14 Oktober 1944

Diketahui Terlibat Makar oleh Hitler, Erwin Rommel Pilih Bunuh Diri

Erwin Johannes Eugen Rommel. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 14 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Jenderal jagoan perang Erwin Rommel akhirnya frustrasi juga. Melihat Jerman akan hancur, dia berusaha meyakinkan Hitler untuk menghentikan perang.
tirto.id - “Rasa putus asa Rommel semakin mendalam. Ia adalah jenderal Jerman yag punya rasa tanggung jawab yang kuat,” tulis Stephen Ambrose dalam bukunya Citizen Soldiers (2006).

Erwin Johannes Eugen Rommel sudah puluhan tahun jadi perwira militer. Sejak 1912, dia adalah letnan dalam Resimen Infanteri Württemberg, juga di pasukan gunung Alpenkorps ketika Perang Dunia I. Rommel sohor namanya di kalangan militer Sekutu pada aksi di El Alamien sebagai panglima pasukan lapis baja Divisi Panser dan Korps Afrika pada Perang Dunia II.

Meski Jerman mulai terjepit, haram hukumnya bagi Hitler untuk mundur. Padahal, gempuran musuh begitu kuat. Sebagai perwira militer, tentu Rommel punya perhitungan. Jika mengikuti isi kepala Hitler yang nekad melanjutkan perang meski kekuatan Jerman terus rontok, Jerman bisa hancur.

Sebuah pesan dari Rommel dikirim ke Hitler lewat Gunther von Kluge pada 16 Juli 1944. Menurutnya, bahaya besar sedang menghinggapi Jerman di pantai Normandia yang dibombardir Sekutu. Kekuatan militer Jerman makin merosot di sana. Armada lapis baja Jerman sudah dihancurkan pasukan Sekutu.

“Harus diambil kesimpulan-kesimpulan politik atas situasi ini,” kalimat itu terpacak dalam dokumen yang akan ditandatangani Rommel. Rommel mengikuti saran stafnya untuk mencoret kata "politik". Kemudian, dia menandatanganinya. Esok harinya, Rommel celaka. Pesawat tempur Inggris memberondong mobilnya. Kepala Rommel pun terluka.

Setahun sebelum peristiwa itu, pada akhir 1943, Rommel didekati Dr. Goerdeler dan Jenderal Beck. Mereka anti-Hitler. Di markas Rommel, dekat kota Paris, beberapa tokoh penting yang terlibat kudeta bisa leluasa bicara tanpa khawatir pada intaian polisi rahasia Gestapo. Komplotan itu hendak menjadikan Rommel sebagai “pucuk pimpinan seluruh Angkatan Perang Jerman atau sebagai kepala negara sementara kalau Hitler sudah dijatuhkan,” tulis P.K. Ojong dalam Perang Eropa Jilid III.

Menurut William Shirer dalam The Rise and Fall of the Third Reich (1960), di bulan Februari, Rommel bersedia ikut gerakan untuk menjungkalkan Hitler itu.

Seperti umumnya gerakan kudeta di negara modern, dukungan panglima militer berkarisma wajib hukumnya. Kehadiran panglima dari Angkatan Darat sangat penting bagi komplotan. Menurut Russel Hart dalam Rommel and the 20th July Bomb Plot (2014), dukungan Rommel begitu diharapkan. Apalagi dia seorang marsekal medan alias jenderal bintang lima.

Ketika Rommel terluka karena serangan pesawat tempur Inggris, Kolonel Claus von Stauffenberg muncul di Sarang Serigala (markas militer tingkat tinggi) dekat Rustenberg, Prusia Timur. Itu adalah tempat Hitler rapat dengan para jenderal, mencari cara menghalau tentara Sekutu yang mulai merangsek di Pantai Normandia, daerah Perancis yang kala itu termasuk daerah pendudukan Jerman.

Stauffenberg tak lama di sana. Dia datang dan bertatap muka sekejap dengan Hitler yang kala itu dikerubuti banyak jenderal, lalu keluar lagi. Dia masuk membawa tas, tetapi pulang tanpa tas. Tas itu ditinggalkannya di bawah meja, tergeser. Tak lama setelah dia keluar dan pergi dengan mobilnya, tas yang ditaruhnya meledak.

Harapan Stauffenberg untuk membunuh Hitler meleset sedikit dari kenyataan. Adolf Hitler sang Fuhrer hanya patah tulang. Dalam perjalanan kabur dari Sarang Serigala, Stauffenberg yakin Hitler sudah terbunuh. Bom itu begitu dekat dengan Hitler.



Dalam hitungan jam, gerakan kudeta Stauffenberg malah diringkus. Stauffenberg dan kawan-kawan seperjuangannya yang dituduh berkhianat itu dieksekusi mati. Ada yang digantung dengan kawat piano dari cantelan daging, ada juga yang ditembak mati. Kisah kudeta Stauffenberg itu tergambar dalam film Valkyrie (2008). Sebelum ditembak, Stauffenberg berucap, “hidup Jerman yang bebas!”

Selama tiga bulan setelah percobaan pembunuhan itu, Rommel hidup bebas sampai dia didatangi dua jenderal dari markas besar. Wilhelm Burgdorf dan Ernst Maisel datang ke rumah Rommel pada 14 Oktober 1944, tepat hari ini 75 tahun lalu. Rupanya, keterlibatan Rommel sudah tercium.

Mereka menawar Rommel apakah hendak diadili di Volksgerichtshof (pengadilan rakyat) atau bunuh diri. Pilihan sederhana yang keduanya berujung sama: mati. Hukuman bagi pelaku subversif atau kudeta adalah mati. Menurut Richard Evans dalam The Third Reich at War (2009), jika memilih diadili, keluarganya bisa ikut menderita. Jika memilih tak diadili atau bunuh diri, keluarganya akan dijamin kehidupannya. Diadili tentu akan membuatnya mati sebagai pengkhianat Jerman.

Rommel tahu, mati itu pasti. Dia memilih mati terhormat seperti yang ditawarkan rezim Hitler. Dia pun ikut mobil Burgdorf. Di pinggir desa mobil berhenti. Di situlah Rommel keluar dari mobil. Racun sianida kemudian mengakhiri frustrasi jenderal bintang lima berjuluk Rubah Gurun itu atas sikap Hitler yang memimpin Jerman menuju kehancuran. Hitler sendiri menyusul Rommel pada 30 April 1945, ketika Jerman menyambut kekalahannya.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 26 April 2017 dengan judul "Diketahui Terlibat Makar, Rommel Pilih Bunuh Diri". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait NAZI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight