18 Januari 1985

Doel Arnowo, Ia yang Menyimpan Rahasia Terbunuhnya Brigjen Mallaby

Ilustrasi Mozaik Doel Arnowo. tirto.id/Nauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 18 Januari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Doel Arnowo mengawal pembentukan pemerintahan sipil di Surabaya setelah merdeka. Ikut membidani lahirnya BKR Surabaya dan menjadi saksi terbunuhnya Mallaby.
Pada 18 Januari 1985, tepat hari ini 35 tahun silam, Doel Arnowo meninggal dunia. Masyarakat Jawa Timur, terkhusus Surabaya, agaknya tak terlalu asing dengan namanya. Kiprahnya moncer ketika mengawal pembentukan pemerintahan sipil di Surabaya di bulan-bulan awal kemerdekaan.

Di masa itu dia adalah orang nomor satu di Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Surabaya. Perannya sering disebut ketika tentara Inggris tiba di Surabaya untuk melucuti senjata Jepang dan membebaskan interniran Sekutu serta, terutama, di sekitar peristiwa terbunuhnya perwira senior Inggris Brigadir Jenderal Mallaby yang kemudian memicu Pertempuran 10 November 1945.

Semuanya bermula dari perselisihan soal cara-cara pelucutan senjata Jepang dan pembebasan interniran perang. Tindakan-tindakan tentara Inggris yang arogan dengan menyebarkan pamflet ancaman bikin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kelompok-kelompok pemuda Surabaya melawan. Ketika kedua pihak tak menemukan kata sepakat, yang terjadi kemudian adalah kontak senjata. Itulah yang terjadi di Surabaya selama 27-29 Oktober 1945.

Kekacauan sempat mereda setelah datangnya rombongan Presiden Sukarno bersama Mayor Jenderal D.C. Hawthorn ke Surabaya pada 29 Oktober untuk menginisiasi perundingan. Sebuah kesepakatan gencatan senjata antara tentara Inggris dan pejuang Surabaya akhirnya tercapai keesokan harinya, 30 Oktober, setelah melalui perundingan yang alot.

“Selesai perundingan siang hari itu, maka sekira pukul 1.00 siang Bung Karno cs dan Jenderal Hawthorn cs berangkat kembali ke Jakarta. Dengan selamat mereka dapat kita antarkan ke lapangan terbang Morokrembangan, di tengah-tengah tembakan yang di sana-sini masih terjadi,” tulis Roeslan Abdulgani dalam memoar 100 Hari di Surabaya (1975: 40).

Tapi hari itu belum berakhir. Perundingan juga menghasilkan pembentukan Kontak Biro sebagai penghubung di antara kedua pihak. Dari pihak Inggris ada Brigadir Jenderal Mallaby yang masuk dalam badan ini. Sementara di pihak Indonesia ada tokoh-tokoh senior Surabaya seperti Doel Arnowo, Residen Sudirman, dan beberapa tokoh lain termasuk Roeslan Abdulgani.

Kini tugas untuk memastikan eksekusi hasil-hasil perundingan menjadi tanggung jawab Kontak Biro ini. Maka sore itu juga Kontak Biro memutuskan berkeliling kota untuk memadamkan kontak senjata yang masih terjadi di beberapa titik. Salah satu tembak-menembak yang paling sengit terjadi Gedung Bank Internatio di dekat Jembatan Merah.

Di luar Gedung Internatio puluhan anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kelompok pemuda mengepung gedung yang diduduki satuan tentara Gurkha itu. Rombongan Kontak Biro lantas berhenti di sana untuk mencoba menghentikan pengepungan.

“Saya melihat Cak Dul Arnowo yang namanya terkenal di kalangan masyarakat Surabaya, berusaha menenangkan rakyat dengan berdiri di atas kap mobil sebagai tempat berpidato. Tampaknya Cak Dul Arnowo berhasil sedikit menentramkan suasana,” ujar Mohamad Mangoendiprdjo, salah satu pimpinan TKR Jawa Timur yang juga anggota Kontak Biro, sebagaimana dikutip Barlan Setiadijaya dalam 10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia (1992: 427).


Meski begitu massa tak mau bubar dan menuntut tentara Inggris segera menyerah. Untuk menghindari kericuhan lebih lanjut, akhirnya diputuskan bahwa perwakilan Kontak Biro akan masuk dan bernegosiasi dengan tentara Inggris.

Petang sudah menjelang ketika perwakilan Kontak Biro masuk ke Gedung Internatio. Sepuluh menit kemudian salah seorang perwakilan keluar gedung dan memberi isyarat bahwa negosiasi tak berjalan lancar. Sekonyong-konyong sebuah granat terlempar dari dalam gedung dan diikuti serentetan tembakan.

Para anggota Kontak Biro dan massa sama sekali tak menduga akan mendapat serangan mendadak. Padahal Brigjen Mallaby berada di luar gedung bersama mereka. TKR dan massa pemuda Surabaya tentu saja membalas lagi serangan itu. Sementara itu Doel Arnowo dan Roeslan meloncat ke Kali Mas untuk berlindung.

Di tengah sengitnya tembak-menembak dan ledakan granat, tiba-tiba seorang pemuda meloncat ke dekat tempat Doel Arnowo berlindung.

“Sudah beres, Pak,” bisik pemuda itu kepadanya.

Sesaat Doel Arnowo keheranan atas maksud perkataan pemuda itu.

“Apa yang sudah beres?” tanyanya balik.

“Jenderal Inggris Pak. Mobilnya meledak dan terbakar,” jawab pemuda itu. “Ada granat yang meledak dari dalam mobil, tapi dari pihak kitapun ada yang menembak ke arah mobil tersebut.”

Doel Arnowo dan Roeslan kaget mendengarnya. Kematian Mallaby jelas akan membawa konsekuensi buruk bagi rakyat Surabaya. Reaksi mereka tak bisa lain hanya memperingatkan pemuda itu untuk tutup mulut. Siapa pembunuh sebenarnya Brigjen Mallaby pun tak pernah terungkap hingga bertahun kemudian. Kisah ini tak pernah disinggung lagi oleh Doel Arnowo, setidaknya hingga awal 1970-an.

“Demi kepentingan politik selama hampir 40 tahun Doel Arnowo merahasiakan pengakuan pemuda tersebut. Di kemudian hari setelah Doel Arnowo membuka rahasia itu tanpa menyebut nama pemuda penembaknya, di sejumlah media massa tampil beberapa nama orang yang mengaku dirinya sebagai penembak Mallaby, tetapi hal itu sulit dibuktikan kebenarannya,” tulis Moehkardi dalam biografi R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya (1993: 100).


Orang Lama dalam Arena Politik Lokal Surabaya

Doel Arnowo lahir di Kampung Genteng, Surabaya pada 30 Oktober 1904. Arnowo, sang ayah, memberinya nama Abdoel Adhiem.

Cak Doel hanya sempat menyelesaikan sekolah Middelbare Technische School (MTS) kelas dua. Setelah itu ia jadi orang partikelir sebelum akhirnya diterima menjadi pegawai Kantor Pos Surabaya pada 1921. Sambil bekerja Cak Doel juga mulai aktif berorganisasi.

Pada 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) berdiri, ia masuk partai itu. Karier organisasinya yang semakin moncer justru berbanding terbalik dengan karier profesionalnya. Pada 1933 ia bahkan terpaksa berhenti kerja.

“Oleh pemerintah Hindia Belanda disuruh memilih salahsatu. Tetap pegawai Kantor Pos atau aktif di partai politik,” kata Cak Doel sebagaimana dikutip harian Kompas (4 Maret 1979).


Jadi kembalilah Cak Doel pada kehidupan partikelir dan lebih giat dalam aktivisme politik. Bermodal mesin cetak kecil seharga 80 gulden, Cak Doel dan kawan-kawan aktivisnya menerbitkan surat kabar Berdjoeang. Lain itu ia juga menulis buku politik berjudul Kamoes Marhaen. Buku itu semacam ensiklopedia kecik dwibahasa (Belanda-Indonesia) tentang politik dan perjuangan.

Semua aktivitas itu rupa-rupanya bikin pemerintah kolonial marah. Pada April 1934 Cak Doel jadi sasaran penangkapan intelijen politik kolonial. Usaha penerbitannya pun ikut digulung. Pertama kali ia ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya dan kemudian setelah vonis dijatuhkan ia mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung. Tapi hukuman itu justru mempertebal elan politiknya.

“Di situlah ia berkenalan dengan beberapa tokoh pergerakan dari berbagai daerah, sekitar 22 politikus yang dijebloskan ke penjara,” tulis Kompas.

Lepas dari penjara pun Cak Doel tidak kapok juga aktif di dunia pergerakan, bahkan hingga Belanda ditundukkan Jepang. Atas bantuan kawan-kawan lamanya, Cak Doel lalu diangkat jadi pegawai Kantor Propaganda Jepang. Tugas sehari-harinya adalah menyensor berita-berita yang terbit di surat kabar lokal Surabaya.

Dasar aktivis politik, lagi-lagi Cak Doel terlibat dalam pergerakan kemerdekaan bawah tanah. Gara-gara ini pula sekali lagi ia musti merasai dinginnya lantai penjara. Tapi tak lama setelah hukumannya berakhir ia kembali lagi bekerja di kantor pemerintah. Moehkardi dalam bukunya menyebut bahwa di masa pendudukan Jepang Cak Doel sempat diangkat menjadi anggota Shu Sangikai Surabaya—semacam dewan penasihat pemerintah kota.

“Dalam proses berikutnya, ia diserahi tugas mengorganisir pemuda-pemuda yang masuk PETA serta mengorganisir bantuan untuk para keluarga PETA. Karena tugas yang diberikan oleh ‘Hokokai’ (organisasi perjuangan saat itu) tersebut Doel Arnowo harus sering bepergian ke daerah-daerah,” tulis Kompas.


Dalam Gejolak Revolusi

Dengan segala sepak terjangnya dalam pergerakan dari era kolonial sampai pendudukan, tak heran Cak Doel dengan mudah terserap dalam lingkaran pimpinan elite Surabaya—juga Jawa Timur—usai kemerdekaan. Di bulan-bulan awal kemerdekaan itu ia aktif mengawal pembentukan pemerintahan sipil di Surabaya.

Barlan dalam bukunya menyebut bahwa mulanya Cak Doel, yang akrab dengan kelompok-kelompok pemuda, ikut bergabung dalam Panitia Angkatan Muda. Ia memimpin gerakan memperbanyak berita proklamasi dan menyebarkannya ke seantero Surabaya. Doel Arnowo lantas dipilih sebagai Ketua KNI Surabaya pada 27 Agustus 1945.

Baru sehari ia langsung tancap gas dengan menerbitkan seruan agar warga Surabaya mengibarkan bendera Merah Putih selama dua hari pada 29 dan 30 Agustus. Itu sebagai simbolisasi dukungan warga Surabaya menyambut sidang pertama KNI Pusat. Maka terjadilah apa yang di kemudian hari disebut “Vlag-gen Actie” di sejumlah gedung pemerintahan yang sempat pula menimbulkan ketegangan dengan tentara Jepang.

“Sekalipun kemudian ada Residen Soedirman dan Gubernur Soerjo, tokoh kuat Surabaya, tetapi Doel Arnowo tetap menjadi pusat pimpinan dan penggerak revolusi Surabaya. Waktu itu, tak ada satu gudang pun yang dikuasai buruh dapat dibuka tanpa persetujuan Cak Doel (sebutan akrab Doel Arnowo) dan tidak ada serbuan ke markas dan tangsi Jepang tanpa setahu Doel Arnowo,” tulis Moehkardi dalam bukunya (hlm. 58).


Cak Doel kemudian disibukkan dengan proses pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Untuk keperluan ini KNI mengumpulkan para mantan perwira PETA daerah Surabaya untuk berapat di Kaliasin 121. Hasil pertama pertemuan ini adalah terbentuknya Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang lagi-lagi diketuai oleh Doel Arnowo.

Rapat lantas dilanjutkan dengan agenda pembentukan BKR. BKR—yang kemudian berubah jadi TKR—punya fungsi utama sebagai penjaga keamanan umum di daerah-daerah. Pemerintah pusat sendiri menetapkan tidak ada BKR pusat, sehingga kemudian BKR Surabaya berada di bawah komando KNI Surabaya.

“Dalam rapat ini Ketua Doel Arnowo menjelaskan situasi negara umumnya yang terancam bahaya, dan menggariskan cara-cara perjuangan selanjutnya. Dianjurkan agar para bekas PETA masing-masing mengadakan kontak dengan para bekas anak buahnya, memanggil untuk membela tanah air,” tulis Barlan dalam bukunya (hlm. 127).

Ketika tentara Inggris mulai mendarat di Surabaya pada 25 Oktober, makin sibuklah Cak Doel. Sebagai Ketua KNI Surabaya ia musti selalu siap sedia dalam berbagai perundingan. Di masa-masa yang penuh emosi dan euforia seperti saat itu, bukanlah tugas mudah mengontrol kelompok-kelompok pemuda dengan serbaneka ideologi dan aspirasi.


Maka tak jarang Cak Doel dihadapkan pada situasi pelik seperti terbunuhnya Brigjen Mallaby hingga menanggapi ultimatum bumi hangus oleh tentara Inggris kemudian. Ia tak kuasa mencegah pertempuran 10 November 1945 yang mencerai-beraikan kekuatan revolusi di Surabaya. Cak Doel sempat terusir dari kota kelahirannya dan mengungsi ke Nganjuk. Ia juga pernah disergap tentara Belanda dan ditahan pada 1949.

“Dan yang tak kalah pentingnya Doel Arnowo juga pegang peranan ketika Negara Jawa Timur menyatakan membubarkan diri dan bergabung dengan Republik Indonesia. Hal itu terjadi tanggal 25 Pebruari 1950,” tulis Kompas.

Habiskah kiprah Cak Doel sampai di situ? Tentunya tidak.

Setelah revolusi usai, ia dipilih sebagai Wali Kota Surabaya dan menjabat dari Maret 1950 hingga Februari 1952. Pengabdiannya lalu berlanjut di Departemen Dalam Negeri hingga pensiun pada 1958.

Baca juga artikel terkait PERTEMPURAN SURABAYA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight