melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya. Pada 2018 total uang elektronik yang ditransaksikan berada di angka Rp47 triliun dan setahun sebelumnya transaksi elektronik hanya berjumlah Rp12 triliun.

Bernard Ang, Head of Mobile Business Samsung Indonesia, mengungkapkan bahwa kini adalah era melesatnya transaksi mobile. Melihat fakta besarnya transaksi elektronik yang terjadi di Indonesia, Ang menyebut bahwa prestasi ini bahkan sukses mengangkangi PDB beberapa negara kecil.

Transaksi digital yang tumbuh pesat ini bagai bunga yang ditarget lebah. Hingga Mei 2019, ada 38 layanan dompet digital yang direstui pemerintah untuk beroperasi di Indonesia. Kini, di awal Oktober 2019, dunia dompet digital Indonesia kedatangan pemain baru dari penguasa ponsel pintar dunia Samsung melalui Samsung Pay.

Samsung Pay adalah dompet digital. Tapi berbeda dengan format dompet digital ala GoPay atau OVO, ia adalah dompet yang berguna untuk menyimpan uang dan kartu berharga milik penggunanya. Secara sederhana, Samsung Pay bisa dikatakan sebagai dompet digital dalam artian sebenarnya. “[Samsung Pay] bukan aplikasi uang elektronik, melainkan aplikasi yang memudahkan akses penggunaan uang elektronik,” ujar Denny Galant, Head of Product Management IT & Mobility Business Samsung Indonesia.

Samsung Pay hanya menawarkan kemudahan penggunaan uang elektronik yang disimpan via aplikasi ini. Di tahap awal, Samsung Pay bekerja sama dengan DANA dan GoPay. Nantinya, dengan “menyimpan” akun DANA dan GoPay, pengguna tidak perlu repot ketika hendak bertransaksi. Alih-alih membuka masing-masing aplikasi, yang menurut Samsung membutuhkan setidaknya lima tahap, pengguna yang telah mengkoneksikan DANA atau GoPay ke Samsung Pay dapat langsung bertransaksi digital hanya dalam dua tahap. Dalam istilah Samsung, dua tahap itu disebut 'Swipe Up & Pay'.

Ketika diluncurkan, hanya DANA yang benar-benar bisa diintegrasikan dengan Samsung Pay. Sementara integrasi dengan GoPay baru akan terjadi di awal 2020. Selain itu Samsung Pay kini hanya dapat digunakan di perangkat-perangkat Samsung, dari yang paling murah hingga yang paling mahal.

Di Indonesia, konsep dompet digital yang diusung Samsung cukup asing. Namun perusahaan teknologi dunia telah cukup banyak melakukannya. Tengok Google dan Apple yang masing-masing merilis Google Pay dan Apple Pay. Sebagaimana dilansir Cnet, Google Pay maupun Apple Pay dapat digunakan untuk menyimpan dan bertransaksi via kartu kredit dan kartu debit dari berbagai bank serta akun PayPal yang telah “disimpan” di dompet digital ini.


Dunia Dompet Digital yang Menggelembung

Masuknya Samsung ke segmen pembayaran digital terjadi tak lain karena besarnya potensi yang ada. Hingga akhir 2017, sebagaimana diwartakan Katadata, baru 48,9 persen penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening. Rendahnya tingkat kepemilikan rekening penduduk dewasa Indonesia berbanding lurus dengan penggunaan kartu debit atau kartu kredit. Dalam sebuah rilisannya, JP Morgan menyebut bahwa penetrasi transaksi kartu debit dan kredit Indonesia hanya berada di angka 0,59 per kapita dan 0,07 per kapita.

Bandingkan, misalnya, dengan kepemilikan ponsel pintar. Merujuk data dari Statista, 62,69 juta warga Indonesia merupakan pengguna ponsel pintar. Bahkan data lain yang dikutip Jakarta Post menyebut tingkat kepemilikan ponsel berada di angka 64,8 persen.

Di sisi lain, diinisiasi pesatnya e-commerce dan on-demand apps, transaksi digital seakan-akan tidak bisa dihindari. Bahkan beberapa perusahaan teknologi menjadi besar karena fenomena ini, misalnya Gojek. Pada 20 Desember 2017 Nadiem Makarim, pendiri Gojek, mengatakan GoPay menyumbang 30 persen dari total transaksi uang elektronik di Indonesia. Bila melihat dari sisi volume, saat itu ada 104,47 juta transaksi uang elektronik di Indonesia. Jika klaim Nadiem dikonversi, artinya GoPay menyumbang 31,34 juta transaksi uang elektronik Indonesia. Padahal saat itu telah ada 32 penerbit uang elektronik lain yang beroperasi di Indonesia.


Selain berebut potongan kue transaksi elektronik, tujuan perusahaan-perusahaan yang bermain di segmen ini adalah terkait big data. Samsung, Google, dan Apple, lewat platform masing-masing, ingin mengetahui lebih dalam terkait perilaku penggunanya.

Sebagaimana dilaporkan Next Web, pada September 2018 silam terungkap bahwa Google bekerja sama dengan Mastercard untuk mengetahui transaksi offline kartu debit/kredit yang dilakukan penggunanya. Data transaksi yang diperoleh kemudian dimasukkan oleh Google pada alat bernama “Store Sales Measurement” untuk menciptakan suatu metrik transaksi tiap pengguna.

Google mengklaim mereka menggenggam 70 persen pengguna kartu debit/kredit di Amerika Serikat. Kepemilikan data ini diyakini dilakukan untuk menciptakan personalisasi iklan yang lebih baik.

Dengan merilis dompet digital sendiri, yang bisa digunakan untuk “menyimpan” kartu debit/kredit hingga uang elektronik lainnya, data transaksi pengguna akan jauh lebih mudah diperoleh. Dengan demikian big data yang diciptakan untuk membuat perusahaan lebih mengenal penggunanya akan lebih sempurna.

Entah bermaksud hanya untuk mendulang untung atau terkait big data, aplikasi dompet digital atau uang elektronik atau apapun namanya menggelembung dalam hal jumlah di pasaran. Namun pemimpin Eksekutif DANA Vincent Iswara menegaskan bahwa fenomena banyaknya pemain di pasaran terjadi karena “pasar dompet digital masih sangat awal.” Lebih lanjut, Vincent meyakini bahwa semakin banyak pemain di segmen ini artinya akan semakin luas penetrasi ke semua daerah di Indonesia.

“Ini sebetulnya bagus,” tegas Vincent.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, penguasa segmen ini di Indonesia bisa disebut hanya GoPay dan OVO. GoPay menyumbang 31,34 juta transaksi uang elektronik Indonesia hingga akhir 2017, sementara OVO, sebagaimana dilansir KrAsia, memproses 250 ribu transaksi setiap hari.




Mengapa GoPay dan OVO berkuasa?

Dalam publikasi Think With Google berjudul “All Eyes On e-Money: The Race To Reach 180M Unbanked Indonesians,” dengan menyinggung soal jumlah kepemilikan rekening bank penduduk Indonesia, segmen dompet digital menyimpan potensi yang besar.

Masalahnya, publikasi tersebut mengungkapkan bahwa hanya 11 persen pengguna aplikasi dompet digital yang menjadi pengguna reguler. Paling besar, pengguna aplikasi di segmen ini tidak atau jarang menggunakannya untuk bertransaksi. Lalu, di hampir segala rentang usia, baik laki-laki maupun wanita, aplikasi dompet digital paling utama digunakan untuk membayar transportasi online dengan persentase lebih dari 40 persen. Mereka juga memilih bertransaksi menggunakan dompet digital dengan alasan diskon atau cashback.


Di Indonesia, yang transportasi online-nya dikuasai Gojek dan Grab, GoPay dan OVO jadi pilihan tak tergantikan. Vincent mengaku bahwa masih banyak yang harus dilakukan oleh DANA sebagai pemain baru. Kini, selain tersedia pada Bukalapak dan Lazada, ia tak menampik tengah berdiskusi dengan Gojek dan Grab untuk menghadirkan dompet digitalnya di penguasa transportasi online itu.

“DANA open platform kok. Kita terbuka untuk 3rd party apps untuk menggunakan dan membuka untuk semua (termasuk Gojek dan Grab),” urai Vincent.

Tanpa terintegrasi dengan layanan ride-sharing, pemain dompet digital lain akan sukar berebut pengguna. Banyaknya pemain baru membuat segmen ini sumpek dan kadang-kadang membingungkan pengguna. Seseorang yang ingin membeli kemeja flanel seharga Rp350.000 tidak bisa menggunakan uang elektronik karena tercecer Rp200.000 di Gopay, Rp100.000 di OVO, Rp25.000 di DANA, dan sisanya tertanam awet pada LinkAja.

Baca juga artikel terkait DOMPET DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight