Diet Sehat: Menghitung Kalori Makanan Bukan Langkah Paling Penting

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 8 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Menghitung kalori tidak lebih penting daripada memilih jenis makanan yang masuk ke tubuh.
tirto.id - Beberapa orang terobsesi dengan tubuh ideal dan sehat. Untuk mencapai hal tersebut, beragam diet dilakukan, mulai dari diet keto, diet garam, hingga jenis diet lainnya.

Beberapa orang beranggapan, menghitung kalori, yaitu mengatur antara kalori yang masuk ke tubuh dan yang keluar adalah kunci diet.

Hal tersebut senada dengan Kristin Reimers, ahli gizi di National Strength and Conditioning Association.

“Tujuan paling penting dalam mengurangi berat badan adalah mengurangi kalori,” tulisnya dalam sebuah esai bertajuk Essentials of Strength Training and Conditioning.

Reimers mengatakan, berat badan seseorang adalah hasil keseimbangan energi dalam tubuh, yaitu jumlah kalori masuk dibandingkan dengan kalori yang keluar.

Di sisi lain, kemampuan metabolisme tubuh juga ditentukan oleh umur, jenis kelamin, komposisi tubuh, dan aktivitas fisik yang berperan penting dalam penyerapan kalori.


Manusia memerlukan sejumlah kalori untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kebutuhan rata-rata kalori orang dewasa adalah 3.500 kalori.

Jika seseorang mengonsumsi kalori lebih dari itu dan melakukan sedikit aktivitas, maka kalori yang menumpuk dapat menjadi berat badan berlebih. Di titik ini, menghitung jumlah kalori yang masuk ke tubuh menjadi poin penting.

Namun, sebuah penelitian oleh JAMA menyatakan hal yang berbeda. Menghitung kalori tidak lebih penting daripada memilih jenis makanan yang masuk ke tubuh.

Penelitian ini menyebut bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Menghitung kalori yang keluar-masuk adalah perkara kuantitas, sedangkan memilah jenis makanan adalah perkara kualitas.

Mementingkan kualitas daripada kuantitas membantu membentuk tubuh ideal jangka panjang. Selain itu, juga menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, daripada sekedar mengurangi atau menambah berat badan.

Dalam penelitian tersebut disebutkan, warga Amerika terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan yang telah ditambahi kadar gula dan gluten, seperti kue kering, roti, makanan ringan, bahkan minuman.

Penelitian tersebut merekrut orang dewasa dan membaginya ke dalam dua kelompok, kelompok “rendah lemak sehat”, dan kelompok “rendah karbohidrat sehat”.

Keduanya memakan makanan padat nutrisi, diolah seminimal mungkin, dan dimasak sendiri di rumah.

Soft-drink, jus buah, muffins, nasi putih, dan roti pada dasarnya rendah lemak dan dihindari oleh kelompok rendah lemak. Sebaliknya, mereka memakan nasi merah, gandum, gandum baja, kacang-kacangan, daging tanpa lemak, produk susu rendah lemak, quinoa, dan buah-buahan.

Kelompok rendah karbohidrat memakan makanan bergizi seperti minyak zaitun, salmon, avocado, keju padat, sayur-mayur, seai kacang, kacang dan biji-bijian, dan sayuran hijau.

Penelitian ini tidak berupaya membatasi jumlah makanan masuk, tetapi mengupayakan makanan tanpa olahan sebanyak mungkin. Mereka bisa makan sebanyak mungkin makanan-makanan tersebut untuk menghindari rasa lapar.

Rata-rata partisipan dalam penelitian ini mengalami penurunan berat badan drastis, dan sebagian kecil mengalami kenaikan berat badan.

“Kami benar-benar menekankan kepada kedua kelompok terus menerus bahwa kami ingin mereka makan makanan berkualitas tinggi,” kata Christopher D. Gardner, pemimpin penelitian tersebut, serti dikutip The New York Times.

“Kami mengatakan, mereka harus mengurangi makanan dengan tambahan gula, tepung olahan dan menggantinya dengan sayuran dan makanan asli (bukan olahan). Jangan membeli brownies rendah lemak hanya karena itu berlabel rendah lemak, atau kripik rendah karbo, jangan membelinya. Itu tetaplah keripik dan itu hanyalah akal-akalan iklan,” imbuhnya.

Dr. Dariush Mozaffarian, seorang kardiologis di School of Nutrition Science and Policy di Universitas Tufts juga menyampaikan untuk berhenti fokus pada jumlah kalori ketika diet.

“Ini wakunya bagi Amerika dan negara-negara lain untuk berhenti fokus pada kalori dan menghitungnya,” ketika diminta menanggapi penghitungan kalori untuk diet tersebut, seperti dilansir The Tufts Magazine.

Menghitung kalori sebagai sarana diet juga rentan menimbulkan stres, karena mereka terpatok dengan jumlah kalori. Sebagai contoh, memakan 1 burger raksasa dan segelas kopi memenuhi asupan sebesar 2,500 kalori. Maka, sisa 1,000 kalori hanya akan muat untuk 2 potong roti putih. Seseorang dipastikan akan kelaparan sepanjang hari dengan asupan makanan seperti itu.

Tetap mengonsumsi makanan olahan tinggi lemak, gula, dan gluten, meskipun tidak melebihi kebutuhan kalori harian tidaklah bijaksana.

Berat badan tetap bisa turun, namun hal tersebut tidak menjamin kesehatan dan berat ideal jangka panjang seseorang dibandingkan dengan makan makanan minim olahan dan makanan sehat setiap hari.


Baca juga artikel terkait DIET atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight