Menuju konten utama

Dilarang Keluar YLBHI, Massa Aksi Demo Papua Ricuh dengan Polisi

Puluhan massa gabungan aksi demo peringatan 1 Desember Papua sempat ricuh dengan pihak aparat kepolisian karena tak diperbolehkan demo di luar Gedung YLBHI.

Dilarang Keluar YLBHI, Massa Aksi Demo Papua Ricuh dengan Polisi
Polisi mengadang massa Aliansi Mahasiswa Papua melakukan saat melakukan aksi di depan Kantor LBH Jakarta, Sabru (1//12/2018). tirto.id/Andrey Gromico.

tirto.id -

Puluhan massa yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua memaksa untuk keluar dari Gedung YLBHI. Mereka merangsek ke pagar gedung YLBHI setinggi 1,5 meter yang dipadati aparat kepolisian.

Tak hanya FRI-WP, sejumlah kelompok juga tergabung dalam barisan tersebut yakni Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI). Mereka menggunakan atribut bergambar Bintang Kejora.

Polisi pun merapatkan barisan dan menahan agar pagar gedung tidak terbuka. Saling dorong yang dipisahkan pagar besi pun terjadi disertai teriakan dari kedua kelompok.

"Sudah, kami ingin keluar, buka pintunya," teriak salah satu peserta aksi dalam kerumunan, Sabtu (1/12/2018).

Suasana semakin ricuh lantaran para polisi memaksa mereka untuk mundur. Menggunakan megafon, Kepala Polsek Metro Menteng AKBP Dedy Supriadi berteriak dan meminta massa aksi untuk mundur dari pagar.

"Kami kepolisian mengimbau jangan, sudah mundur adik-adik Papua mundur, jangan terprovokasi. Adik-adik tenang. Diam!" teriaknya.

"Silakan orasi di dalam saja, tidak udah berdebat dengan kami," sambungnya.

Dari pantauan Tirto, 15 menit berlalu tapi saling dorong masih juga belum reda. FRI-WP tetap merangsek dan memasang badan di pagar. Mereka juga meneriakkan yel-yel Papua Merdeka. "Free west Papua, free west Papua," teriak mereka berkali-kali.

Aksi demo AMP ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 1 Desember 1961 sebagai hari kemerdekaan Papua Barat atas Belanda. Tanggal 1 Desember bagi orang Papua adalah kalender penting dalam perjuangan Papua yang terus diperingati setiap tahun.

Momen bersejarah pada 1961 untuk kali pertama Parlemen Papua Barat, di bawah administrasi Belanda, mengibarkan bendera Bintang Kejora, simbol pengakuan status berdirinya negara Papua Barat.

Sejak itu bendera Bintang Kejora dikibarkan di seluruh wilayah Papua Barat berdampingan dengan Bendera Belanda, hingga Belanda menyerahkan otoritas administrasi Papua Barat kepada UNTEA pada 1 Oktober 1962, lalu ke pemerintah Indonesia pada 1 Mei 1963.

Baca juga artikel terkait PERINGATAN 1 DESEMBER PAPUA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Maya Saputri