Advertorial

Di Era Sekarang, Digitalisasi Pasar Adalah Keharusan

Oleh: Advertorial - 1 September 2021
Dibaca Normal 2 menit
Di era pandemi, pasar tradisional jadi lesu, penjualan bisa turun hingga 50 persen.
tirto.id - Ada satu hal kontras terjadi di Indonesia kala pandemi.

Di satu sisi, jumlah belanja e-commerce di Indonesia meningkat pesat. Laporan bertajuk Marketing in the Era of Mobile: 2021 Southeast Asia Mobile Marketing Handbook yang dirilis oleh InMobi, perusahaan mobile advertising technology yang berbasis di Indonesia, menyebut bahwa belanja secara online melesat ketika pandemi. Belanja digital selama pandemi sudah melampaui belanja ketika liburan —momen puncak biasanya orang menjadi konsumtif.

“Tidak hanya konsumen menghabiskan lebih banyak waktu untuk online, tapi mereka juga membeli lebih banyak jenis barang. Pada 2020, konsumen membeli sekitar 5 kategori barang secara online. Ini meningkat 40 persen dalam satu tahun,” tulis laporan itu.

Dari lima kategori barang yang dimaksud, empat di antaranya mengalami peningkatan drastis, yakni sektor e-commerce, pendidikan, pengiriman makanan, dan grocery. Di Asia Tenggara, sebut InMobi, sekitar 43 persen responden belanja grocery —bahan pangan— lewat online.

Ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi dengan pasar tradisional. Sebelum pandemi, juga era digital, pasar adalah jujugan utama bagi mereka yang mau beli bahan pangan. Sejak dulu, pasar selalu riuh, penuh dengan aneka manusia yang punya berbagai keperluan. Penjual, pembeli, buruh gendong, tukang parkir, penjual makanan, semua tumpek blek di pasar.

Namun di era pandemi, pasar tradisional jadi lesu. Menurut Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Sarman Simanjorang, omzet pedagang di pasar tradisional yang menjual sembako turun hingga 50 persen selama pandemi. Sedangkan menurut Kementerian Perdagangan: dari 285 kabupaten dan kota, terjadi penurunan omzet pedagang pasar sebesar 39 persen. Hal ini utamanya dikarenakan banyak pembeli merasa takut pergi ke kerumunan.

Beberapa inovasi lantas dilakukan agar pasar tradisional tak meregang nyawa. Kementerian Perdagangan mendorong pemerintah daerah untuk melakukan berbagai inovasi agar pasar bisa tetap beroperasi. Selain mengatur jumlah pedagang, Kemendag juga mendorong sistem pesan antar barang dengan memanfaatkan teknologi.

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, mengatakan digitalisasi pasar tradisional adalah tuntutan zaman, bukan hanya karena ada pandemi. Meski begitu, Jerry mengakui ini adalah proses panjang. Setidaknya ada tiga hal yang harus disiapkan, yakni infrastruktur, SDM, dan dukungan dari pihak swasta. Menurut Jerry, pihak swasta bisa amat berperan di transaksi dan pembayaran.

“Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta harus dimaksimalkan untuk menunjang program digitalisasi pasar rakyat. Selain memiliki teknologi dan SDM yang dapat mendukung pemerintah, sinergi dengan sektor swasta juga akan membuka lapangan kerja, sehingga ekonomi secara keseluruhan bisa berjalan,” ujar Jerry.

Infografik Advertorial Digitalisasi Pasar
Infografik Advertorial Digitalisasi Pasar. tirto.id/Mojo


Dukungan Perusahaan Teknologi dalam Digitalisasi Pasar


Saat ini, banyak perusahaan berbasis teknologi yang turut mengambil andil dalam mendorong pasar tradisional untuk bertransformasi digital. Tokopedia adalah salah satu pihak swasta yang aktif membantu pemerintah dalam upaya digitalisasi pasar tradisional. Dengan program Hyperlocal, Tokopedia bergerak membantu pemulihan ekonomi dengan cara mendorong UKM lokal dan pedagang di pasar tradisional untuk bisa masuk ke ranah penjualan online. Salah satu turunan inisiatif ini adalah program Pasar Digital yang sudah diluncurkan sejak April 2020.

“Digitalisasi pasar tradisional merupakan salah satu wujud inisiatif Hyperlocal Tokopedia untuk meningkatkan daya saing para penjual di pasar tradisional berbagai daerah melalui pemanfaatan teknologi. Ini diharapkan bisa berkontribusi untuk perekonomian daerah,” ujar Emmiryzan, Public Policy and Government Relations Senior Lead, Tokopedia.

Dalam melakukan upaya digitalisasi ini, Emmir dan timnya berkolaborasi dengan Kemendag dan Pemda untuk memberikan pendampingan dan edukasi yang intensif kepada pengurus pasar, juga koperasi pasar. Mereka juga memberikan wadah untuk saling berbagi dan bertukar informasi.

Saat ini, sudah ada tujuh pasar digital yang bergabung di Tokopedia. Mereka adalah Pasar Cikurubuk di Tasikmalaya, Pasar Sabilulungan di Kabupaten Bandung, Pasar Cihapit di Kota Bandung, Pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Anyar di Tangerang, juga Pasar Kampung Baru dan Pasar Pa'baeng-baeng Timur di Makassar.

Digitalisasi pasar tradisional ini perlahan tapi pasti meningkatkan kembali omzet yang sempat hilang karena pandemi. Di Pasar Sehat Sabilulungan, ada ratusan pedagang setempat yang amat terbantu. Sedangkan di Pasar Cikurubuk, sejak bergabung dengan Tokopedia pada April 2020, penjualan produk para pedagang sudah mencapai 40 ribu produk.

Pasar Beringharjo di Yogyakarta yang baru diluncurkan Juni 2021 lalu telah memfasilitasi puluhan pedagang pasar berjualan melalui pemanfaatan platform Tokopedia di tengah pandemi. Pasar Kampung Baru dan Pasar Pa'baeng-baeng Timur di Makassar yang diluncurkan Juli 2021 pun juga telah mengakomodir puluhan pedagang.

Ke depannya, Tokopedia melalui Emmir, akan memperbanyak kolaborasi dengan pemerintah daerah di berbagai penjuru Indonesia untuk melakukan digitalisasi di berbagai pasar tradisional,

“Yang akan diwujudkan dalam waktu dekat adalah digitalisasi pasar tradisional di Provinsi Jawa Timur dan Bali.” []
DarkLight