Menuju konten utama

Di Balik Hilangnya Pepsi dari Gerai Minimarket

Minuman ringan merek Pepsi sudah sulit ditemukan di berbagai convenience store lebih kurang selama tiga bulan terakhir.

Di Balik Hilangnya Pepsi dari Gerai Minimarket
Pepsi. [Foto/Shutterstock]

tirto.id - Ada yang janggal dari jajaran minuman ringan yang dipajang di etalase beberapa convenience store yang Tirto datangi. Merek minuman Pepsi hilang dari peredaran. Setidaknya, ini tergambar dari tiga convenience store di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan.

Di gerai Indomaret, merek Pepsi yang biasa dijual dalam bentuk kalengan dan juga botol plastik besar ukuran 1,5 liter sudah tidak ada lagi. Rak minuman ringan jenis soda memajang berbagai merek minuman kecuali Pepsi.

Pun demikian dengan botol plastik besar, hanya memajang Big Cola dan Big Stroberi ukuran 3,1 liter yang dijual dengan harga Rp19.900 per botol.

Menghilangnya merek Pepsi berbagai ukuran ini menurut salah satu pramuniaga sudah berlangsung sekira tiga bulan lamanya.

“Produk Pepsi datangnya jarang dan kalau datang juga barangnya sedikit. Udah lama sih enggak ada,” jelas Nanang, bukan nama sebenarnya, salah seorang pramuniaga gerai Indomaret di Kemang Timur yang Tirto temui.

Absennya minuman ringan merek Pepsi juga terjadi di gerai Alfamart dan Circle K. Sudah sekitar tiga bulan sampai dengan lebih dari dua belas bulan, merek Pepsi absen dari jajaran produk minuman. Bahkan, di salah satu gerai Alfamart yang Tirto datangi, merek Pepsi sudah dicoret dari daftar rak barang.

Ini menandakan, absennya barang sudah terlalu lama sehingga gerai memutuskan untuk mengisi kekosongan rak Pepsi dengan merek lainnya.

“Di Alfamart rata-rata sama, sudah tidak ada barang datang kira-kira tiga bulan lalu. Terakhir datang, barang sedikit cuma satu-dua, setelah itu enggak ada lagi. [Pepsi] di rak juga sudah enggak masuk di tatanan karena sudah lama barangnya enggak ada,” ucap Ayu, bukan nama sebenarnya, seorang store display Alfamart yang Tirto temui.

Sedangkan di Circle K, absennya Pepsi sudah berlangsung lebih lama, lebih dari satu tahun terakhir. Berbagai minuman ringan siap minum jenis soda terpampang manis di etalase kaca Circle K, kecuali Pepsi. Menurut salah satu pramuniaga yang Tirto temui, merek Pepsi sudah tidak menyuplai barang lagi di gerai tersebut.

Tirto pun berusaha mencari minuman Pepsi di setidaknya empat toko kelontong dan agen yang agak besar. Hasilnya pun sama: nihil.

Merek minuman ringan jenis soda lainnya seperti Coca Cola, Sprite, Fanta dan Fanta Orange, 7Up, Root Beer, Green Sand, dan sebagainya, masih mudah ditemui mulai dari toko kelontong sampai dengan convenience store.

Jaringan Ritel Belum Terinfo tentang Pepsi

Berusaha mencari tahu mengenai penyebab hilangnya merek Pepsi dari jajaran minuman ringan siap minum, Tirto menghubungi beberapa manajemen jaringan ritel, salah satunya adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, pemilik jaringan ritel Alfamart.

Kepada reporter Tirto, manajemen Alfamart menyebut bahwa pihaknya belum mendapat keterangan resmi dari pihak distributor maupun produsen mengenai ketersediaan minuman merek Pepsi di Indonesia.

“Sejauh ini kami belum mendapat keterangan resmi apa pun dari pihak produsen dan distributor Pepsi di Indonesia, yang distribusinya melalui PT Indofood,” jelas Solihin, Corporate Affairs Director Alfamart, melalui sambungan telepon.

Solihin juga belum dapat memastikan keberadaan merek Pepsi ke depannya. Lantaran ketidakjelasan inilah, gerai-gerai di Alfamart terpaksa mencoret merek Pepsi dari jajaran raknya. Ini karena, penempatan atau display sebuah produk dalam etalase gerai, memiliki hitungan dan prioritas.

Jelasnya begini: sebuah barang atau produk bisa ditempatkan di rak sebuah convenience store berkaitan dengan hitungan buffer stock barang atau ketersediaan barang. Jika stok barang tidak ada untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, maka gerai convenience store pun harus memanfaatkan kavling rak tersebut untuk barang lain yang tersedia dan mendatangkan nilai jual.

Sebagai salah satu jaringan ritel modern, Alfamart melakukan evaluasi terhadap produk-produk yang dijual setidaknya setiap tiga bulan sekali. Evaluasi tersebut dilakukan terhadap seluruh produk barang.

Secara garis besar, evaluasi mencerminkan performa penjualan sebuah produk. Ini sekaligus mencerminkan apakah konsumen menyukai produk tersebut atau tidak. Hasilnya, jika evaluasi dinilai baik, maka sebuah produk bisa mendapat display di rak.

Minimarket seperti Alfamart yang memiliki tempat penjualan atau sales space terbatas, mengharuskan display setiap produk di setiap rak dimaksimalkan sedemikian rupa. Dengan begitu, tentu memprioritaskan barang yang memiliki stok serta diminati oleh konsumen.

“Sehingga tetap bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan konsumen,” jelas Nur Rachman, Corporate Communication GM Alfamart kepada reporter Tirto melalui aplikasi pesan instan.

Setali tiga uang, Wiwiek Yusuf, Marketing Director PT Indomarco Prismatama yang merupakan jaringan ritel waralaba Indomaret, mengungkapkan ada dua sebab sebuah produk absen di etalase gerai. Pertama, karena potensi sales atau penjualan barang tersebut kecil.

Kedua, “produsen sudah tidak mengembangkan produk itu lagi.”

Sengketa Pepsi dengan Indofood

Absennya merek Pepsi dari peredaran minuman ringan jenis soda siap minum tak bisa lepas dari Indofood, produsen sekaligus distributor Pepsi di Indonesia.

Hubungan PepsiCo dan Indofood merenggang sejak 2017, terkait mundurnya PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum) yang merupakan anak usaha IndoAgri, perusahaan terafiliasi Indofood dari penerapan sertifikasi minyak sawit berkelanjutan atau Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO).

Anak usaha IndoAgri yang terafiliasi dengan Indofood, Lonsum, diduga melakukan 23 pelanggaran prinsip dan kriteria industri perkebunan sawit, mulai dari kondisi pekerja, risiko kesehatan, diskriminasi gender pekerja, sampai dengan pekerja anak.

Atas hal ini, PepsiCo menyatakan kekecewaannya. PepsiCo beserta perusahaan patungan yang didirikan bersama Indofood memutuskan untuk tidak lagi menggunakan minyak kelapa sawit dari IndoAgri, induk usaha Lonsum.

“Kami sangat kecewa mengetahui upaya IndoAgri untuk menarik PT Lonsum dari RSPO. Ini tidak dapat diterima dan tidak konsisten dengan kebijakan dan komitmen kami tentang minyak sawit berkelanjutan,” ungkap Juru Bicara PepsiCo melansir FoodNavigator-Asia.

Juru Bicara PepsiCo juga menyatakan belum mengungkapkan rincian tentang masa depan terkait perusahaan kerja sama yang ada di Indonesia bersama Indofood. Sebagai penyegar ingatan, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk melakukan akuisisi terhadap PT Pepsi-Cola Indobeverages di tahun 2013 dengan nilai $30 juta setara Rp 300 miliar dengan kurs yang berlaku saat itu.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang maupun Sekretaris Perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Gideon Putro belum memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang Tirto ajukan terkait Pepsi.

"Sorry, saya tidak ikuti," kata Franciscus Welirang, singkat. Sementara pesan dari Tirto tidak dibalas oleh Gideon.

Melansir Kompas.com, Pepsi-Cola Indobeverages (PCIB) merupakan perusahaan patungan antara PT Gapura Usahatama (perusahaan yang masih terafiliasi dengan Salim Group) dengan Seven-Up Nederland BV yang merupakan perusahaan aviliasi PepsiCo, yang bergerak di bidang penjualan non-alkohol dengan merek dagang Pepsi, 7Up, dan Tropicana Twister, dan masih banyak lagi.

Baca juga artikel terkait PEPSI atau tulisan lainnya dari Dea Chadiza Syafina

tirto.id - Bisnis
Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti