Di Balik Akuisisi Carrefour oleh Suning

Transmart Carrefour. FOTO/ANTARA NEWS
Oleh: Faisal Irfani - 27 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Akuisisi Carrefour: memperkuat ritel online-offline.
tirto.id - Suning.com, unit bisnis dari Suning Holdings Group, resmi mengakuisisi Carrefour di Cina. Seperti diwartakan Asia Nikkei, akuisisi tersebut terjadi lantaran Carrefour kesulitan bersaing di era e-commerce dewasa ini. Rencananya, pihak Suning akan membayar 4,8 miliar yuan ($699 juta) untuk 80 persen saham di Carrefour Cina—yang sebagian besar mengoperasikan hypermarket.

Carrefour sudah berbisnis di Cina sejak 1995, mendahului Walmart dan perusahaan ritel besar lainnya. Di Carrefour, orang-orang Cina dapat membeli bahan pokok makanan, di samping juga kebutuhan sandang maupun papan. Total, ada 210 hypermarket dan 24 toserba yang dikendalikan Carrefour di Cina.

Namun, lambat laun, di tengah disrupsi bisnis yang menerjang, Carrefour pun tak luput kena getah. Pendapatan Carrefour terus menurun beberapa tahun belakangan. Tahun lalu saja pendapatan mereka anjlok sekitar 10 persen ke angka €3,6 miliar.

Dilansir Bloomberg, strategi menggandeng perusahaan asal Cina agar tetap kompetitif tidak cuma dilakukan Carrefour. Walmart, misalnya, yang memiliki sekitar 400 jaringan supermarket lebih dulu mengandalkan jasa JD.com Inc. untuk menggarap layanan pengiriman. Sedangkan Metro AG dari Jerman kabarnya juga bakal melepas sahamnya kepada perusahaan Cina.


Gebrakan Kedua

Berdasarkan catatan Forbes, Suning.com punya kapitalisasi pasar senilai $19,2 miliar. Suning.com merupakan perusahaan ritel online-to-offline (O2O) terkemuka di Cina. Bisnis Suning.com bergerak di layanan logistik, cloud data, keuangan, hingga integrasi ritel dan smartphone.

Pada 2018, Suning.com memiliki kurang lebih 11 ribu jaringan ritel yang tersebar di dalam dan luar negeri, meliputi Suning.com Plaza, Suning Cloud Store, SuFresh, Redbaby, LessBest, Suning.com, Direct-sales Store, sampai Suning CVS.

Suning.com sendiri masih menjadi bagian dari lini bisnis Suning Holdings Group, perusahaan yang berdiri pada 1990 dan dipimpin oleh Zhang Jindong. Dua tahun lalu, Suning menempati peringkat kedua dalam 500 perusahaan swasta terbesar di Cina dengan pendapatan tahunan sebesar $81,3 miliar.

Kerajaan bisnis Suning ditopang oleh delapan pilar. Selain Suning.com, ada pula lini lainnya yang bergerak di layanan logistik, keuangan, teknologi, perumahan, media & hiburan, investasi, serta olahraga. Suning mengejutkan publik saat mereka membeli saham mayoritas klub sepakbola asal Italia, Inter Milan, pada 2016. Suning mengakuisisi 70 persen saham klub dengan harga $306 juta.

Bisa dibilang, Suning.com adalah lini bisnis yang cukup menjanjikan. Berdasarkan laporan Retail News Asia, pada 2017, jumlah pengguna aplikasi Suning.com tumbuh sebesar 106 persen sejak awal tahun. Pada Desember, jumlah pesanan yang dihasilkan lewat aplikasi mencapai 89 persen dari keseluruhan transaksi secara online. Di akhir tahun pula, Suning.com sudah punya 3.867 toko dengan luas 5,09 juta meter persegi.

Capaian tersebut mendorong Suning.com terus merencanakan ekspansi bisnis dalam skala yang lebih luas. Targetnya, pada 2020, Suning.com dapat mempunyai 20 ribu toko di seluruh daratan Cina yang terhubung dengan internet.

Guna merealisasikan visi itu, Suning.com tak ragu untuk mencaplok bisnis yang lain. Carrefour bukan yang pertama. Pada 2016, seperti dilaporkan Forbes, Suning.com mengambil alih kepemilikan 37 departement store milik Wanda Group, pengembang besar real estate yang dikomandoi Wang Jianlin.

Wanda Commercial, begitu nama lini bisnis Wanda Group yang bergerak di usaha ritel, dijual seharga $5,4 miliar—setara dengan 14 persen saham. Suning.com tak sendiri. Ada Tencent, JD.com, dan Sunac yang tercatat juga membeli saham Wanda Commercial.



Potensi Pasar dan Aliansi dengan Alibaba

Akuisisi Carrefour oleh Suning.com bisa dibaca dengan dua perspektif.

Pertama, Suning.com ingin menggali lebih dalam lagi pasar ritel di Cina yang sangat menjanjikan. Berdasarkan laporan Statista, industri ritel diprediksi masih mekar dalam beberapa tahun ke depan. Penyebabnya: adanya tren peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut terjadi salah satunya berkat kontribusi perdagangan barang yang nilainya bisa mencapai 36 persen (2015).

Perlambatan ekspor dan meningkatnya volume perdagangan di pasar domestik, terang Statista, memperlihatkan perubahan strategi ekonomi Cina yang perlahan menuju pemenuhan permintaan di tingkat domestik. Ini tak lepas dari naiknya daya beli masyarakat Cina, imbas dari pertumbuhan ekonomi yang stabil. Seketika, Cina menjadi pasar konsumen yang besar serta terus tumbuh.

Keadaan tersebut otomatis membuat para pelaku ritel, baik domestik maupun asing, bersaing untuk merebutkan perhatian konsumen Cina. Pendapatan perdagangan ritel, khususnya barang-barang yang sifatnya konsumtif, telah tumbuh setidaknya 10 persen setiap bulan, dari 2016 hingga 2017. Sekitar 11 persen dari aktivitas itu dihasilkan dari segmen online. Konsumsi dari ranah online sendiri punya grafik pertumbuhan yang menanjak: semula 0,6 persen pada 2007 menjadi 12,4 persen pada 2017.

Tak bisa dipungkiri, pasar ritel di Cina sangat beragam sekaligus kompetitif, dengan ratusan perusahaan yang berlomba-lomba mengambil ceruk keuntungan yang menggiurkan. Pada 2015, Suning.com tercatat menjadi perusahaan ritel dengan volume penjualan paling tinggi (sekitar 158,6 miliar yuan) dibandingkan perusahaan sejenis.

Kedua, memperkuat aliansi dengan Alibaba. Pada 2016, mengutip Financial Times, kedua perusahaan ini saling membeli saham satu sama lain guna mengembangkan “model perdagangan baru” yang mengintegrasikan layanan belanja online dan offline. Alibaba membeli 19,9 persen saham di Suning dengan harga $4,6 miliar dan menjadikannya pemegang saham terbesar kedua. Sementara Suning.com, mengambil 1,1 persen saham di Alibaba.

Kerjasama bisnis tersebut nantinya akan bermuara pada “aliansi strategis,” di mana kedua perusahaan bakal menciptakan sinergi di berbagai bidang: dari e-commerce, logistik, hingga industri ritel. Contoh sederhananya begini: barang yang dibeli lewat Suning.com akan dikirim melalui bantuan jasa dari Cainiao, perusahaan logistik yang berafiliasi dengan Alibaba. Di lain sisi, konsumen dapat memanfaatkan Alipay untuk membayar barang yang dibeli di toko-toko Suning.com.

Para analis menyebut kesepakatan antara Suning-Alibaba dibuat untuk merespons persaingan dengan JD.com yang kuat dalam penjualan online. Dengan menggandeng—atau tepatnya mengakuisisi saham Suning.com—Alibaba berharap mampu mengejar ketertinggalan dari JD.com. Kesepakatan keduanya juga bisa dibaca lebih luas: mengokohkan status Alibaba sebagai pemain e-commerce terbesar di Cina.

Keputusan mengakuisisi Carrefour tentu tak bisa dilepaskan dari konteks di atas. Dengan adanya Carrefour, Suning.com—dan Alibaba—memperoleh peluang tambahan untuk mewujudkan perdagangan O2O.

Menurut laporan eMarketer, yang rilis pada 23 Januari, sebagaimana dilansir Forbes, penjualan ritel di Cina bakal menyentuh $5,6 triliun, sekitar $100 miliar lebih banyak daripada Amerika Serikat. Dengan hampir 1,4 miliar orang, kira-kira empat kali populasi AS, Cina tetap jadi pasar ritel terbesar di dunia. Kelas menengah yang meningkat, pertumbuhan ekonomi, hingga adaptasi teknologi dianggap berkontribusi menjadikan Cina sebagai pasar sekaligus pelaku ritel yang kuat.

Yang jadi ganjalan sekarang ialah masih buntunya solusi atas perang dagang antara AS-Cina. Sejauh ini, perang dagang dua negara tersebut telah memperlambat laju pertumbuhan ritel di Cina. Pada November 2018, penjualan ritel di Cina turun 8,1 persen (YoY). Angka itu terendah sejak 2003.

Kondisi ini praktis turut mempengaruhi gerak pemain macam Alibaba maupun Suning.com. Jika kebijakan tarif dan faktor lainnya yang terangkum dalam spektrum perang dagang Cina-AS masih terus saja berlanjut, maka bisa jadi keinginan Suning.com dan Alibaba untuk tumbuh menguasai jagat ritel di Cina terpaksa harus tertunda—entah sampai kapan.

Baca juga artikel terkait PASAR RITEL atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight