Di Balik Aksi Reuni 212 yang Gagal & Tak Ada Dukungan Tokoh Politik

Oleh: Andrian Pratama Taher - 4 Desember 2021
Dibaca Normal 4 menit
Ada 3 faktor yang membuat reuni 212 tahun ini gagal, yaitu kehilangan momentum politik, tak ada musuh bersama, serta kehilangan figur kunci.
tirto.id - Aksi reuni 212 gagal. Kalimat itu mungkin tepat jika mengacu pada situasi acara kegiatan dengan keinginan panitia untuk menggelar acara reuni 212 lewat tema #aksisuperdamai pada Kamis (2/12/2021).

Pertama, rencana kegiatan #aksisuperdamai di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat tidak terealisasi karena massa tidak mampu menembus lokasi yang dijaga ketat aparat. Massa yang berusaha berkumpul justru diputar balik hingga dipulangkan.

Dalam catatan Tirto, massa dicegat di berbagai titik, salah satunya di Tanah Abang. Massa tidak bisa mendekat ke Patung Kuda dan tertahan di daerah Tanah Abang karena polisi berupaya mencegah kelompok 212 bergerak ke Patung Kuda maupun Monas. Pada akhirnya, aksi super damai digelar di daerah Tanah Abang.

Dalam skenario aparat kepolisian melakukan rekayasa lalu lintas demi mencegah kerumunan. Polisi pun melakukan imbauan kepada peserta agar tidak menggelar aksi. Jika melanggar, polisi akan memproses secara hukum. Mereka akan menjerat dengan Pasal 212-218 KUHP dan UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Polisi mengklaim sekitar 500 peserta aksi dipulangkan dan tidak ada yang ditangkap.

Selain itu, kegiatan kedua reuni 212 di Masjid Azzikra, Bogor tidak berjalan sesuai rencana. Pihak pengelola Yayasan Azzikra menolak kedatangan massa reuni 212 sebelum acara digelar. Hal itu terungkap lewat pernyataan resmi yayasan yang menolak kehadiran massa karena masih berduka atas kepergian putra kedua almarhum Muhammad Arifin Ilham, yaitu Muhammad Ameer Adzzikra.


PA 212 Klaim Reuni Berjalan Lancar

Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif menegaskan reuni yang digelar pada Kamis (2/12/2021) berjalan lancar. Ia pun mengklaim kesuksesan kegiatan juga terjadi di Jakarta.

“Alhamdulillah walau halangan begitu dahsyat melintang, acara reuni tetap berjalan dan sukses di berbagai tempat serta kegiatan seperti Jakarta, Medan, Ciamis, Solo, Padang hingga Aceh dengan salat subuh jamaah, zikir dan munajat serta aksi kemanusiaan,” kata Slamet kepada reporter Tirto, Jumat (3/12/2021).

Slamet menuturkan, mereka tetap bisa menggelar aksi super damai dengan cara berkumpul dan menyampaikan pendapat di muka umum meski mendapat halangan. Ia mengakui, massa dihalangi untuk berkumpul di Patung Kuda, Jakarta Pusat dan akhirnya massa terpencar.

“Tapi di barisan mobil komando ribuan umat berjalan kaki dengan tertib sambil baca maulid dan diselingi orasi begitu tertib dan aman. Begitu pula acara dialog 100 tokoh sukses berjalan,” kata Slamet.

Ia pun membantah bahwa kegiatan reuni 212 tidak dihadiri sejumlah tokoh. Meski tidak merinci tokoh yang hadir, ia memastikan para tokoh hadir dengan kondisi terpisah.

“Banyak tokoh 212 yang hadir, tapi karena penyekatan jadi terpencar di berbagai tempat dan masjid sekitaran Monas," kata Slamet.


Tak Ada Momentum Politik, Reuni 212 Mudah Digagalkan



Dosen Komunikasi Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah menilai aksi reuni 212 gagal karena sejumlah faktor. Pertama, gerakan 212 sudah tidak substansial dan tidak ada momentum politik sehingga publik enggan berpartisipasi dalam gerakan tersebut.

“Gerakan massa 212 tidak lagi substansial dan memiliki momentum, sehingga sinisme itu muncul dan mereka dianggap politis. Ini semestinya bijak dipahami oleh aktivis 212, memaksakan kehendak hanya akan hasilkan antiklimaks, kejayaan 212 sudah usai dan tidak akan bisa digeser pada kepentingan elitis beberapa orang,” kata Dedi kepada reporter Tirto, Jumat (3/12/2021).

Faktor kedua adalah situasi pandemi dan stabilitas politik yang membaik. Situasi itu membuat pihak Azzikra maupun Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan enggan menyetujui aksi reuni 212. Kedua pihak ini menolak karena menilai tidak ada urgensi dalam aksi pengumpulan massa tersebut.

Di sisi lain, ketidakhadiran tokoh-tokoh yang sebelumnya pro dengan PA 212 juga menjadi sebab reuni kali ini gagal terlaksana dengan masif. Ketidakhadiran tokoh seperti Prabowo Subianto maupun Amien Rais menandakan aksi reuni kelompok 212 tidak lagi mewakili publik.

“Itu menguatkan anggapan jika PA 212 tidak lagi mewakili kepentingan massa 212. Karena secara politik, kehadiran Amien Rais, Prabowo, atau siapapun politisi, akan berdampak buruk pada reputasi parpol mereka masing-masing, sebagian publik justru terlihat menolak gerakan 212 ini,” kata Dedi yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO).

Dedi juga menilai para tokoh seperti Amien Rais maupun Prabowo memilih untuk tidak mendekat ke kelompok 212. Mereka khawatir persepsi publik kepada mereka akan memburuk jika kerap bersama.

“Citra gerakan 212 sudah bias, rentan bagi politisi untuk tetap membersamai mereka, karena berdampak pada reputasi yang kurang baik," kata Dedi.



Dosen politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno justru berpandangan lebih jauh. Pria yang juga Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini menilai aksi reuni 212 tidak berjalan lancar dan tidak terlihat banyak yang hadir karena gerakan mereka sudah tidak laku.

Dalam pandangan Adi, ada 3 faktor utama. Pertama, kelompok 212 kehilangan momentum politik. Saat ini, sudah tidak ada lagi pilkada maupun pemilu nasional. Kedua, mereka tidak laku karena sudah tidak ada musuh bersama yakni tokoh yang dilabel penista agama. Ketiga, mereka kehilangan figur kunci, yakni Rizieq Shihab yang masih mendekam di penjara.

“3 hal itu yang kemudian bisa menjelaskan 212 enggak laku dan ternyata memang sebagai sebuah gerakan politik, ya mereka tidak terbukti memenangkan pertarungan," kata pria kelahiran Madura ini kepada reporter Tirto.

Adi mengacu kepada hasil Pilpres 2014 dan 2019. Pada Pilpres 2014, Prabowo bersama Hatta Radjasa meraih 62.576.444 suara (46,85 persen), sementara suara Jokowi yang maju dengan JK kala it mencapai 70.997.851 (53,15 persen). Namun persentase suara Prabowo saat maju bersama Sandi turun 44,5 persen dengan total suara 68.650.239, sementara Jokowi- Maruf Amin mengantongi 85.607.362 atau 55,5 persen.

Adi juga memandang gerakan PA 212 lewat reuni 2 Desember 2021 membuktikan bahwa gerakan tersebut murni digawangi oleh pentolan eks FPI. Hal tersebut terlihat dengan tidak adanya tokoh-tokoh politik sentral seperti sebelum Pilpres 2019, yaitu Amien Rais, Prabowo Subianto, Neno Warisman maupun aktivis yang dulu berafiliasi dengan 212. Adi menduga, mereka tidak lagi muncul karena sudah tidak ada musuh bersama.

“Mereka sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing karena itu tidak ada perekat common enemy yang membuat mereka harus solid kembali. Siapa common enemy-nya? Ya musuh bersama itu yang dianggap penista agama. Itu kan sudah gak ada. Itu yang penting dilihat secara utuh," kata Adi.

Adi menuturkan, sedikitnya massa riil yang kuat dan terkoordinir dengan tanpa ada tokoh politik sentral membuktikan bahwa gerakan 212 rapuh dan kecil. Ia menyimpulkan gerakan 212 yang diinisiasi 2017 adalah muara dari berbagai kepentingan seperti untuk mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI dan menginginkan Ahok diproses secara hukum akibat ujaran yang diduga menistakan agama.

Kini, kata Adi, para pendukung gerakan 212 mulai kembali ke kelompok masing-masing. Mereka tidak ingin berada di bawah gerakan FPI yang dipimpin Rizieq. Hal tersebut terlihat dengan parpol yang sempat berafiliasi dengan Rizieq dan FPI mulai meninggalkan gerakan 212.

“Itu terlihat PKS menjaga jarak tuh dengan mereka. Gerindra apalagi sudah pecah kongsi. Demokrat ya memang dari dulu tidak terlalu akrab, tapi kan juga tidak mau mendekat. PAN juga masuk kekuasaan di dalamnya," tutur Adi.

Adi menambahkan, “Jadi apa? Tidak ada mutual understanding dengan kelompok-kelompok oposisi di luar kekuasaan itu. Itu dua faktor menjelaskan 212 ini enggak laku, ke depan juga.”


Baca juga artikel terkait REUNI 212 2021 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz
DarkLight