Dampak Pandemi Corona

Dewa Wirawan, Dokter & Tokoh HIV/AIDS yang Wafat karena COVID-19

Oleh: Alfian Putra Abdi - 27 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Epidemolog senior asal Bali, Prof. dr. Dewa Nyoman Wirawan, meninggal akibat COVID-19. Ia dikenal sebagai tokoh di bidang HIV/AIDS.
tirto.id - Epidemolog senior asal Bali, Prof. dr. Dewa Nyoman Wirawan, MPH meninggal dunia karena COVID-19 pada Selasa (22/9/2020). Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) Bali itu meninggal dalam usia 71 tahun.

Dekan FK Unud Prof I Ketut Suyasa yang pernah menjadi murid Wirawan menyebut kematian sang guru sebagai kehilangan terbesar bagi universitas—Wirawan satu-satunya guru besar epidemolog di Unud—dan dunia epidemiologi.

I Ketut Suyasa mengenang Wirawan sebagai sosok bersahaja, panutan semua anak didik, dan berdedikasi tinggi pada dunia akademik. Usai pensiun pada 2018, Wirawan menyanggupi permintaan mengajar S2 dan S3 Ilmu Kesehatan Unud.

“Beliau selalu tampil sederhana, santun, cerdas, bersahaja, helpfull, dan analisis beliau tentang permasalahan kesehatan secara epidemiologi sangat tajam," ujar I Ketut Suyasa saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (25/9/2020).

Dosen FK Unud Anak Agung Sagung Sawitri juga turut merasa kehilangan sosok Wirawan. Ia mengamini bahwa pencapaiannya hari ini berkat sumbangsih Wirawan; baik sebagai dosen, saat dirinya berkuliah di FK Unud pada 1988; dan rekan kerja, saat menjadi asisten dosen pertama kali di kampus yang sama pada 1999.

Wirawan mengajarkan Sawitri muda teknik wawancara dalam penelitian, melakukan data entry, membuat kuesioner, analisis data, melibatkannya dalam penelitian kesehatan masyarakat, sampai mengajarkan arti sebenarnya pengabdian pada masyarakat.

“Bagi seorang murid, guru tidaklah pernah menjadi ‘mantan guru.’ Guru tetap menjadi guru buat saya. Yang berubah hanya statusnya,” ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat.


Murid Wirawan di FK Unud lainnya, Pande Putu Januraga—sekarang dosen di kampus yang sama—merasakan betul kebaikan sang guru; dukungan imaterial: mengajak Pande mendirikan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unud; hingga bantuan material: meminjamkan uang saat Pande meneruskan kuliah S3 di Australia.

Bantuan berkesan lainnya, ketika Wirawan menyerahkan penelitian tes pengobatan HIV kepada Pande. Begitu penelitian itu dimuat dalam situs jurnal dunia, Pande kaget melihat namanya paling utama sementara nama Wirawan paling belakang.

“Begitulah cara dia, mendorong yang muda-muda,” ujarnya kepada reporter Tirto.

Bahkan sebelum menjalani isolasi di rumah sakit, Wirawan mengirim pesan pendek kepada Pande: memintanya segera menjadi guru besar karena sudah layak dan harus segera mengajukan diri sebagai profesor. Dalih Wirawan, Pande memiliki pencapaian yang melebihi dirinya dalam usia 40 tahun.

Pande mendapatkan surat rekomendasi dari Wirawan untuk menjadi guru besar. “Mungkin saat menekan surat itu beliau kemungkinan sudah [terkena] COVID-19,” ujarnya.

Penggawa HIV/AIDS

Di mata Ketut Rediten, sosok Wirawan adalah penggawa HIV/AIDS di Bali. Ketika bertugas sebagai pendamping sebaya di salah satu rumah sakit di Denpasar, Desi—panggilan akrab Rediten—mendapati pasien ibu hamil dengan status positif HIV kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Lantas, ia menghubungi atasannya dan kemudian tersambung ke Wirawan.

Desi tidak paham dengan yang dilakukan Wirawan, sehingga pihak rumah sakit akhirnya menerima ibu hamil tersebut. Bahkan sejak saat itu, menurut Desi, pelayanan rumah sakit menjadi lebih ramah bagi ibu-ibu hami yang positif HIV.

“Beliau akan melakukan apa pun agar bisa membantu setiap kasus-kasus HIV,” ujarnya saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (25/9/2020).


Wirawan pula yang meyakinkan Desi untuk menjadi pendamping sebaya. Sebelumnya ia tidak percaya diri lantaran hanya berijazah SMP. Pada akhirnya, Desi menjadi staf Wirawan selama empat tahun.

“Beliau bilang ‘kalau kamu mau belajar, memiliki empati yang tinggi untuk komunitas, kamu pasti bisa’,” kenang Desi.

Wirawan menaruh perhatian lebih terhadap isu HIV/AIDS, terkhusus di kalangan masyarakat Bali. Wirawan melakukan penelitian terhadap 80 pekerja seks komersial pria dan 100 turis di kawasan Kuta; menelisik pemahaman para PSK dan turis terhadap penggunaan kondom dalam aktivitas seksual, sebagai upaya mencegah penyakit seksual menular dan AIDS.

Wirawan juga menerbitkan jurnal penelitian tentang pengetahuan penyakit menular seksual dan AIDS di kalangan PSK di Denpasar; bertujuan untuk memahami cara PSK perempuan mengenai risiko-risiko yang berpotensi terjadi akibat aktivitas seksual. Kesimpulannya, edukasi seks yang aman bagi PSK perlu mempertimbangkan mobilitas populasi, dengan mengutamakan pendekatan perilaku.

Penelitian Wirawan lainnya terkait HHIV/AIDS dilakukan kepada para pengguna narkotika di Denpasar. Ditemukan antusiasme para pemadat untuk memeriksa gejala AIDS secara sukarela, namun mereka merasa takut jika hasilnya positif, kemudian mendapat stigmatisasi dari keluarga ataupun masyarakat. Persoalan tersebut menjadi hambatan dalam memutus penularan HIV/AIDS.

Wirawan bahkan mendirikan Yayasan Kerti Praja (YKP) pada 1993. Yayasan ini fokus pada kesehatan masyarakat terutama dalam penanggulangan HIV AIDS pada kelompok-kelompok marginal. Belakangan yayasan itu memberikan pelayanan, semacam laboratorium bagi para ilmuwan di bidang ilmu kesehatan masyarakat.

Pande Putu Januraga menjadi salah satu murid yang diajak bergabung pada 2008. Menurut Pande, YKP adalah gambaran dari mimpi besar Wirawan yang ingin menggabungkan antara akademik dan intervensi kesehatan masyarakat secara nyata. Yayasan memiliki klinik dan mengembangkan program yang memungkinkan untuk kegiatan penelitian sekaligus intervensi kesehatan masyarakat.

Pande masuk sebagai peneliti di yayasan itu. Ia dibimbing oleh Wirawan melakukan penelitian epidemiologi tentang HIV/AIDS pada pekerja seks perempuan. Wirawan jadi mentor bagi ilmuwan-ilmuwan muda.


Anak Agung Sagung Sawitri juga dilibatkan Wirawan dalam YKP. Mereka mengerjakan penelitian stigmatisasi terhadap pengguna narkotika di Denpasar. Sawitri mengenang Wirawan sebagai pekerja keras dengan standar kerja yang tinggi. Prinsip yang sama diterapkan Wirawan saat menangani COVID-19 di Denpasar.

Menurut Sawitri, Wirawan yang menggagas penerapan pelacakan kontak (contact tracing) oleh para relawan. Dalam kenangan Sawitri, Wirawan banyak memberikan masukan berupa interpretasi data COVID-19 di Bali.

Ketika kabar Wirawan meninggal dunia karena terpapar COVID-19, Sawitri menjadi sekian orang—juga murid—yang berkabung.

“Ada rasa sakit yang sangat menusuk saya, ketika beliau harus berpulang akibat penyakit yang diperjuangkan penanggulangannya,” ujarnya.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi & Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight