Dolar Bikin Garuda & Maskapai Penerbangan Lain Megap-Megap

Oleh: Ringkang Gumiwang - 10 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Nilai tukar dolar terhadap rupiah yang dalam tren menguat hampir Rp15.000, membuat biaya operasional maskapai membengkak, termasuk Garuda.
tirto.id - Pada 16 Maret 1998 atau setelah sepekan menjabat sebagai Menteri BUMN, Tanri Abeng langsung dibuat panas dingin oleh Presiden Soeharto. Soeharto meminta Tanri untuk segera menyelamatkan Garuda Indonesia dari kebangkrutan, jelang dua bulan sebelum dirinya lengser.

“Ini Garuda akan dibangkrutkan oleh krediturnya. Tugas Saudara menyelamatkannya agar Garuda tidak di-grounded karena Garuda membawa bendera Republik,” kata Soeharto kepada Tanri dikutip dari buku “Pak Harto: The Untold Stories” (2011:205).

Tanri langsung mempelajari berkas-berkas Garuda yang diberikan oleh Soeharto saat di dalam mobil. Ia kaget Garuda sudah tujuh tahun merugi. Parahnya, selama tujuh tahun itu kerugian yang ditanggung Garuda harus ditutupi dengan utang dolar. Utang Garuda kian membengkak kala nilai tukar dolar terhadap rupiah sudah meroket menjadi Rp15.000 per dolar AS pada 1998.


Kini, kondisi Garuda setelah 20 tahun kemudian relatif mirip. Garuda masih mencatatkan rugi, pada kuartal II-2018, maskapai pelat merah ini membukukan rugi bersih senilai US$114 juta. Angka kerugian Garuda itu masih jauh lebih baik ketimbang periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal II-2017, nilai kerugian Garuda tercatat US$284 juta atau turun 39 persen. Namun, upaya untuk membalikkan keadaan Garuda menjadi untung agaknya cukup sulit. Ini karena kurs dolar terus merangkak naik. Kurs dolar sempat menembus Rp14.927 per, atau naik sekitar 10 persen dari awal tahun.

“Tekanan kurs dolar kepada Garuda tahun ini memang besar, meskipun kita sudah hedging. Ditambah lagi, harga fuel meningkat,” kata Ikhsan Rosan, Senior Manager Public Relations Garuda Indonesia kepada Tirto.


Nilai tukar dolar terhadap rupiah yang merangkak naik memang menjadi ancaman, tak hanya Garuda, tetapi juga maskapai penerbangan lainnya. Hal itu dikarenakan sebagian beban usaha maskapai dibiayai oleh dolar AS. Biaya-biaya yang dibiayai dengan dolar AS antara lain seperti sewa pesawat, suku cadang, asuransi, pelatihan karyawan, utang dan lain sebagainya. Dari sejumlah komponen biaya itu, kebutuhan dolar paling tinggi adalah dari sewa pesawat dan suku cadang.

Namun, ada juga komponen biaya yang juga terpengaruh oleh kenaikan kurs dolar terhadap rupiah, di antaranya adalah bahan bakar pesawat atau avtur. Di maskapai, rata-rata avtur menyumbang 30-40 persen dari total biaya operasional.

“Biaya bahan bakar juga meningkat karena kenaikan kurs dolar, meskipun bayarnya rupiah. Kalau ditotal, rata-rata 70 persen dari total biaya maskapai itu terpengaruh dolar, baik langsung maupun tidak langsung,” jelas Bayu Sutanto, Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal INACA kepada Tirto.

Tekanan dolar terhadap komponen biaya pada masing-masing maskapai tentunya berbeda, tergantung kebutuhan dan efisiensi. Untuk Garuda misalnya, biaya operasional yang terpengaruh dolar lebih tinggi dari rata-rata perkiraan INACA, yakni 75 persen dari total biaya operasional.



infografik efek dolar bagi maskapai


Di sisi lain, maskapai penerbangan memiliki tambahan pendapatan dari nilai tukar dolar yang menguat. Pendapatan maskapai tidak hanya berbentuk rupiah, tetapi juga turut meraup dolar, terutama ketika melayani penerbangan internasional. Garuda misalnya, sekitar 40 persen dari total pendapatan maskapai berupa rupiah. Sementara sisanya disumbang dari dolar AS. Tambahan pendapatan dari selisih kurs sepanjang semester I-2018 tercatat senilai US$31,38 juta.

Sayang, tambahan pendapatan dari selisih kurs tersebut belum mampu menolong Garuda untuk membukukan laba. Mulai 28 Oktober 2018, Garuda menghentikan penerbangan Jakarta-London karena alasan sepi penumpang. Artinya potensi mendapatkan pemasukan dari dolar makin berkurang.

Berdasarkan hitung-hitungan Garuda, perubahan kurs ini justru lebih banyak menggerus laba. Berdasarkan laporan keuangan Garuda pada kuartal II-2018 (hlm 120), setiap kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah sebesar 100 basis point, akan menggerus laba setelah pajak sebesar US$3,69 juta.

AirAsia Indonesia juga meraup tambahan pendapatan dari selisih kurs. Berdasarkan laporan keuangan pada kuartal II-2018, AirAsia berhasil meraup tambahan pendapatan dari selisih kurs senilai Rp97,38 miliar. Namun, seperti halnya Garuda, tambahan pendapatan dari selisih kurs itu juga tidak cukup menolong AirAsia untuk dapat menghindari rugi bersih pada kuartal II-2018, yakni rugi Rp421,33 miliar.

Revisi Tarif Angkutan Udara


Seiring dengan tekanan yang bertubi-tubi kepada maskapai penerbangan, INACA mengusulkan agar tarif batas tarif batas bawah penumpang pelayanan kelas ekonomi dinaikkan menjadi 40 persen dari tarif batas atas, dari sebelumnya hanya 30 persen. Menurut INACA, penyesuaian tarif perlu dilakukan mengingat harga avtur dan nilai tukar dolar terhadap rupiah belakangan ini terus meningkat. Khusus untuk avtur, rata-rata harga avtur saat ini sudah di atas Rp9.729 per liter.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan 14 No. 2016 (PDF) yang mengatur tarif batas atas dan bawah angkutan udara, penyesuaian tarif bisa dilakukan apabila harga avtur di atas Rp9.729 per liter, selama tiga bulan berturut-turut.

Harga avtur dari Pertamina saat ini, rata-rata harga avtur memang sudah di atas Rp9.729 per liter. Di Bandara Soekarno-Hatta, harga jual avtur sudah menembus Rp8.920 per liter, dan belum memasukkan PPN 10 persen dan pajak penghasilan 0,3 persen. Harga avtur di Bandara Juanda Surabaya sebesar Rp9.590 per liter, Bandara Kualanamu Medan Rp9.940 per liter, Bandara Hasanuddin Makassar Rp10.260 per liter, dan Bandara Ngurah Rai Bali Rp9.740 per liter.

Usulan penyesuaian tarif itu belum terealisasi oleh pemerintah. Pemerintah memangkas usulan INACA dari 40 persen menjadi 35 persen. “Pemerintah memang lambat kalau bicara penyesuaian tarif. Sudah dipotong 5 persen juga masih belum ada kabar. Padahal, maskapai sudah megap-megap karena kurs dolar dan avtur ini,” kata Arista Atmadjati, Direktur Arista Indonesia Aviation Center (AIAC).

Penguatan kurs dolar terhadap rupiah makin membuat turbulensi bisnis penerbangan, ujung-ujungnya ada yang harus dikorbankan, risiko kenaikan tarif penerbangan yang harus ditanggung konsumen sebuah keniscayaan dalam waktu dekat.

Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra