Di Balik Kasus-Kasus Kontroversial Dolce&Gabbana

Oleh: Joan Aurelia - 25 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Lini fesyen asal Italia ini sudah beberapa kali kena protes.
tirto.id - Ada yang harus dipikirkan desainer Domenico Dolce dan Stefano Gabbana selain merancang busana. Para pendiri lini fesyen Dolce & Gabbana (D&G) sebaiknya mulai memikirkan cara bicara dan bertindak agar terhindar dari protes para selebritas, klien loyal, hingga aktivis.

D&G terpaksa menghadapi masalah dengan sejumlah situs jual-beli daring asal Tiongkok setelah mereka berhenti menjual produk jenama mewah asal Italia itu. Yangmatou misalnya. Situs jual-beli daring tersebut menarik 58.000 produk D&G yang hendak dijual. Mereka melakukan hal itu setelah iklan terbaru D&G tersebar di Tiongkok dan dianggap sebagai bentuk rasisme.

Video komersial tersebut memperlihatkan seorang wanita Asia tengah berada di dalam sebuah restoran dan hendak menyantap sejumlah menu masakan Italia menggunakan sumpit. Ketika dia akan makan cannoli dan kesusahan, seorang narator pria bertanya, "Apakah itu terlalu besar untukmu?"

Unggahan video iklan di media sosial D&G ini mengundang protes khalayak. Bukannya mendinginkan suasa, Gabbana malah sempat berkata bahwa orang Cina adalah pemakan anjing lewat pesan langsung di Instagram. Tak lama kemudian, ia menghapus pesan tersebut dan berkata bahwa akun media sosialnya dibajak. Beragam protes terus bermunculan. Akhirnya D&G membatalkan jadwal peragaan busana di kota Shanghai.

D&G bisa dikatakan sebagai salah satu lini busana yang cukup sering mengundang kontroversi. Pada tahun 2007, D&G meluncurkan iklan produk yang menggambarkan seorang wanita mengenakan terusan hitam ketat mini tergeletak di lantai dan dikelilingi beberapa pria menggunakan setelan jas lengkap. Iklan tersebut dianggap menyiratkan aksi gang rape dan akhirnya dilarang tayang di negara Italia.

Tahun 2012, protes datang dari Hong Kong. Financial Today melaporkan bahwa hanya turis asal RRC yang boleh memotret fasad gerai D&G di kawasan Canton Road, area belanja yang dipenuhi beberapa gerai lini busana premium asal Eropa. Sebagian besar turis yang datang berasal dari luar Hong Kong, terutama ‘mainland China’. Kebijakan tersebut dinilai rasis, membuat beberapa orang sempat berdemonstrasi di depan toko tersebut.



Tiga tahun kemudian, tim D&G kembali harus menangani demonstrasi yang dilakukan sebuah komunitas LGBT di depan gerai D&G di London. Saat itu Dolce mengatakan bahwa bayi yang berasal dari metode pembuahan in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung adalah bayi sintetik. Para demonstran menganggap pernyataan Dolce adalah sikap homofobik.

“Gay yang homofobik adalah yang terburuk dari yang paling buruk. Ia mengkhianati kaumnya sendiri dan tindakan tersebut sangat memalukan. Kami harap protes ini bisa dilakukan juga di toko-toko D&G lainnya,” kata salah satu demonstran.

Pendapat Dolce itu juga membuat sejumlah selebritas tersinggung. Elton John, penyanyi yang memilih metode IVF untuk mendapatkan momongan, berkata “Pola pikir Anda kuno, sama seperti fesyen yang Anda ciptakan. Saya tidak akan pernah memakai D&G lagi. #BoycottDolceGabbana.”

Protes Elton ini kemudian didukung oleh Madonna, Victoria Beckham, Courtney Love, Ryan Murphy, dan Andy Cohen. Beberapa dari mereka pun menyatakan tidak akan mengenakan busana karya D&G lagi meski sesungguhnya cukup menyukai desain produknya.

Kepada Vogue, Dolce mengakui pernyataannya tidak tepat dan ia meminta maaf atas tindakannya. Dalam artikel tersebut ia pun menyiratkan rasa sesal lantaran belum berhasil memiliki anak. Dolce berkisah bahwa kebijakan di Italia menghambat ia untuk melakukan adopsi atau metode lain dalam memiliki anak.

Infografik Dolce dan gabbana


Ketika protes anak mereda, tagar BoycottDolceGabbana muncul lagi lantaran mereka bersedia mensponsori busana Melania Trump. Ketika ia berperan sebagai ibu negara, sejumlah desainer ternama asal Amerika Serikat seperti Marc Jacob dan Tom Ford menolak mendesain baju untuk Melania. D&G melakukan hal sebaliknya. Dalam beberapa kunjungan kenegaraan seperti ke Vatikan dan Australia, Melania mengenakan busana serta aksesoris D&G.

Untuk kasus iklan terbaru, Gabbana sempat tidak bisa berkomentar dingin. Pada akhirnya ia dan tim meminta maaf secara resmi. Namun hal tersebut rasanya sudah terlambat. Mereka sudah mulai kehilangan kesan baik di mata para model dan selebritas. Zhang Ziyi salah satunya.

Di samping itu mereka juga harus mengatur strategi agar tetap bisa eksis di negara dengan pembeli barang mewah dalam nilai besar ini. Pada tahun lalu, konsumen Cina diperkirakan membelanjakan sekitar 100 miliar dolar untuk membeli barang mewah. Ini nyaris sepertiga dari nilai global perdagangan barang mewah.

Sebenarnya, D&G dan Tiongkok pernah punya kenangan manis ketika ada peragaan koleksi terbaru yang terdiri dari ratusan busana di Beijing. Tema saat itu “Ode to China”. Dua tahun lalu mereka kembali ke Cina dan mengadakan peragaan busana couture bernuansa Asia.

“Domenico jatuh hati dengan Asia dan ia selalu ingin kembali,” kata Gabbana.

Desainer ini yakin bahwa masa depan mereka ada di Asia. Kini keyakinan itu teruji dan harus diperjuangkan kembali.

Baca juga artikel terkait TREN FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono