Menuju konten utama

Dibunuh Polusi Udara

Setiap hari, polusi udara membunuh 18.000 orang di dunia. Ia membunuh lebih banyak manusia dibandingkan HIV AIDS, TBC, dan kecelakaan lalu lintas.

Dibunuh Polusi Udara
Warga berjalan dengan menutupi wajah di hari berpolusi di Shenyang, Provinsi Liaoning. Antara Foto/Reuters/Stringer

tirto.id - “Ada sangat banyak polusi di udara. Jika tidak di paru-paru kita, maka tak ada tempat lain yang bisa menampung semuanya.”

Bukan seorang ilmuwan yang menuliskan kalimat itu, tetapi seorang penulis komedi asal Amerika bernama Robert Orben. Kendati begitu, apa yang ditulis Orben belum tentu ngawur dan tak terbukti secara ilmiah. Nyatanya, paru-paru memang tempat bersemayam segala kotoran dalam udara yang dihirup manusia setiap detiknya.

Shahnaz Asnawi Yusuf hijrah ke Jakarta pada akhir tahun 2014. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu koran. Saat tiba di Jakarta, paru-parunya baik-baik saja. Shahnaz juga bukan perokok dan tidak hidup di keluarga yang perokok. Kekasihnya, mantan kekasihnya, teman sekamarnya, tak satu pun dari mereka adalah perokok.

Dua tahun kemudian, Shahnaz didiagnosis Pneumonia. Sistem kekebalan tubuhnya yang lemah, ditambah udara Jakarta yang memang sudah tercemar menjadi salah satu penyebabnya. Penyebab umum penyakit ini adalah infeksi akibat bakteri, tetapi ada juga yang disebabkan oleh virus.

Pneumonia juga bisa berkembang lewat infeksi dari bagian tubuh lain, di mana kuman masuk ke paru-paru melalui aliran darah. Tetapi umumnya penyebab infeksi pneumonia masuk melalui udara saat kita bernapas. Kini, Shahnaz kembali ke Medan untuk menjalani proses penyembuhan.

Menurut data World Health Organization (WHO), setiap tahunnya ada sekitar 6,5 juta orang di dunia yang meninggal dunia karena menghirup udara yang tercemar. Ini artinya, setiap hari ada 18.000 orang yang mati karena polusi.

Pada 2012, WHO menyebutkan polusi udara dari rumah tangga menyebabkan 4,3 juta kematian prematur. Sekitar 80 persen dari angka kematian tersebut berada di Asia, kawasan di mana 1,9 miliar orang masih memasak dengan kayu dan minyak tanah.

Jika diurut berdasarkan negara, Cina menjadi negara dengan angka kematian karena polusi terbesar, yakni 1,5 juta. Di posisi kedua ada India dengan jumlah kematian 1,25 juta. Indonesia ada di urutan ketiga dengan jumlah kematian prematur karena polusi udara mencapai 165.000. Lalu diikuti Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Kongo, Filipina, Vietnam, dan Myanmar.

Polusi udara di ruang terbuka juga bertanggung jawab atas 3 juta kematian prematur pada tahun 2012. Cina juga menjadi negara dengan angka kematian terbesar dalam kategori ini, dan India pun masih berada di posisi ke dua. Lalu ada Rusia, Indonesia, Pakistan, Ukraina, Nigeria, Mesir, dan Amerika Serikat. Emisi dari pembakaran batu bara menjadi penyebab kunci polusi ini.

Polusi udara menjadi pemberi risiko terbesar keempat atas kesehatan manusia, setelah risiko tekanan darah tinggi, risiko diet, dan risiko merokok. Beberapa penyakit yang disebabkan polusi udara antara lain; batuk, radang tenggorokan, asma, emfisema, kanker paru-paru, pneumonia, penurunan IQ, kerusakan sel dan syaraf otak, dan penurunan tingkat kesuburan.

International Energy Agency (IEA) baru-baru ini menerbitkan laporan berjudul Energy and Air Pollution — Energi dan Polusi Udara. Disebutkan bahwa produksi dan penggunaan energi menjadi penyebab utama polusi udara.

Di antara polutan utama bagi udara, sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon adalah yang paling merusak kesehatan manusia sebab ketiganya berhubungan dengan berbagai penyakit. Pembangkit listrik dan industri menjadi sumber utama dari sulfur dioksida, sebagian besar berasal dari penggunaan batu bara. Sementara nitrogen oksida berasal dari pembakaran minyak pada kendaraan dan pembangkit listrik.

Sebagai penyebab utama polusi udara, sektor energi harus berada di garda depan dalam barisan untuk melakukan aksi dalam memperbaiki kualitas udara di bumi. Dibutuhkan regulasi dan teknologi untuk memperbaiki ini.

IEA melaporkan bahwa di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, regulasi dari pemerintah telah membantu menurunkan emisi karbon di beberapa sektor. Di negara-negara berkembang Asia, tak ada aturan dan regulasi ketat terkait produksi dan penggunaan energi. Ini menyebabkan emisi polutan terus meningkat seiring dengan kebutuhan penggunaan energi dalam beberapa tahun terakhir.

Mengancam Keamanan Pangan

Polusi udara tak hanya bisa membunuh manusia secara langsung dengan ke dalam paru-paru dan merusaknya. Ia juga bisa membunuh manusia dengan cara membuat pasokan pangan mereka terancam.

Tingkat ozon dalam tanah memiliki dampak signifikan terhadap keamanan pangan dunia. Negara-negara dengan produksi pangan skala besar dan polusi udara yang juga tinggi mengalami kerugian akibat gagal panen. Di India, polisi ini merusak 3,5 juta ton produksi gandum dan 2,1 juta ton produksi beras. Ini cukup untuk memberi makan 90 juta orang.

Lebih jauh dari itu, tingkat ozon dalam tanah dan polutan-polutan lainnya bisa mempengaruhi vegetasi dan kehidupan hewan. Dalam jangka panjang, ini akan merusak ekosistem. Pada akhirnya, kerakusan manusia dan ketidakpedulian akan lingkungan akan menjadi senjata untuk menghabisi populasi manusia itu sendiri.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan lainnya dari Wan Ulfa Nur Zuhra

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti