Dine & Fly: Asyiknya Terbang & Berpura-pura Corona Tak Pernah Ada

Ilustrasi Naik Pesawat Saat Pandemi. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Manusia adalah mahluk sosial sehingga bisa nekat menerabas lockdown.
Suatu hari pada bulan Agustus, tulis Tariro Mzezewa untuk The New York Times, “seorang DJ stasiun radio Kristal FM di Brunei Darussalam bernama Nadzri Harif menginjakkan kaki di bandara untuk pertama kalinya dalam enam bulan.”

Namun, bukannya mengikuti rombongan orang di seluruh dunia yang kembali menginjakkan kaki di bandara untuk pulang ke tempat asal masing-masing setelah terjebak pembatasan sosial (lockdown), Harif punya niat berbeda.

Harif kembali menginjakkan kaki di Brunei International Airport dan duduk di kabin Royal Brunei Airlines--maskapai milik Pemerintah Brunei Darussalam--untuk terbang tanpa tujuan. Ia, benar-benar hanya terbang untuk kembali ke tempat asal pesawat lepas landas melalui program bernama “Dine and Fly” yang khusus digagas Royal Brunei untuk para pelanggannya yang kangen terbang sejak pandemi Corona membuat banyak negara menutup diri. Dengan luas Brunei yang tak lebih dari Jabodetabek, memang tidak ada pilihan bagi Royal Brunei Airlines selain berputar-putar di wilayah udaranya sendiri.

Lantas, karena Brunei mengklaim memiliki sedikit kasus Corona--tentu saja, setiap negara mengklaim hal ini--Royal Brunei Airlines tidak mewajibkan penumpang “Dine and Fly” mengenakan masker. Kewajiban mengenakan masker hanya dibebankan pada para kru pesawat. Harif, masih merujuk laporan Mzezewa, mengaku “tidak menyadari betapa besar kerinduannya melakukan penerbangan hingga suara kapten terdengar di speaker menyambut para penumpang.”

Harif hanya satu dari para “frequent flyer” yang terbang “nowhere” di masa pandemi ini. Ribuan orang, dengan menumpang maskapai EVA Air (Taiwan), All Nippon Airways (Jepang), dan Qantas (Australia), juga ikut memeriahkan program sesat akal ini. Sebagai catatan, frasa "frequent flyer" umumnya digunakan untuk merujuk kaum kelas menengah-atas yang sangat sering bepergian menggunakan pesawat entah untuk keperluan bisnis atau menghidupi slogan YOLO (You Only Live Once), serta sesekali memperoleh kursi gratis setelah mengumpulkan poin.

Sesat akal dalam program "Dine and Fly” atau “Fly to Nowhere” atau “Scenic Flights” bukan hanya soal memperparah emisi karbon dari pesawat yang mencemari lingkungan, yang pada 2018 menyumbang 900 juta metrik ton karbon dioksida (hanya dari dunia aviasi)--dalam kasus Harif, ia menyumbang sekitar 0,278 ton CO2 dalam penerbangan omong kosongnya. Yang dilakukan Harif dan kawan-kawan mengancam bukan hanya jiwanya, tetapi juga orang-orang di sekitarnya, yang tentu bukan hanya mereka yang ikut terbang dengan Harif semata. Pasalnya, tentu saja, Corona belum usai.

Terbang hanya untuk terbang mungkin memang sukses menghadirkan rasa senang. Masalahnya, di masa pandemi ini, terbang seperti yang dilakukan Harif juga berpotensi memunculkan dampak lain: terpapar COVID-19 dan kemunculan klaster baru Corona. Sialnya, kebodohan Harif bukan hanya miliknya seorang, melainkan banyak orang di berbagai belahan dunia.

“Kerja, Kerja, Kerja”

Masalahnya, seperti yang pernah digaungkan Bill Gates, manusia lebih takut pada perang nuklir daripada virus. Kerja-kerja akademis mendeteksi kemunculan virus baru penghancur peradaban Homo sapiens hanya menjadi pajangan di perpustakaan atau dipublikasikan dengan paywall di kanal-kanal milik Elsevier. Negara-negara dunia memilih melindungi dirinya dengan tank, senjata laras panjang, hingga misil. Ketika COVID-19 muncul, negara tak punya pilihan selain melakukan lockdown karena belum ada obat atau vaksin untuk COVID-19.

Selepas Pemerintah Cina melakukan lockdown di Wuhan dan sekitarnya pada awal 2020, perlahan negara-negara di seluruh dunia melakukan langkah serupa. Masyarakat dipaksa tinggal di rumah--keistimewaan yang banyak tidak dimiliki banyak warga dunia karena makin tak terjangkaunya harga hunian--guna menghentikan laju penyebaran Corona.

Sialnya, mendekati akhir 2020 Corona belum juga teratasi. Ekonomi porak-poranda. Indonesia, misalnya, hanya tinggal menunggu waktu menghadapi resesi. Akhirnya, sebagian masyarakat dunia kini melawan. Menggaungkan “lebih baik mati karena Corona daripada mati karena kelaparan”. Lockdown dilonggarkan. Di banyak tempat, Pabrik hingga perkantoran kembali dibuka di banyak tempat.

Bukan salah masyarakat, tentu saja. Dalam situasi sesulit apapun masyarakat memang dituntut untuk terus bekerja oleh negara. Di Indonesia, “kerja, kerja, kerja” jadi slogan sejak 2014. Sebagaimana dilaporkan Eleanor Cummins untuk Vox, tatkala Perang Dunia I meletus, politisi seperti Winston Churchill menyatakan agar “bisnis berjalan seperti biasa” seolah perang hanya terjadi di dunia hologram. Ketika Perang Dunia II berkecamuk, secara resmi London memerintahkan rakyatnya untuk “tetap tenang dan terus bekerja”.

Upaya menghentikan laju penyebaran Corona semakin berat seiring kembali dibukanya tempat kerja dan juga oleh (mereka yang mengatasnamakan) demokrasi untuk menyebarkan hoaks anti-masker. Masih merujuk laporan Cummins, sebagian masyarakat menentang penggunaan masker. Mereka menganggap kewajiban menggunakan masker sebagai kebijakan a la komunis. Melalui media sosial, masih banyak orang yang percaya bahwa Corona “hanya konspirasi elite global.”



Makhluk Sosial

Hingga hari ini, belum ada maskapai Indonesia yang menawarkan terbang tanpa tujuan seperti yang dilakukan Royal Brunei Airlines. Namun, secara mendasar, kelakuan Harif juga dapat ditemukan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Sebagaimana diberitakan Kompas (21/9), meskipun pandemi makin mengganas, satu keluarga di Tasikmalaya ngotot berlibur dengan bus ke Aceh selama sebulan. Sang kepala keluarga dan anaknya akhirnya meninggal gara-gara Corona. Di Surabaya, lapor Detik (15/4), sekelompok anak muda nekat nongkrong bareng di kafe di masa pandemi. Hasilnya, dua orang positif terkena Corona. Tatkala DKI Jakarta hendak mengetatkan kembali PSBB, tulis Detik (13/9), banyak anak muda ibukota menjadikan malam minggu terakhir sebelum PSBB sebagai ajang kumpul-kumpul.

Sebagaimana diutarakan Baruch Fischhoff, dosen Carnegie Mellon University kepada The Atlantic, fenomena ini terjadi karena manusia sering bermasalah dalam mengambil keputusan, khususnya jika menyangkut peristiwa yang tak langsung berhubungan dengan si manusia yang ngeyel itu.

“Di beberapa wilayah, jumlah kasus Corona yang dilaporkan kecil, sehingga orang-orang itu mungkin berpikir ‘Hore, Corona belum sampai sini’,” ujar Fischhoff.

Kenyataan tersebut diperparah dengan statistik-statistik yang sukar dicerna manusia, seperti pemberitaan-pemberitaan soal 100 kasus baru muncul seminggu lalu, 50 kasus baru muncul kemarin, dan 10 kasus baru muncul hari ini. Angka-angka ini, tutur Fischhoff, menyulitkan otak manusia untuk mengunyah kenyataan di baliknya.

Paparan Rebecca Renner di National Geographic mencoba menjelaskan dari sisi lain. Baginya, banyaknya orang yang ngotot pergi keluar rumah untuk alasan-alasan non-esensial menunjukkan bahwa pada dasanyar manusia adalah makhluk sosial dan itu terpatri perlahan selama proses evolusi manusia. “Jutaan tahun yang lalu, nenek moyang primata kita menemukan keamanan dalam kerjasama, mengembangkan struktur sosial yang melindungi mereka dari predator dan meningkatkan kemungkinan bertahan hidup,” tulisnya.

“Interaksi sosial telah menjadi kunci untuk kelangsungan hidup,” terang Renner. “Perlahan, otak manusia mungkin telah terprogram untuk mencandu aktivitas sosial.”


Renner, yang mengutip karya Robin Dunbar, antropolog evolusi dari Universitas Oxford, menyebut bahwa aktivitas sosial memicu efek yang sama tatkala manusia menggunakan obat terlarang seperti morfin. Bersosialisasi--yang diterjemahkan ke dalam kegiatan berkumpul, tertawa bersama, dan makan-makan--memicu kemunculan endorfin dalam otak manusia.

Dari sudut pandang itu kekonyolan Harif memang bisa dimaklumi. Yang sulit dipahami adalah kemungkinan kegagalan kelenjar pituitari pada tubuhnya--dan orang-orang sejenis--untuk mengeluarkan hormon adrenocorticotropic yang memicu rasa takut dan insting bertahan hidup.

Baca juga artikel terkait PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight