Diplomasi Indomie

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 22 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Sejak dilantik pada Oktober 2014 silam, Presiden Jokowi memberi titah kepada para dubes untuk tak hanya menjalankan tugas diplomasi, tetapi juga berperan sebagai agen perdagangan produk-produk asli Indonesia. Jauh sebelum titah itu muncul, Indofood sudah melakukannya. Perusahaan milik Salim Group itu sudah melebarkan sayapnya, mengenalkan rasa Indonesia ke berbagai belahan dunia.
tirto.id - Jumat awal September, sinar matahari bersinar cerah di Indjija, sekitar 80 kilometer dari ibukota Serbia, Beograd. Tak seperti biasanya, kota kecil dengan populasi 25 ribu penduduk itu itu tiba-tiba ramai oleh kedatangan Presiden Serbia Tomislav Nikolic yang didampingi sang walikota Vladimir Gak. Keduanya akan ikut meresmikan pabrik mi instan Indomie milik PT Indofood Sukses Makmur.

Nilai investasi yang ditanam oleh Indofood di Serbia cukup besar, yakni mencapai 11 juta euro. Dikutip dari unggahan resmi KBRI Beograd di laman Facebook-nya, pabrik mi instan yang digemari banyak orang itu berada di atas tanah seluas 5 hektare. Kapasitas produksinya mencapai 500.000 kardus/box Indomie per bulan dan didistribusikan ke seluruh wilayah Eropa. Sejak beroperasi pada bulan Agustus kemarin, pabrik tersebut telah menyerap ratusan tenaga kerja di Serbia yang mayoritas adalah anak-anak muda.

Bersaing dan Berekspansi

Bertahannya Indofood di kancah persaingan mi instan di Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah strategi, salah satunya ialah dengan mengandalkan jalur distribusinya yang sudah mumpuni. Indomie juga memiliki cita rasa yang kuat, khas, dan makin hari makin banyak pilihan rasa. Dua faktor itu sudah cukup untuk menjadikan Indomie sebagai salah satu produk makanan cepat saji yang paling digemari masyarakat Indonesia.

Tetapi kedigdayaan ini bukannya tanpa penantang. Pangsa pasar Indofood secara perlahan tergerus oleh pesaing-pesaing baru. Berdasarkan laporan datacon.co.id, Indofood sempat menguasai 90 persen pangsa pasar mi instan pada 2009. Namun, angkanya terus susut hingga kini menjadi hanya 72 persen.

Salah satu pesaing utama Indofood adalah produk Wings Food. Perjuangan Wings Food untuk meraih pangsa pasar juga tidak mudah. Sejak Mie Sedaap diluncurkan pada 2003, baru pada 2011 Wings Food bisa merebut pangsa pasar dengan jumlah yang cukup berarti.

Berdasarkan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR), Wings Food mengalahkan Indofood. Selama periode 2003 – 2013, CAGR pendapatan “raja mi instan” hanya 10 persen per tahun. Sementara Wings mencatatkan pertumbuhan lebih signifikan yakni hingga 26 persen. Pemain lain rata-rata hanya tumbuh 7 persen.

Namun, harus diakui jika bertahannya Indomie di kancah persaingan mi instan dalam negeri juga berkat citra produknya yang “Indonesia banget” (dari namanya saja mengandung kata 'Indo'). Atas pangsa pasarnya yang meluas hingga ke luar negeri, Indomie menjadi satu dari sedikit brand asli Indonesia yang mampu melebarkan pasar di tingkat internasional serta sukses meraih pundi-pundi keuntungan di banyak negara.

Sekurang-kurangnya ada 80 negara yang menjadi tujuan ekspor Indomie. Wilayah penjualannya meliputi tak hanya di Asia, namun juga di Eropa, Amerika Utara, Australia, hingga ke negara-negara Afrika. Untuk memudahkan proses distribusi, Indofood juga membangun pabrik Indomie di sejumlah negara. Pabrik Indomie tersebar antara lain di Saudi Arabia, Suriah, Mesir, Malaysia, hingga di Nigeria.

Pabrik Indomie di Nigeria telah ada sejak lebih dari 20 tahun yang lalu dan Indomie telah menjadi produk mi instan yang sangat populer di Nigeria. Saking populernya, banyak warga Nigeria yang menyangka bahwa Indomie adalah brand negara mereka. Kabarnya, pabrik Indomie di Nigeria adalah produsen mi instan terbesar di kawasan Afrika Barat.

Infografik HL MI


Kala Dubes Jualan Mi Instan

Jauh sebelum pabrik Indomie eksis di Serbia demi memanjakan lidah para pecinta mi di daratan Eropa, sekitar satu tahun yang lalu ekspansi Indomie telah menyasar wilayah Afrika. Sebagai produk unggulan Indonesia, maka eksistensi Indomie di sejumlah negara juga tak lepas dari campur tangan pejabat KBRI negara yang bersangkutan. Mereka berupaya melaksanakan titah Presiden Jokowi yang berharap para dubes tak hanya menjalankan fungsi diplomasi, namun juga mengenalkan produk asli Indonesia di negara tempat sang dubes bekerja.

Awal Mei 2015 Dubes RI untuk Kerajaan Maroko dan Republik Islam Mauritania, Syarief Syamsuri, mengunjungi kantor pemasaran Indomie di Casablanca, Maroko, yang waktu itu akan membangun pabrik Indomie di kawasan Ain Johra Industrial state di Tiflet, Maroko.

Sekretaris Tiga KBRI Rabat, Muhammad Hartantyo kepada Antara London, Sabtu (9/5/2015) mengatakan pembangunan pabrik sudah dimulai sejak bulan Januari 2015 dan akan mulai memproduksi akhir triwulan tiga tahun 2015. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik Indomie terbesar di seluruh dunia di luar Indonesia.

Indomie telah memasuki pasar Maroko sejak enam tahun lalu dengan membentuk Indo Morocco Company, suatu kemitraan antara Sawaz Group (Salim grup dan Wazaran/Arab Saudi Grup) dengan perusahaan lokal Maroko LINA yang dimiliki oleh pengusaha Abdullah Ghozy.

Dubes RI Rabat Syarief Syamsuri, secara khusus mengunjungi kantor penjualan dan pemasaran Indomie Indo Morocco Company SA yang dipimpin WNI Dirut Mufli Zaumar dan Direktur Keuangan dan Administrasi Ahmad Sidikki. Mereka ingin memahami permasalahan yang dihadapi serta mengetahui secara langsung rencana investasi Indofood membangun pabriknya di Maroko.

Di Mesir pabrik Indomie telah menciptakan lapangan kerja bagi 1.000 warga lokal. General Manager Indomie produksi Mesir Gunawan Harianto mengatakan bahwa, "Lapangan kerja yang diserap pabrik patungan Indomie tercatat 1.000 karyawan, terdiri atas 400 orang di bagian produksi, dan 600 orang lagi di bagian distributor."

Kehadiran pabrik mie instan di Negeri Piramida itu merupakan perusahaan patungan Indonesia-Mesir, Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd. Menurut Gunawan setiap hari pihaknya memproduksi 1,2 juta bungkus Indomie untuk pasar lokal Mesir. "Perusahaan ini hadir di Mesir sejak 10 tahun lalu, namun secara efektif berproduksi pada 2009," imbuhnya.

Atase Perdagangan KBRI Kairo, Burhan Rahman, mengatakan bahwa Menteri Agama Mesir Mohamed Mokhtar Goumah selalu menyediakan stok Indomie di rumahnya. Menurut beberapa warga negara Indonesia, sebelum pabrik Indomie hadir di Mesir, makanan khas Indonesia siap saji itu biasanya menjadi oleh-oleh favorit bagi WNI yang baru kembali dari Tanah Air maupun dari ibadah haji atau umrah di Arab Saudi.

Apa benar sedemikian larisnya Indomie di Mesir? Kira-kira ada berapa banyak konsumennya? Pertanyaan tersebut barangkali bisa terjawab lewat salah satu promosi Indomie berbahasa Mesir berikut ini:

"Aktsar min milion Masry biyakul Indomie kulli yaum...” yang artinya, “Lebih dari satu juta warga Mesir menyantap Indomie..."

Baca juga artikel terkait EKSPANSI PASAR KE EROPA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight