Dilema Orang Keturunan Asia sebagai "Minoritas Teladan" di AS

Oleh: Sekar Kinasih - 29 Maret 2021
Dibaca Normal 6 menit
Nasib warga keturunan Asia di negeri Paman Sam: didiskriminasi sekaligus diusung sebagai teladan.
tirto.id - Di suatu negeri yang dipuja-puji sebagai tanah harapan bagi kaum imigran, wajah-wajah dengan karakter menyerupai etnis Cina atau Asia Timur dikambinghitamkan atas penyebaran Covid-19. Selama satu tahun terakhir, mereka dipukuli, ditendang, diludahi, dimaki-maki, dan menjadi target perundungan di media sosial. Aksi-aksi bermotif kebencian ini mematahkan stereotip keturunan Asia Timur di Amerika Serikat sebagai “model minority”—minoritas teladan. Menjadi “minoritas teladan” berarti mapan dan beretos kerja tinggi, sehingga bisa terselamatkan dari segala bentuk diskriminasi.

Representasi populer tentang keturunan Asia sebagai “model minority” Amerika marak ditemui di film drama romantis baru-baru ini. Contohnya adalah tokoh Rachel Chu, profesor muda Amerika keturunan Cina di kampus top New York dalam Crazy Rich Asians (2018) atau koki Amerika keturunan Vietnam dari San Francisco bernama Sasha Tran dalam Always Be My Maybe (2019). Selain itu, ada pula komedi keluarga Fresh Off the Boat (2015-20) yang berangkat dari otobiografi koki keturunan Taiwan, Eddie Huang. Serial ini mengisahkan suka-duka keluarga Huang untuk membaur dalam kehidupan urban di Paman Sam, serta jatuh-bangun mereka meniti bisnis restoran steak di Orlando, Florida, demi menggapai “The American Dream”. Gambaran di layar kaca tentang kalangan Amerika keturunan Asia tidak jauh dari tema-tema kesuksesan dan kerja keras.

Mitos Minoritas Teladan

Sosiolog dari University of California Berkeley, William Petersen, pertama kali mencetuskan istilah “model minority” dalam tulisan berjudul “Success Story, Japanese-American Style” (PDF) yang terbit di New York Times Magazine pada 9 Januari 1966. Petersen kagum dengan orang-orang keturunan Jepang di AS. Hanya dalam kurun dua dekade, mereka berhasil bangkit dari keterpurukan, setelah aset-asetnya dirampas dan hak-haknya dilindas oleh kebijakan relokasi ke kamp interniran selama Perang Dunia II.

Dalam pandangan Petersen, kesuksesan warga Amerika berdarah Jepang berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan moral yang mereka anut, seperti etos kerja, daya juang tinggi, respek terhadap orangtua dan otoritas. Unsur-unsur di atas, menurut Peterson, berpengaruh terhadap pencapaian akademik (di atas orang-orang kulit putih dan etnis minoritas lainnya) serta mendorong mereka jadi warga taat hukum—terlihat dari rendahnya angka kriminalitas kaum muda Amerika berdarah Jepang yang bermukim di kawasan pinggiran nan kumuh. Maka dari itu, mereka diidealkan sebagai teladan atau model bagi suatu kelompok yang populasinya kecil.

Masih pada 1966, artikel (PDF) berjudul “Success Story of One Minority Group in US” dirilis di majalah US News & World Report. Senada dengan temuan Petersen, reportase ini mengelu-elukan orang-orang keturunan Cina sebagai oerang-orang yang “cermat, rajin, taat hukum, ambisius untuk mengejar kemajuannya sendiri”.

“Di setiap pecinan dari San Francisco sampai New York, Anda akan temukan anak-anak muda berjuang keras dengan studinya… Berkunjunglah ke ‘Pecinan Amerika Serikat’ dan Anda akan dapati minoritas ras penting yang berhasil bangkit dari kesulitan dan diskriminasi untuk menjadi warga negara teladan yang bermartabat dan berprestasi di Amerika sekarang,” demikian isi artikel mempromosikan kemakmuran warga keturunan Cina. Kawasan pecinan dicitrakan penuh ”kedamaian dan kestabilan” dengan angka kriminalitas rendah dan kelompok yang menjunjung tinggi disiplin.


Baik sosiolog Petersen dan artikel US News sama-sama menarasikan bahwa kalangan Asia Timur bisa sukses di Amerika tanpa uluran tangan siapapun, termasuk pemerintah. Singkatnya, mereka membingkai orang-orang keturunan Asia Timur sebagai kelompok minoritas yang independen dan sukses dalam pendidikan dan karier, sehingga bisa terbebas dari diskriminasi dan penindasan.

Teladan yang Dipertanyakan

Seiring waktu, narasi tentang kesuksesan warga Amerika keturunan Asia ini semakin populer. Memasuki akhir dekade 1980-an, pemberitaannya mulai diimbangi dengan liputan tentang kesulitan atau diskriminasi yang pernah mereka alami, seperti diulas oleh jurnalis David Brand di majalah Time edisi Agustus 1987 dengan tema “Those Asian-American Whiz Kids—Anak-anak jagoan Amerika keturunan Asia”. Sampulnya diisi dengan potret anak-anak keturunan Asia Timur yang terkesan kutu buku, tapi kelihatan sumringah.

Di samping membahas kebangkitan kaum terpelajar keturunan Asia, Brand menyorot kebijakan pembatasan atau kuota mahasiswa di kampus-kampus Ivy League yang memperkecil peluang diterimanya anak-anak keturunan Asia. Selain itu, Brand mengulik bagaimana anak muda merasa tertekan karena diharapkan bisa memenuhi ekspektasi akademik yang mentereng. Ia juga menunjukkan statistik untuk menjelaskan bahwa tingkat kesejahteraan di kalangan berdarah Asia tidak bisa dipukul rata, terutama mereka yang berasal dari kawasan Indocina.

Tulisan Brand rilis beberapa tahun setelah kalangan Amerika keturunan Asia digegerkan dengan tragedi yang menimpa pria Amerika berdarah Cina, Vincent Chin. Pada 1982, Chin—yang dicurigai sebagai orang Jepang—tewas dipukuli oleh dua laki-laki kulit putih di kota Detroit, pusat industri manufaktur mobil terbesar di Amerika. Kala itu, Amerika tengah menghadapi kompetisi berat dari produsen mobil Jepang, sehingga sentimen anti-Jepang meningkat khususnya di kalangan pekerja otomotif.

Kematian Chin mendorong berdirinya organisasi hak-hak sipil pan-Asia, American Citizens for Justice, salah satu mesin yang ikut membesarkan gerakan aktivisme untuk melawan diskriminasi terhadap orang keturunan Asia pada dekade 1980-an. Asosiasi ini sampai sekarang aktif mendampingi korban-korban diskriminasi dan mengkampanyekan pemberdayaan terhadap imigran keturunan Asia dan Pasifik.

Pada akhirnya, glorifikasi terhadap kesuksesan keluarga keturunan Asia sebagai “model minority” ini dikritik tak lebih sebagai stereotip atau mitos, karena mengaburkan keberagaman taraf sosio-ekonomi di kalangan berdarah Asia, berikut perlakuan diskriminatif dan kejahatan kebencian yang ditujukan kepada mereka selama ini.

Kebijakan Imigrasi dan Kesenjangan yang Ditimbulkannya

Tidak bisa dipungkiri, kalangan Amerika keturunan Asia cenderung punya akses untuk mengenyam pendidikan tinggi. Menurut Biro Sensus AS 2019, presentase keturunan Asia yang mempunyai gelar sarjana mencapai 58 persen, lebih tinggi daripada orang kulit putih (40 persen), orang kulit hitam (26 persen) dan keturunan Hispanik (18 persen).

Median pendapatan mereka juga di atas rata-rata. Menurut think tank Pew Research Center, sampai pada 2015, median pendapatan tahunan dari sekitar 20 juta jiwa kalangan Amerika keturunan Asia adalah USD 73 ribu, di atas median pendapatan nasional (USD 53 ribu).

Pada 2012 silam, entah disadari atau tidak, Pew Center pernah terbawa euforia untuk ikut merayakan kelompok keturunan Asia sebagai “model minority” dalam laporan berjudul “The Rise of Asian Americans—Kebangkitan Amerika keturunan Asia”. Selain menunjukkan poin-poin tentang superioritas mereka dalam pencapaian akademik dan besaran gaji, Pew Center juga melakukan survei terkait pandangan atau nilai-nilai tentang kerja keras dan keluarga. Mudah diduga, jika dibandingkan dengan orang Amerika pada umumnya, warga Amerika keturunan Asia leih menghargai pernikahan, orangtua, etos kerja, dan karier yang sukses.

Penulis buku The Asian American Achievement Paradox (2015), Jennifer Lee and Min Zhou, menyayangkan laporan tim riset Pew Center. “Laporan tersebut malah memberi angin kepada ideologi neokonservatif yang menyebarkan suatu kepercayaan bahwa pencapaian sosio-ekonomi tinggi berasal dari penerapan nilai-nilai budaya yang ‘benar’,” kritik Lee dan Zhou.

Padahal, Lee dan Zhou tegaskan, budaya etnorasial yang disematkan pada kalangan keturunan Asia erat kaitannya dengan kebijakan imigrasi pemerintah Amerika. Setelah lebih dari setengah abad etnis Cina dan Asia dihalang-halangi bermigrasi ke Amerika, UU Imigrasi dan Kewarganegaraan 1965 disahkan. Aturan ini membuka keran imigrasi bagi mereka dengan level pendidikan tinggi dan keahlian khusus. Pasca-1965, orang-orang Asia yang masuk ke Amerika sudah menjalani seleksi super ketat. Uniknya, mereka tak hanya kalangan paling top dari mayoritas warga di negara asalnya, melainkan juga di atas rata-rata orang kelahiran Amerika.

Dalam pendapat Lee dan Zhou, seleksi ketat terhadap masyarakat Asia inilah yang mendorong orangtua dan anak-anak mereka (imigran generasi kedua) untuk menciptakan kebiasaan tertentu untuk mendorong prestasi. Pada waktu yang sama, mereka mendapatkan dukungan dari sumber daya kelompok etnis yang sama di sana, berikut dari guru-guru sekolah di institusi pendidikan setempat.


Tak lama berselang, riset-riset Pew Center mulai menaruh perhatian pada isu-isu kesenjangan di kalangan keturunan Asia. Dokumen (PDF) yang terbit 2018 silam melaporkan besarnya ketimpangan median pendapatan tahunan di orang-orang keturunan Asia. Sampai 2015, median pendapatan orang Bangladesh, Nepal, Burma dan suku Hmong berada di bawah rata-rata nasional (berkisar USD 36-49 ribu). Sedangkan median gaji tertinggi dijumpai pada etnis India (USD 100 ribu), diikuti Filipina (USD 80 ribu), Jepang dan Sri Lanka (masing-masing USD 74 ribu), dan Cina (USD 70 ribu).

Di samping itu, selisih pendapatan antara penerima gaji tertinggi dan terendah juga sangat besar: USD 133 ribu versus USD 12 ribu. Tingkat kemiskinan pun beragam. Angka yang cukup tinggi ditemui di kalangan dari kawasan Indocina, seperti etnis Burma (35 persen), Butan (33 persen) dan suku Hmong (28 persen). Presentase kemiskinan yang rendah ditemui pada etnis Cina (14 persen) serta India dan Filipina (masing-masing 7,5 persen).

Seperti sebelumnya sudah diungkit oleh Lee dan Zhou, Pew Research menyoroti faktor kebijakan imigrasi yang turut menciptakan pengalaman ketimpangan di kalangan keturunan Asia. Awalnya, UU Imigrasi 1965 memberikan kesempatan agar imigran baru bisa bergabung dengan anggota keluarga yang sudah tinggal di AS. UU ini juga membuka pintu lebar-lebar untuk imigran berpendidikan tinggi. Kemudian, pada 1975, Amerika mulai menerima gelombang pengungsi dari Vietnam. Sampai 1990, jumlah imigran di sektor pekerjaan kasar atau rendah pun mengalami peningkatan.

Bersamaan dengan mulai populernya tren lapangan kerja di sektor teknologi, UU Imigrasi 1990 mendorong lagi masuknya imigran Asia (terutama dari India) yang punya keahlian khusus. Dinamika imigrasi Amerika tidak berhenti di situ. Gelombang pengungsi kembali muncul. Sepanjang 2008-14, misalnya, Amerika menerima lebih dari 117 ribu pengungsi dari Myanmar.

Ketimpangan sosio-ekonomi di kalangan Amerika keturunan Asia tidak bisa dipisahkan dari keanekaragaman asal negeri dan pengalaman tiap-tiap imigran, yang dipengaruhi oleh kebijakan imigrasi Amerika selama ini. Maka dari itu, tidak tepat apabila mereka disebut entitas homogen dengan citra mapan atau kaya ala “model minority”, apalagi sampai dianggap kebal diskriminasi.

Infografik Rasisme di AS
Infografik Rasisme di AS. tirto.id/Fuad


Diskriminasi di Posisi Eksekutif

Orang-orang keturunan Asia di AS adalah kelompok demografi yang paling terdidik, tapi masih kesulitan untuk menduduki posisi eksekutif atau manajerial di perusahaan-perusahaan top.

Dalam laporan (PDF) berjudul “The Illusion of Asian Success” (2017), lembaga swadaya Ascend menolak mentah-mentah glorifikasi media atas segelintir CEO keturunan Asia Selatan dan Asia Timur sebagai potret keberhasilan orang-orang keturunan Asia. Menurut temuan Ascend di sejumlah perusahaan teknologi di San Fransciso, orang-orang keturunan Asia justru menjadi kelompok yang peluangnya sangat kecil untuk bisa naik sampai ke posisi manajerial, tak beda dari orang-orang kulit Hitam dan keturunan Hispanik.

Pola yang sama rupanya juga ditemui di tingkat nasional. Menurut Buck Gee dan Denise Peck di Harvard Business Review (2018), warga keturunan Asia bukanlah kelompok minoritas yang keterwakilannya dianggap kurang. Maka dari itu, banyak perusahaan cenderung kurang memprioritaskan warga keturunan Asia dalam program-program jaminan keanekaragaman (diversity) di kantor. Masih dilansir dari Harvard Business Review, program yang merangkul orang-orang keturunan Asia lebih diarahkan pada inklusi budaya, alih-alih keberagaman pada tingkat manajemen. Sekali lagi, mitos “model minority” justru menenggelamkan peluang orang keturunan Asia untuk mengembangkan karier, semata-mata karena mereka umumnya dianggap sudah lebih dulu mapan atau sukses.

'Diadu' dengan Warga Kulit Hitam

Dampak membahayakan lainnya dari mitos “model minority” ini adalah ketika kesuksesan kelompok Amerika keturunan Asia disandingkan dengan etnis minoritas lain yang kondisi sosio-ekonominya lebih rentan. Dalam narasi-narasi awal tentang “model minority”, sosiolog Peterson dan artikel US News juga mengkaitkan “model minority” dengan fenomena kemelaratan di kalangan keluarga kulit hitam. Rupanya, sebelum pembicaraan tentang “model minority” ini mencuat, Departemen Tenaga Kerja AS sudah menerbitkan Moynihan Report (1965). Isinya berupa rekomendasi skema bantuan keuangan dan program pemberdayaan untuk keluarga kulit hitam.

Laporan Moynihan menilai kelompok demografi kulit hitam sebagai etnis minoritas yang “bermasalah”. Akar permasalahan ini disinyalir berasal dari kebobrokan struktur keluarga, khususnya di daerah pinggiran, di mana relasi sosial begitu rapuh, anak-anak mudanya relatif berpendidikan rendah, dan tak memiliki kapasitas untuk membekali diri dengan keahlian khusus.

Dengan diangkatnya narasi bahwa warga Amerika keturunan Asia adalah panutan minoritas yang sukses dan tidak bermasalah, warga kulit hitam pun jadi tersudutkan. Gamblangnya, mereka dianggap punya etos kerja atau nilai moral yang tidak seluhur budaya imigran Asia. Padahal, setiap imigran di AS punya riwayat berbeda,yang berpengaruh pada jenis-jenis diskriminasi yang mereka alami. Sejarah perbudakan orang kulit hitam selama dua abad lebih dan diskriminasi sistemik yang dialami orang-orang keturunan Afrika selama ini tentu saja berbeda dengan latar belakang sebagian besar imigran Asia yang selama ini diusung sebagai “model minority”.

Baca juga artikel terkait IMIGRAN atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight