Menuju konten utama
24 November 1957

Diego Rivera: Seniman Komunis dan Cinta Sejati Frida Kahlo

Salah satu karya Diego Rivera yang paling monumental: 124 panel di gedung Kementerian Pendidikan Publik, di Mexico City.

Diego Rivera: Seniman Komunis dan Cinta Sejati Frida Kahlo
Diego Rivera. tirto.id/Fuad

tirto.id - Pada 8 Desember 2011, Google Doodle memajang desain unik yang menggambarkan beberapa orang tengah membuat mural. Desain itu ditampilkan untuk memperingati 125 tahun pelukis legendaris asal Meksiko yang memiliki nama amat panjang: Diego de la Concepción María Juan Nepomuceno Estanislao de la Rivera Barrientos Acosta Rodríguez.

Dunia lebih mengenal nama singkatnya: Diego Rivera.

Lahir di Guanajuato, sebuah kota yang terletak di Meksiko tengah, pada 1886, Rivera sejatinya memiliki saudara kembar bernama Carlos. Namun, dua tahun setelah mereka lahir, Carlos meninggal. Sepeninggal saudara kembarnya, Rivera mulai rajin menggambar dan mencorat-coret dinding rumah. Alih-alih menghukum atau melarangnya, orang tua Rivera justru membelikannya kanvas dan papan tulis agar ia terus menggambar.

Ketika usia 10 tahun, Rivera sudah belajar seni di Academy of San Carlos, Mexico City. Sekira satu dasawarsa berselang, pemerintah setempat melalui Gubernur negara bagian Veracruz, Teodoro A. Dehesa Méndez, membiayai Rivera 300 peso per bulan untuk melanjutkan studi di Eropa. Maka, pada 1907, tepat di usianya yang ke-21, Rivera pun berangkat ke Benua Biru.

Madrid, Spanyol, menjadi tempat singgah pertamanya. Ia belajar melukis kepada Eduardo Chicharro, salah satu sosok perupa terkemuka di zamannya dan juga ayah dari penyair Eduardo Chicharro Briones. Dalam periode ini Rivera banyak menyerap lukisan-lukisan El Greco, Goya dan Velázquez. Ia juga tekun mempelajari aliran realisme dan impresionisme.

Dari Madrid, Rivera hijrah ke Paris, Perancis, untuk tinggal dan bekerja dengan banyak seniman di Montparnasse, terutama di La Ruche, tempat temannya, Amedeo Modigliani, melukis potret dirinya pada tahun 1914. Di sini pula Rivera bertemu dengan pelukis Rusia, Angelina Beloff, yang kelak menjadi cinta pertamanya.

Sepanjang 1907 hingga 1920, Rivera melanglang buana dan belajar ke banyak seniman dari Spanyol, Perancis, juga Italia. Ia mempelajari gaya melukis kubisme dari Pablo Picasso, Georges Braque, serta Juan Gris. Rivera juga terpikat dengan lukisan-lukisan pasca-impresionisme yang diusung Paul Cézanne, termasuk pula lukisan dinding yang muncul di era Renaissance.

Memasuki tahun 1921, Rivera diminta oleh José Vasconcelos—kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan Meksiko—untuk kembali ke tanah air dan menjalankan program gerakan mural nasional. Program yang tak lain merupakan propaganda ini juga diikuti oleh banyak seniman Meksiko lain seperti José Clemente Orozco, David Alfaro Siqueiros, dan Rufino Tamayo. Di tahun yang sama, Rivera juga bergabung bersama Partai Komunis Meksiko (Partido Comunista Mexicano, PCM).

Sebagai seorang komunis, Rivera tergolong radikal hingga mempengaruhi citarasa keseniannya. Hal itu, misalnya, tampak dari bagaimana gigihnya ia membangkitkan kembali tradisi mural kuno suku Maya. Rivera pun juga vokal menyuarakan nasib pekerja pribumi Meksiko yang mencari kesetaraan sosial setelah berabad-abad mengalami penindasan di bawah kolonialisme.

Berbagai lukisan muralnya pun, yang dibuatnya ketika melanglang buana sepanjang 1922-1953, mulai dari City, Chapingo, Cuernavaca, Arsenal, San Fransisco, Detroit, hingga New York, juga memiliki “napas” yang sama: sarat kritik sosial dan politik. Salah satu karya Rivera yang paling monumental adalah 124 panel di gedung Kementerian Pendidikan Publik di Mexico City.

Kisah terbaik mengenai Rivera bukanlah sekadar soal lukisan atau ideologinya, melainkan kisah cintanya dengan Frida Kahlo, seniman perempuan yang 20 tahun lebih muda darinya.

Lika-Liku Cinta dengan Frida Kahlo

Kahlo berkenalan dengan Rivera ketika bergabung dengan PCM. Semula ia menganggap Rivera tak ubahnya mentor melukis. Rivera sejak awal juga telah mengakui bakat besar Kahlo, sehingga ia terus mendorong perkembangan artistik perempuan kelahiran 6 Juli 1907 tersebut.

Dari diskusi ke diskusi itu cinta keduanya lantas bersemi. Pada tahun 1929, Rivera dan Kahlo memutuskan menikah. Hanya saja, semua tidak berlangsung seindah yang dibayangkan. Kahlo yang masih muda memiliki temperamen yang susah dikendalikan, sementara Rivera punya watak pecicilan dan dikenal gemar indehoy dengan perempuan lain, bahkan dengan adik Kahlo sendiri, Christina.

Mengetahui kelakuan suaminya itu, Kahlo akhirnya juga selingkuh, termasuk dengan sesama jenis—ia baru menyadari dirinya biseksual setelah menikah dengan Rivera. Mereka akhirnya bercerai pada November 1939, namun menikah kembali satu tahun berselang.

Salah satu selingkuhan sesama jenis Kahlo adalah Josephine Baker, artis tersohor yang juga aktivis terkemuka pada masanya. Rivera mengetahui hal ini dan ia dapat menolerirnya. Namun tidak ketika Kahlo berhubungan dengan laki-laki.

Sosok pria yang menjadi selingkuhan Kahlo pun juga bukan orang sembarangan: Leon Trotsky, yang kala itu mendapat suaka politik di Meksiko karena dikejar-kejar rezim Joseph Stalin di Uni Soviet selama 1930-an.

Trotsky semula tinggal dengan Rivera, lalu pindah ke rumah Kahlo ketika mereka mulai dekat. Hubungan mereka cukup dalam, bahkan Kahlo sempat memberikan Trotsky hadiah ulang tahun sebuah lukisan potret dirinya yang dinamakan “Between the Curtains", lengkap dengan secarik surat yang bertuliskan: “Untuk Leon Trotsky, dengan semua cintaku, aku membuat lukisan ini pada 7 November 1937. Frida Kahlo di Saint Angel, Meksiko.”

Tiga tahun berselang, Trotsky tewas dibunuh Ramon Mercader, agen Stalin.

Infografik Mozaik Diego Rivera

Infografik Mozaik Diego Rivera. tirto.id/Fuad

Rumitnya lika-liku cinta mereka kerap tampak dari berbagai lukisan Kahlo. Salah satunya adalah “Self-Portrait With Cropped Hair” (1940). Lukisan bergaya sartorial yang aneh itu menampilkan Kahlo memakai satu setel jas pria berwarna hijau dan kemeja cokelat gelap, sedang duduk di kursi sambil memegang gunting. Di lantai tampak potongan rambut yang bertebaran acak. Lukisan tersebut dibuat Kahlo tatkala mengetahui Rivera berselingkuh, lalu sebagai bentuk kemarahan, ia memotong rambutnya asal-asalan.

Tiga tahun sebelumnya, ketika Rivera selingkuh dengan adik perempuan Kahlo, Christina, ia melukis “Memory, the Heart”. Setelah mereka kembali rujuk dan menikah dua tahun kemudian, Kahlo menandainya dengan membuat “Two Fridas”, lukisan dua potret dirinya tengah duduk bersebelahan sambil memakai kostum yang berbeda. Frida I, dengan kostum dari wilayah Tehuana di Meksiko, mewakili Frida yang dicintai Rivera. Sementara Frida II yang mengenakan gaun Eropa adalah representasi wanita yang dikhianati dan ditolak oleh Rivera.

Kahlo kembali mengenakan gaun Tehuana di lukisan “Self-Portrait as a Tehuana” (1943) dan “Self Portrait” (1948). “Self-Portrait as a Tehuana”—yang juga sering disebut “Diego on My Mind”—sejatinya dibuat Kahlo sejak 1940, pada masa hubungannya dan Rivera masih tidak stabil. Selain memperlihatkan Kahlo yang memakai gaun Tehuana, tampak juga ia dikelilingi serpihan serat seperti jaring, namun juga menyiratkan kaca yang retak, semacam simbol kerapuhan dirinya selama ini.

Satu hal menarik dari lukisan tersebut adalah terpampangnya potret Rivera di kening Kahlo. Ini menjadi semacam upaya yang melambangkan penglihatan batin, seolah-olah suaminya itu merupakan bagian integral dari realitas Kahlo. Gaya serupa juga tampak jelas dalam “Diego dan I” (1949), lukisan wajah Kahlo yang memperlihatkan tetesan air mata di pipi, menjadi semacam stigmata atas trauma yang tak kunjung tuntas.

Pada 13 Juli 1954, Kahlo meninggal akibat sakit yang telah lama dideritanya. Dan hanya butuh setahun saja bagi Rivera untuk menikah kembali, kali ini dengan Emma Hurtado, teman sekaligus agennya selama 10 tahun terakhir. Pernikahan itu terjadi di tahun yang sama ketika ia divonis menderita kanker. Pada 24 November 1957, tepat hari ini 62 tahun lalu, Rivera meninggal dalam usia 70.

Baca juga artikel terkait FRIDA KAHLO atau tulisan lainnya dari Eddward S Kennedy

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Windu Jusuf