Dirut Garuda: Saat New Normal, Tarif Terbang Bakal Lebih Mahal

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 3 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan ongkos terbang pada masa new normal atau kelaziman baru akan lebih mahal karena ada physical distancing selama pandemi COVID-19.
tirto.id - Ongkos terbang pada masa new normal atau kelaziman baru akan lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan formula yang ditetapkan pemerintah agar bisnis bisa tetap bertahan di tengah pandemi membutuhkan social distancing sebagai salah satu protokol kesehatan.

Kapasitas penumpang dalam setiap penerbangan hanya diperbolehkan terisi 50 persen. Maka Kementerian Perhubungan harus mengkaji harga tiket pesawat.

"Garuda tetap mempertahankan [physical] distancing di pesawat. Akibat dari ini semuanya tentu punya masalah dari segi bisnis dan ekonomi. Kami komunikasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan industri ini punya nafas, paling tidak tetap memperoleh keuntungan," jelas dia dalam sebuah diskusi, Selasa (2/6/2020).

Pengkajian harga tiket pesawat merupakan strategi agar maskapai penerbangan nasional tetap bisa bertahan di tengah pandemi. Irfan menjelaskan, jika usulan harga tiket pesawat naik dikabulkan dan akan membuat jumlah penumpang turun drastis.

Ia mengakui harus melakukan kebijakan tersebut, karena dampak Corona ke maskapai penerbangan jauh lebih parah dari dugaan. Bahkan ia menyebut, Garuda baru bisa recovery pada tahun ke tiga usai pandemi teratasi.

"Adalah kepentingan bersama, bersama regulator untuk memastikan ini butuh waktu. Kami mendapatkan konsensus, industri ini bisa recovery sebelum COVID-19 dalam masa dua sampai tiga tahun,” katanya.

Selain meminta kaji ulang harga tiket pesawat selama menuju era new normal. Irfan menjelaskan, biaya persyaratan terbang juga sama mahalnya.

Masyarakat yang akan terbang diwajibkan memiliki surat tes polymerase chain reaction (PCR) sebagai bukti negatif corona agar bisa diangkut oleh maskapai. Biaya tes tersebut sudah jutaan, maka dari itu ia mewanti-wanti pada masyarakat yang akan bepergian di tengah kondisi pandemi.

“PCR test yang 2,5 juta dan beberapa sudah menurunkan harganya, itu lebih mahal daripada biaya bepergian khususnya lokasi yang berdekatan, seperti Jakarta-Surabaya. Jadi, apalagi kalau bepergian tujuh hari yang berarti harus PCR dua kali dan bianya harus Rp5 juta sementara perjalanan bolak balik hanya Rp1,5 juta,” jelas dia.

Ia mengatakan masyarakat yang kerap kali sering melakukan penerbangan pun masih menunggu keadaan untuk kembali pulih.

“COVID ini juga membuka kita melihat peluang dengan memahami perilaku costumer. Kami lakukan riset kecil-kecilan terhadap kita punya GA Miles dan dari riset ini berkeinginan tetap pergi. Tapi yang mengagetkan 65 persen dari responden menyatakan posisinya ‘wait and see’,” kata dia.

Strategi lain yang dilakukan Garuda Indonesia untuk bertahan yaitu, pihaknya terus mengupayakan sektor jasa logistik agar tetap bisa beroperasi.

Garuda Indonesia Group melalui lini usaha transportasi dan logistik-PT Aerojasa Cargo secara resmi meluncurkan KirimAja. Layanan pengiriman barang ini berbasis aplikasi digital dengan jangkauan pengiriman barang ke sejumlah destinasi penerbangan yang dilayani oleh seluruh armada Garuda Indonesia, Citilink Indonesia maupun Aerojasa Cargo.

"Bisnis layanan logistik dengan memperkenalkan KirimAja merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital," jelas dia

Perkembangan pesat industri e-commerce di Indonesia serta munculnya tren baru pada era new normal, menjadikan sektor layanan logistik memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat akan layanan pengiriman barang secara cepat, tepat, dan efisien.

"Kirim Aja kami harapkan dapat menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat maupun sektor UMKM yang membutuhkan layanan pengiriman barang secara online yang didukung oleh layanan kargo udara yang terpercaya, baik dari sisi akurasi waktu pengiriman, keamanan paket, hingga tarif yang kompetitif," ungkap dia.

Lebih lanjut Irfan menjelaskan, KirimAja juga turut didukung oleh business model berbasis komunitas yang tidak hanya semakin mendekatkan layanan kepada masyarakat. Namun juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat yang bergabung sebagai agen pengiriman melalui program Sohib KirimAja.

Saat ini telah terdapat agen Sohib KirimAja yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang dapat melayani pengiriman barang sampai dengan alamat tujuan pengiriman.

Saat ini KirimAja dapat melayani pengiriman barang umum, mulai dari produk fashion, barang elektronik, perlengkapan rumah tangga, makanan kering, hingga produk non-perishable lainnya. Ke depannya, “Kirim Aja” akan turut mengembangkan kapasitas layanan lainnya, khususnya untuk segmentasi pengiriman makanan dengan durasi pengiriman yang lebih singkat.


Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Maya Saputri
DarkLight