Di Masyarakat yang Waras, Kekeyi Tidak Akan Jadi Bahan Hujatan

Selebgram Kekeyi rilis lagu "Keke Bukan Boneka". Instagram/@rahmawatikekeyiputricantikka23
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sejatinya simpel saja menyikapi konten-konten yang dianggap kurang bermutu, cukup dengan tidak membahasnya berulang kali.
Aku bukan bonekamu, bisa kau suruh-suruh dengan seenak maumu.

Aku bukan bonekamu bisa kau rayu-rayu. Kalau kau bosan pergi dan menghilang.

Keke bukan boneka, boneka, boneka.

Apakah Anda termasuk salah satu sahabat yang ikut membaca lirik di atas sambil menyanyi kemudian membatin tentang mengapa lagu itu terus terngiang-ngiang di kepala?

Tanggal 29 Mei kemarin Rahmawati Kekeyi Putri Cantika, atau karib kita kenal dengan nama Kekeyi baru saja merilis lagu. Tak sampai hitungan minggu klip videonya nangkring sebagai urutan terpopuler di platform YouTube. Sampai sekarang (7/6/2020) sudah ditonton lebih dari 24 juta orang.

Meski sempat diturunkan karena liriknya diduga plagiasi lagu “Aku Bukan Boneka” milik Rinni Wulandari, tapi klip itu kembali muncul, malah semakin ramai dibahas dan dibagikan di berbagai media sosial. Berbagai macam meme, komik, cover lagu, dan video reaksi muncul, nebeng tenar dari lagu bikinan Kekeyi.

Cobalah mampir ke kolom komentar di klip video atau media sosial milik Kekeyi. Bisa dibilang perempuan ini melejit karena ramai dihujat warganet. Orang-orang bilang tidak suka dengan lagu maupun tingkah lakunya. Tapi tetap saja mereka penasaran, menonton klip, dan ikut membagikan, meski disisipi kalimat ejekan.

Sadisnya cibiran warganet bisa digambarkan dari salah satu video reaksi yang dibuat Selebgram Aron Ashab. Ia beberapa kali mengunggah rekam gambar yang menunjukkan rasa jijik dan ekspresi muntah saat melihat konten mukbang Kekeyi. Atau yang terbaru, menghina perempuan itu dengan sebutan “Boneka Mampang" dan "Annabelle".


Padahal, apa salahnya membuat konten mukbang? Toh selama ini sudah banyak nama besar menjajal konten serupa, dengan cara makan yang sama--jika dianggap “menjijikkan” dengan membuat suara-suara dan membuka mulut lebar-lebar.

Atau apa yang patut direndahkan dari seseorang yang hanya bernyanyi. Terlepas dari kontroversi plagiasi lirik, Kekeyi memproduksi lagunya secara mandiri. Bukankah seharusnya ia mendapat apresiasi karena mampu menciptakan lirik yang mudah nempel di kepala?

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kekeyi panen hujatan. Hampir semua hinaan menyasar fisik dan semua perilaku buruk itu dinormalisasi warganet dengan kalimat “Wah sangat mewakili satu Indonesia” atau “Ya dia sendiri (Kekeyi) yang minta dihujat”. Seolah perundungan itu sudah jadi budaya kita dan wajar adanya.

Perundungan siber seperti yang dialami Kekeyi mencakup email atau unggahan gambar dan video kasar serta menyakitkan. Perilaku itu juga termasuk sengaja mengecualikan orang lain secara daring, membuat gosip atau rumor buruk di media sosial, dan meniru atau login menggunakan akun orang lain.

Menurut Pendiri PurpleCode, Dyhta Caturani, sebuah organisasi yang membangun gerakan menuju internet feminis, hingga kini kekerasan siber terhadap perempuan masih belum mendapat perhatian khusus. Bahkan masih ada yang menganggap kekerasan verbal atau tulisan daring sebagai guyonan atau sesuatu yang dianggap wajar.

“Padahal kekerasan maya dan nyata (offline) punya akar yang sama. Ujungnya pemerasan, pembungkaman, dan eksploitasi seksual yang menimbulkan ketakutan korban dan berpotensi pada kekerasan fisik nyata,” ujar Dyhta.


Kekeyi semula dikenal sebagai beauty vlogger. Ia melejit karena tutorial makeup seperti DIY atau makeup challenge. Kontennya yang paling unik adalah memakai balon air sebagai pengganti beauty blender. Setelahnya Kekeyi ramai panggilan ke ibukota, kolaborasi dengan selebgram-selebgram ternama dan wara-wiri di program televisi nasional.

Nama Kekeyi sempat surut beberapa saat, sampai kemudian ia kembali ramai digunjingkan karena rumor kencan dengan seorang aktor bernama Rio. Saat itu bukan cuma Kekeyi yang banjir tawaran wawancara tapi Rio ikut kecipratan hoki diundang di berbagai acara rumpi.



Selesai dari Rio, Kekeyi “dekat” dengan kreator konten bernama Miko. Keduanya sama-sama memanfaatkan Kekeyi sebagai daya tarik--jika tidak mau dibilang panjat sosial--untuk melambungkan nama mereka, meski dengan cara yang kurang elegan.

Rio, misalnya, acapkali memajang foto dirinya disandingkan dengan pose nyeleneh Kekeyi. Ia tidak bergaya serupa atau memilih sebaliknya, meletakkan gambar Kekeyi yang biasa saja. Sementara Miko beberapa kali mengajak Kekeyi kolaborasi mukbang dan menampilkan perempuan lain (secara halus) sebagai pembanding cara Kekeyi makan.

Kedua orang itu seperti sengaja memancing warganet untuk berkomentar jahat dengan memberi perbandingan objek yang tidak setara. Benar saja, unggahan mereka kemudian penuh dengan cemoohan (kebanyakan fisik) yang mengarah kepada Kekeyi.

Kekeyi dan kedua orang itu sama-sama naik namanya. Tapi Kekeyi apes karena tak henti menerima perundungan siber.



Korban Eksploitasi

Sejak dulu perempuan sudah dimanfaatkan sebagai objek komodifikasi dalam panggung hiburan. Tatanan patriarkis mengatur bagaimana perempuan harus berlaku manis, lemah lembut, cantik, dan bertubuh bagus agar bisa dieksploitasi secara ekonomi. Tak heran,bintang-bintang perempuan dipilih berdasar kriteria tersebut.

Ketika tatanan umum dirusak dengan perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria di atas, publik pun bereaksi. Kekeyi adalah anomali itu ketika ia bertingkah seperti bocah dengan berguling, makan porsi besar dan banyak, serta dianggap tidak sensual.

Sejatinya Kekeyi tetap menjadi korban dari komersialisasi perempuan karena ia diusung sejumlah pihak untuk memperoleh keuntungan materiil. Ia menjadi komoditas ekonomi, dieksploitasi sedemikian rupa dan menjadi sansak para pembenci.

Menghujat nampaknya kian menjadi bahasa masyarakat ketika merespons sesuatu yang berada di luar pakem sosial. Dan itu tak hanya tertuju kepada Kekeyi.

Baca juga artikel terkait KEKEYI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight