Di Balik Bank Jorjoran Membidik Nasabah Kartu Kredit

Ilustrasi Kartu kredit. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 26 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kartu kredit bisa jadi sumber fee dari pendapatan bunga, juga sebagai pintu masuk produk lainnya untuk membidik para nasabah.
tirto.id - “Saya sih setiap bulan pasti pake kartu kredit karena ada transaksi pembayaran bulanan rutin yang harus dibayar pake kartu kredit”

Hanif, 25 tahun, sudah dua tahun jadi nasabah kartu kredit sebuah bank BUMN. Ia merasa lebih banyak mendapatkan manfaat ketimbang kerugiannya. Misalnya saja, kartu kredit sangat membantunya saat harus membeli sesuatu yang mendadak dengan harga yang tidak murah.

Contohnya saja tiket pesawat. “Cuma punya satu kartu kredit dan sebisa mungkin lunasi tagihan, supaya penilaian di SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) enggak jelek,” kata pria yang tinggal di Jakarta Barat ini kepada Tirto.

Hanif menjadi salah satu dari sekitar 17,15 juta pengguna kartu kredit yang beredar di Indonesia per Februari 2019. Bisnis kartu kredit perbankan awal tahun 2019 ini terbilang moncer.

Data volume maupun nominal transaksi kartu kredit yang dirilis Bank Indonesia (BI) memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan selama periode Januari-Februari 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu. Per Februari 2019, total volume transaksi kartu kredit mencapai 55,46 juta transaksi.

Sedangkan nominal transaksi selama dua bulan pertama 2019 menyentuh angka Rp53,84 triliun. Dibandingkan dengan periode yang sama 2018, volume transaksi bertambah 1,37 juta transaksi. Pun demikian dengan nominal transaksi yang naik Rp6,02 triliun dari Rp47,82 triliun.

Bisnis kartu kredit perbankan berada dalam tren kenaikan setidaknya selama tujuh tahun terakhir. Tercatat dari sisi volume maupun nominal transaksi, kinerja kartu kredit perbankan 2018 menorehkan angka tertinggi. Volume transaksi kartu kredit mencapai 338,35 juta transaksi, nominal transaksi menembus angka Rp314,29 triliun.


Direktur BCA Santoso Liem mengakui, gesekan kartu kredit selama dua bulan pertama 2019 relatif tinggi. Ini karena, ada berbagai stimulus yang terjadi selama periode tersebut. Pertama, adalah karena bulan Januari merupakan bulan bayar tagihan pasca musim liburan akhir tahun.

Kedua, didorong oleh berbagai promo yang dilakukan BCA pada Februari, yang merupakan bulan ulang tahun BCA ke-62 bertema BCA Expovesary 2019. Di bulan yang sama, BCA juga menggelar BCA Singapore Airlines Travel Fair 2019 dan BCA Australia Travel Fair 2019 di pertengahan Maret ini.

“Itulah yang menjadi stimulus kami menggenjot pertumbuhan kartu kredit sehingga secara year-on-year pertumbuhan nominal kartu kredit kami sebesar 13,8 persen per Februari 2019 sehingga rata-rata transaksi kartu kredit BCA per bulan sekira Rp6,4 triliun dengan ticket size rata-rata Rp500 ribu-Rp1 juta," kata Santoso Liem kepada Tirto.

Dengan capaian yang cukup ciamik selama dua bulan pertama 2019 ini, BCA menargetkan pertumbuhan transaksi sebesar 10 persen setiap tahun dan pertumbuhan nominal pembiayaan dari segmen kartu kredit mencapai Rp76 triliun-Rp77 triliun pada akhir 2019.

Pertumbuhan itu sama seperti yang ditargetkan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. General Manager Card Business Division BNI Okki Rushartomo menyebutkan, nilai transaksi kartu kredit BNI sepanjang Januari-Februari 2019 ini menyentuh angka lebih dari Rp6 triliun.

"Strategi kami masih fokus ke kategori transaksi leisure experience (travel dan dining) dan juga e-commerce," jelas Okki kepada Tirto.

Salah satu bank yang juga merupakan pemain besar di bisnis kartu kredit adalah CIMB Niaga. Saat ini sudah ada 2,6 juta kartu kredit CIMB Niaga yang beredar di masyarakat Indonesia. Lani Darmawan, Direktur Consumer Banking CIMB Niaga, mengklaim rasio kredit bermasalah dari segmen bisnis kartu kredit ini pun terjaga dan masih terbilang sehat.

“Dengan penerapan collection system terbaru serta tenaga yang terlatih dan proses saringan analisa kredit yang baik, NPL (kredit macet) bisa kami jaga dan berada di level yang sehat,” jelas Lani kepada Tirto.


Kartu Kredit yang Seksi

Namun, bukan berarti bisnis kartu kredit berjalan mulus. Ada sejumlah permasalahan yang mengintai segmen bisnis ini. Misalnya saja seperti jual beli data nasabah pengguna kartu kredit perbankan.

Dalam pemberitaan Tirto sebelumnya berjudul Bagaimana Data Nasabah Kartu Kredit Diperjualbelikan, ada praktik jual beli data nasabah kartu kredit perbankan dengan biaya yang terbilang terjangkau. Sebanyak 1.000 paket data nasabah dibanderol dengan harga Rp350 ribu. Isi paket data nasabah tersebut terbilang lengkap karena tertera nama, nomor telepon, alamat, serta nomor kartu kredit.

Selain itu, juga ada potensi gagal bayar kartu kredit yang menimbulkan kredit macet bagi perbankan. Meski saat ini secara keseluruhan, rasio kredit bermasalah industri perbankan masing-masing sebesar 2,56 persen untuk NPL gross dan 1,13 persen untuk NPL net per Januari 2019 berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (PDF).

Lani Darmawan bilang, bisnis kartu kredit merupakan bisnis yang memiliki risiko cukup tinggi bagi perbankan. Oleh karena itu, penting bagi penyelenggara seperti perbankan, untuk mempunyai sistem underwriting atau sistem penilaian risiko calon nasabah kartu kredit. Selain itu, perbankan juga harus memiliki sistem pemasaran, manajemen portofolio serta collection yang berkesinambungan.

Bisnis kartu kredit, menurut Lani masih menguntungkan bagi perbankan. Sebab, dapat membangun relasi yang baik dengan para nasabah. “Dengan memfasilitasi nasabah sehari-hari dan memberikan kemudahan kegiatan nasabah. Sehingga, bisnis kartu kredit pada akhirnya bisa membangun customer experience yang baik,” ucap Lani.

BCA juga tetap menggenjot bisnis sektor kartu kredit. Sebab, besaran NPL kartu kredit BCA masih di kisaran 1,9 persen per Februari 2019, membuat BCA percaya diri untuk tetap agresif menggenjot sektor bisnis ini.

“Bisnis kartu kredit memang tetap memiliki risiko. Tapi mengapa perbankan tertarik, karena kami tetap prudent (berhati-hati) dalam memilih nasabah yang memiliki kelayakan dan potensi untuk diberikan fasilitas kartu kredit,” jelas Santoso.



Penyaluran kartu kredit BCA, menurut Santoso, menyasar nasabah yang telah diketahui rekam jejak aktivitas perbankan. BCA memang lebih menyasar masyarakat yang telah terlebih dahulu menjadi nasabah simpanan, nasabah giro, maupun nasabah deposito BCA. Dengan begitu, perseroan pun mengetahui kredibilitas calon nasabah pengguna fasilitas kartu kredit. Sehingga BCA mampu menilai kelayakan dan juga kredibilitas calon nasabah yang akan diberikan fasilitas kartu kredit.

“Kami tidak akan gegabah dalam menyalurkan kartu kredit. Nasabah BCA sekarang lebih dari 18 juta, sementara kartu kredit BCA yang beredar 3,7 juta-3,8 juta dengan jumlah konsumen individu kartu kredit sebanyak 1,7 juta nasabah,” rinci Santoso.

Nasabah individu pengguna kartu kredit BCA memang jumlahnya masih sepersepuluh total nasabah BCA secara keseluruhan. Sehingga, BCA masih memiliki potensi yang besar untuk menambah jumlah nasabah pengguna kartu kredit. Selain itu, pertumbuhan bisnis kartu kredit juga didorong oleh pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang terus bertambah.

Keuntungan yang diperoleh perbankan dari penyaluran kredit melalui kartu di antaranya adalah sumber pendapatan berbasis bunga alias fee based income. Angkanya memang tidak besar, jika dibandingkan dengan segmentasi kredit lainnya.

Sebab, besaran bunga kartu kredit sudah di-capping alias ditentukan batas atas maksimum sebesar 2,25 persen per bulan setara 26,95 persen per tahun yang berlaku sejak Juni 2017 sesuai dengan aturan yang dikeluarkan BI.

Namun, menurut para bankir, kartu kredit memiliki kaitan yang tinggi dengan para nasabah lantaran berbagai program dan fitur menarik yang ditawarkan kartu kredit. "Bisnis kartu kredit memberikan revenue dari sisi fee based income maupun interest yang signifikan untuk bank dengan risiko yang terukur dan cenderung berada dalam tren turun," ucap Okki.

Santoso menambahkan, keputusan BCA tetap mengembangkan bisnis kartu kredit karena terdapat efek domino yang diciptakan dari produk ini. Misalnya saja, setelah menggunakan kartu kredit, nasabah dapat menjajal kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit pemilikan rumah (KPR), asuransi, maupun berbagai produk perbankan lain yang disediakan oleh bank. Ada beberapa bank, bahkan mensyaratkan seorang nasabah harus memiliki kartu kredit sebelum mengajukan kredit tanpa agunan (KTA).

“Kami memberikan penawaran-penawaran produk yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen dan konsumen juga merasa mudah tetapi dengan harga dan pembiayaan yang tidak mahal. Dengan begitu, pilihan produk yang bisa digunakan nasabah menjadi beragam, sehingga BCA semakin dekat dengan konsumen. Itu prinsip kami,” kata Santoso.

Baca juga artikel terkait KARTU KREDIT atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight