Advertorial:

Desa Wisata Cau Belayu Bali Dapat Kunjungan dari Kemenparekraf

Oleh: Advertorial - 18 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Desa Cau Belayu di Bali menjadi salah satu desa yang terpilih dan dikunjungi oleh tim juri Desa Wisata Terbaik Kemenparekraf.
tirto.id - Desa Cau Belayu di Bali menjadi salah satu desa yang masuk dalam dafatr 20 besar desa terpilih yang dikunjungi oleh tim juri Desa Wisata Terbaik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Kegiatan visitasi secara langsung dilaksanakan di lingkungan rumah penduduk dan juga lingkungan sekitar Desa Cau Belayu pada 17 November 2020 lalu.

Agenda yang dilaksanakan terdiri dari hal-hal menarik, seperti berkunjung menggunakan kendaraan lokal (becak) ke salah satu tempat potensi yang akan diangkat oleh Desa Cau Belayu sendiri, yakni tempat pembuatan/produksi arak (minuman tradisional khas Bali).

Tak hanya itu, terdapat pula antusiasme warga lokal yang menunjukan dan menampilkan hasil kreativitasnya seperti seduhan teh kayu manis, ukiran kayu, minuman tradisional dan produk unggulan desa lainnya.

Dengan adanya kunjungan di Desa Cau Belayu diharapkan dapat sekaligus mengedukasi masyarakat sekitar untuk menjaga, merawat dan memperhatikan lingkungan sekitar yang sudah ada.

Selain itu, karena adanya potensi Desa Cau Belayu dijadikan desa wisata baru di Bali, masyarakat yang ada di dalamnya harus mampu menjadi subjek dalam pengembangan desa.

Bukan hanya melihat pengembangan dari sisi ekonominya saja, tetapi juga harus dapat melihat dari sisi kelestarian lingkungan dan meningkatkan kualitas kehidupan warga sekitar demi menentukan kesuksesan pengembangan desa wisata ke depannya.

Sementara itu, terpilihnya Desa Cau Belayu menjadi salah satu desa wisata yang dikunjungi oleh Kemenparekraf adalah berkat pendampingan dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali.

Pendampingan ini diawali dengan adanya kajian mahasiswa Program Studi Manajemen Kepariwisataan, Poltekpar Bali ke desa Cau Belayu.

Pada saat itu para mahasiwa membuat sebuah rekomendasi dari hasil studi banding lapangan.

Dari hasil studi banding itu, Desa Cau Belayu dinilai cocok untuk dikembangkan menjadi sebuah desa wisata baru di Bali. Alasannya, desa tersebut memiliki potensi kelestarian dalam wisata religi dan wisata alamnya.

Hal ini menjadi sebuah fokus baru untuk Poltekpar Bali karena potensi tersebut ada dan dapat memberikan kearifan bagi lingkungan sekitar. Poltekpar Bali juga mencoba untuk mendampingi dalam mewujudkannya.

Adapun, sebelum sampai pada tahap kunjungan, kegiatan yang dilakukan oleh Poltekpar Bali pun sudah beragam di desa Cau Belayu.

Mulai dari pendampingan, bimbingan teknis pelatihan desa wisata, penandatanganan MoU antar berbagai pihak, identifikasi pemetaan potensi, pengemasan produk desa wisata, penerapan standar desa wisata dengan pengaplikasian Cleanliness, Health, Safety and Environment (CHSE), pembuatan video promosi sampai dengan penggunaan sistem marketplace desa wisata Cau Belayu.

DarkLight