Dimakzulkan Senat Brazil, Dilma Rousseff Ajukan Banding

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 2 September 2016
Dibaca Normal 1 menit
Dilma Roussef mengajukan banding atas pemakzulannya ke Mahkamah Agung Federal pada Kamis (1/9/2016). Ia resmi dimakzulkan dari jabatannya sebagai presiden oleh Senat Brazil atas keputusan yang diambil melalui pemungutan suara pada Rabu (30/1/2016).
tirto.id - Dilma Rousseff resmi dimakzulkan dari jabatannya sebagai presiden oleh Senat Brazil atas keputusan yang diambil melalui pemungutan suara pada Rabu (30/1/2016). Jumlah dua pertiga suara terpenuhi berdasarkan hasil pemungutan suara di mana 61 senator setuju atas pemakzulan itu sedangkan 20 lainnya menolak. Atas keputusan ini, Roussef mengajukan banding ke Mahkamah Agung Federal pada Kamis (1/9/2016).

Keputusan Senat Rabu (30/1/2016) kemarin menyatakan Roussef bersalah karena "secara pidana bertanggung jawab" atas pelanggaran fiskal. Titik awal kasus Roussef berawal dari tuduhan bahwa dirinya mengambil pinjaman ilegal untuk menutupi kekurangan anggaran. Rakyat Brazil marah sebab dalam masa pemerintahan Roussef negara penyelenggara Olimpiade 2016 itu jatuh ke dalam resesi terburuk dalam sejarah.

Tim pembela Rousseff telah mengajukan writ security, atau perangkat legal bagi warga Brasil untuk melindungi individu dari keputusan legal yang bisa melanggar hak-hak mereka. Ketua tim legalnya, bekas Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Jose Eduardo Cardozo, sebelumnya mengumumkan bahwa mereka akan memilih melakukan tindakan itu atas adanya "penyimpangan proses" dalam pemakzulan Rousseff.

Sebelumnya pada Senin (29/8/2016) lalu Rousseff sempat membela diri saat hadir dalam sidang pemakzulan dirinya. Politisi Partai Pekerja saya kiri itu menyatakan tak akan diam seperti seorang pengecut dan akan terus membela diri dari tuduhan-tuduhan lawan politiknya di pemerintahan.

"Tolak pemakzulan, pilihlah demokrasi.. Di masa lalu kudeta dilakukan dengan senjata, hari ini bermodalkan retorika legal. Mereka ingin menghancurkan demokrasi dan melanggar hukum," kata presiden perempuan pertama Brazil itu.

Dalam video yang berasal dari Brazilian Senate TV dan diunggah The New York Times, Roussef menempatkan diri sebagai seorang pejuang demokrasi dengan berkata bahwa dirinya tak akan mengingkari apa yang ia percaya atau berbuat sesuatu yang berlawanan dengan keinginan orang-orang yang telah memilihnya. Atas kasus yang menimpanya itu pula ia menjadi semakin dekat dengan para pendukungnya.

Ia menerima kritik dari siapapun sebab merasa dirinya tak mungkin sempurna. “Di antara kesalahan-kesalahan saya itu, saya pastikan tak ada niat untuk tak setia atau menjadi seorang pengecut. Atas kesadaran saya sendiri atas apa yang telah saya lakukan selaku presiden negara ini, hari ini saya berdiri di sini, di depan orang-orang yang akan membuat keputusan atas masa depan saya,” kata Roussef.

Di luar gedung senat para pendukung Rousseff mengadakan aksi damai dan membentangkan poster maupun spanduk dukungan. Menurut Aljazeera, mereka rata-rata terdiri dari golongan pekerja yang selama ini memang menjadi basis pendukung terbesar Rousseff. Pidato pembelaan Rousseff disambut dengan tepuk tangan meriah dan mereka bersorak “Dilma, pahlawan rakyat Brazil!”, dan “Dilma, kembalilah!”.

Sayang, pidato maupun dukungan itu tak mampu menghindarkan Rousseff dari pemakzulan para senator di pemerintahan Brazil. Wakil presidennya, Michel Temer, dari Partai Gerakan Demokratis Rakyat Brasil, akhirnya disumpah untuk menyelesaikan sisa masa jabatannya sebagai presiden pengganti sampai 2018.

Cina Yakin Brazil Makin Stabil Usai Pemakzulan

Sementara itu, Cina pada Kamis (1/8/2016) menyampaikan keyakinan atas stabilitas di Brasil usai aksi pemakzulan yang menimpa Rousseff. Sebagai mitra strategis dan keduanya adalah anggota kelompok ekonomi BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, South Africa), Cina memperhatikan dengan cermat keadaan dalam negeri Brazil termasuk kondisi politik terbarunya.

"Kami berharap dan yakin bahwa Brasil akan menjaga stabilitas nasional dan pembangunan sosial ekonomi serta terus memainkan peran penting untuk urusan internasional dan regional," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying dalam jumpa pers harian, sebagaimana dikutip Reuters.

Pencopotan Rousseff juga meruntuhkan hubungan dengan pemerintah kiri di Amerika Latin, yaitu Bolivia, Ekuador dan Venezuela, yang menarik pulang duta besar mereka sebagai protes atas langkah itu, yang mereka sebut kudeta, dan Brasil menyambutnya dengan baik.

Baca juga artikel terkait PRESIDEN BRAZIL atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hard News)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan