Round Up

Di Balik Promosi Jabatan Orang-Orang Dekat Jokowi di Tubuh TNI

Reporter: Andrian Pratama Taher - 25 Jan 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad dan Agus Subiyanto jadi Wakasad dinilai membuktikan pengaruh Jokowi di TNI semakin nyata.
tirto.id - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa merotasi ratusan Perwira Tinggi (Pati) TNI melalui Keputusan Nomor 66/I/2022 tanggal 21 Januari 2022 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di Lingkungan TNI. Setidaknya ada 328 Pati dimutasi dalam surat tersebut.

“Dari 328 Perwira Tinggi TNI yang mendapatkan jabatan baru tersebut, 28 di antara-nya masuk ke dalam jabatan satuan-satuan baru TNI (diamanatkan dalam Perpres No. 66 tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI) seperti Komando Armada TNI AL, Komando Operasi Udara Nasional TNI AU, Pusat Psikologi TNI, Pusat Pengadaan TNI dan Pusat Reformasi Birokrasi TNI,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Prantara Santosa dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/1/2022).

Sejumlah jabatan strategis pun diisi dalam mutasi kali ini. Andika menunjuk Pangdam Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak sebagai Pangkostrad. Maruli yang merupakan menantu Menko Martim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menggantikan Dudung Abdurachman yang resmi jadi KSAD.

Selain Maruli, Andika menunjuk Pangdam Kasuari Mayjen I Nyoman Cantiasa sebagai Pangkogabwilhan III, Danpushidrosal Laksdya TNI Agung Prasetiawan sebagai Pangkoarmada dan Komandan Jenderal Akademi TNI Marsdya TNI Andyawan Martono sebagai Pangkoopsudnas.

Kursi Danjen Akademi TNI diisi oleh Wakasad Letjen TNI Bakti Agus Fajari. Sedangkan Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Agus Subiyanto lantas mendapat amanah sebagai Wakasad. Agus pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres era Joko Widodo pada periode 2020-2021.

Sementara itu, Kursi Dankodiklatad diamanahkan kepada Mayjen TNI Ignatius Yogo. Kursi Danpushidrosal yang sebelumnya diisi oleh Agung Prasetyawan diisi oleh Laksdya TNI Nurhidayat yang sebelumnya adalah Dankodiklat TNI AL. Kursi Dankodiklat TNI AL lantas dijabat oleh Mayjen TNI Mar Hartono.

Di tubuh TNI AU, Andika menunjuk Marsda TNI Nanang Santoso yang sebelumnya Pa Sahli Tk. III Bid. Ekkudag Panglima TNI untuk menjadi Kodiklat TNI AU.



Rotasi tersebut mendapat sorotan dari pemerhati militer. Peneliti Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas menilai mutasi kali ini membawa sejumlah dampak seperti isu regenerasi TNI hingga soal kapasitas Maruli sebagai Pangkostrad. Namun poin lain yang menjadi sorotan adalah kedekatan Maruli dan Agus Subiyanto dengan Jokowi.

Anton menilai, penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad dan Pangdam Siliwangi Mayjen Agus Subiyanto sebagai Wakasad membuktikan ada pengaruh Jokowi, apalagi keduanya adalah mantan Danpaspampres.

“Fenomena ‘president’s men’ menjabat pos strategis juga bukan hal baru. Dan memang riwayat penugasan pada pos yang bersinggungan langsung dengan presiden memang sudah sejak lama menjadi salah satu ‘jalur’ promosi di tubuh militer," kata Anton kepada reporter Tirto, Sabtu (22/1/2022).

Anton mencontohkan, pada era Presiden Soeharta misalnya, Panglima ABRI pernah dijabat oleh mantan ajudan presiden yakni Try Sutrisno dan Wiranto. Try Sutrisno bahkan sampai menjabat posisi Wakil Presiden RI.

Hal serupa terjadi di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada era SBY di 2008, pos jabatan Pangkostrad sempat diisi Erwin Sudjono dan Danjen Kopassus dipegang Pramono Edhi Wibowo. Erwin dan Pramono adalah ipar SBY.

“Walaupun demikian, tentu saja riwayat kedekatan dengan presiden tidak dapat memberikan garansi penuh bahwa sosok tersebut dapat menduduki jabatan bintang empat,” kata Anton.

Hal senada diungkapkan Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi yang juga menyoroti soal pengaruh Presiden Jokowi. Dalam penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad, Fahmi mengakui bahwa ada unsur politis dalam rotasi tersebut.

"Harus diakui pengisian jabatan-jabatan strategis terutama yang penunjukannya harus melalui persetujuan presiden, tentu tak terhindarkan dari dinamika politik. Namun yang terpenting adalah hal-hal yang bersifat politis seperti kedekatan dengan kekuasaan maupun kekuatan politik tertentu tidaklah menjadi pertimbangan utama,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis.



Fahmi menilai ada sejumlah tantangan yang harus dikelola Maruli sebagai Pangkostrad baru mulai dari soal pengembangan kekuatan, pembinaan personel, teritorial hingga pembinaan di bidang perencanaan, pengendalian dan pengawasan. Secara khusus, Maruli harus mengemban tugas pokok dan tanggung jawab yang sesuai dan selaras dengan Panglima TNI Jenderal Andika dan KSAD Jenderal Dudung Abdurrahman.

“Lalu apakah Maruli adalah satu-satunya yang memenuhi kriteria dan layak? Tentu saja tidak. Namun dari sekian banyak perwira yang layak, jabatan itu hanya bisa dipegang oleh salah satu dari mereka. Nah dalam hal ini, bisa saja faktor kekerabatan dan chemistry dengan Panglima Tertinggi, menjadi nilai tambah bagi Maruli," kata Fahmi.

Sebagai catatan, Panglima Tertinggi dalam tubuh TNI adalah Presiden Jokowi. Hal tersebut sesuai Pasal 10 UUD 1945 bahwa presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Fahmi juga menyinggung soal regenerasi TNI karena ada 3 prajurit lulusan akademi militer 1990-an yakni I Nyoman Cantiasa, peraih Adhi Makayasa 1990, Agus Subiyanto alumni 1991 dan yang termuda Maruli Simanjuntak yang merupakan alumni 1992. Namun, khusus Agus Subiyanto, Fahmi menilai promosi Agus tergolong cepat karena hanya butuh waktu kurang dari 2,5 tahun sejak menjadi Danrem Bogor hingga akhirnya duduk jadi bintang 3.

“Nama Maruli memang sudah populer sejak periode pertama Presiden Jokowi dan banyak diprediksi akan menjadi salah satu bintang yang bersinar di tubuh TNI AD. Bahkan sudah cukup menonjol sebelumnya ketika terjadi peristiwa penyerangan oleh sejumlah oknum Kopassus ke Lapas Cebongan Yogyakarta," kata Fahmi.

Namun, kata Fahmi, nama Agus Subiyanto baru populer belakangan. Terutama ketika menjabat Danpaspampres dan terjadi insiden yang dipicu kesalahpahaman antara sejumlah personel Paspampres dengan aparat kepolisian.

“Tak lama kemudian mantan Dandim 0735/Surakarta ini ditunjuk menjadi Pangdam Siliwangi dan hanya beberapa bulan setelahnya, dipromosikan menjadi Wakasad. Cukup singkat dan tanpa hiruk pikuk," kata Fahmi.



Sementara itu, Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Imam memandang rotasi yang dilakukan Andika memang alamiah harus dilakukan oleh TNI. Ia sepakat bahwa rotasi memperhatikan soal chemistry dalam menggerakkan roda organisasi TNI. Namun rotasi kali ini juga tidak lepas dari kepentingan upaya Andika melakukan 'lobi politik' kepada Jokowi dengan menempatkan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan presiden.

“Faktor keluarga dari lingkaran Istana juga boleh jadi menjadi pertimbangan,” kata Imam kepada reporter Tirto, Minggu (23/1/2022).

Imam mengatakan, Andika harus memerlukan dukungan Jokowi karena kinerja TNI akan disorot publik selama bertugas sebentar sebagai panglima. Dukungan Jokowi bisa memuluskan kerja-kerja TNI seperti lobi regulasi dengan DPR. Di sisi lain, Jokowi juga mendapat keuntungan untuk menambah pengaruh di TNI meski sudah berstatus panglima tertinggi.

“Jokowi saya kira mesti berpengaruh karena merupaka panglima tertinggi TNI. Karena itu, siapa pun yang berada di jabatan TNI, presiden tetap sebagai pengendali kebijakan,” kata Imam.

Akan tetapi, ia menilai aksi Andika tidak bisa dikaitkan dengan kontestasi pemilu untuk saat ini. Imam beralasan, Andika belum mencari perhatian lewat rotasi ini meski nama menantu mantan Kepala BIN AM Hendropriyono itu masuk bursa capres-cawapres 2024.

“Jenderal Andika secara alamiah tentu akan mencari dukungan Jokowi terutama untuk mendukung kinerjanya sebagai Panglima TNI. Kalau soal dukungan politik saya kira masih dinamis, karena masih tentara aktif," kata Imam.

Reporter Tirto pun berupaya meminta konfirmasi soal alasan penempatan Maruli sebagai Pangkostrad dan Agus sebagai Wakasad. Namun hingga artikel ini rilis, Andika belum merespons.


Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight