12 November 2010

Des Alwi, Anak Angkat Hatta & Sjahrir yang Menggoyang Rezim Sukarno

Des Alwi Abubakar. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 12 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Hatta dan Sjahrir mengangkat Des Alwi sebagai anak kala keduanya dibuang di Banda Neira. Des lalu terlibat petualangan anti-rezim Sukarno sejak 1950-an.
tirto.id - Pada akhir Januari 1942 sebuah pesawat Catalina milik militer Belanda mendarat di Banda Neira. Mereka datang untuk menjemput dua orang buangan penting di pulau itu, Sutan Sjahrir dan Mohamad Hatta. Keduanya cuma diberi waktu satu jam untuk naik ke pesawat.

Dengan terburu-buru, mereka berdua juga membawa tiga anak angkat mereka—Lily, Mimi, dan Ali—meski orang tua dari anak-anak itu merasa berat ditinggalkan. Tidak hanya tiga anak itu, satu lagi yang paling tua bahkan hendak dibawa pula.

Terbatasnya kursi pesawat membuat si anak tertua menyusul. Dia bahkan kebagian tugas sulit: membawa 16 peti buku milik Hatta ke tempat pembuangan berikutnya. Sayang, hanya sedikit buku yang kemudian bisa dilihat lagi oleh Hatta.

Sepeninggal Hatta-Sjahrir, kota Ambon lalu diduduki bala tentara Jepang.

Des Alwi Aboebakar, si anak tertua itu, dengan susah payah akhirnya mencapai Jawa pada pertengahan 1942. Perantauan cucu Raja Mutiara Said Badilla itu pun dimulai. Sesampainya di Jakarta, Des sempat tinggal di rumah Sjahrir di Jalan Latuharhary 19 dan rumah Hatta di Jalan Diponegoro 57. Di Jakarta, Des berkenalan dengan salah satu keponakan Sjahrir paling legendaris: Chairil Anwar.

Kala itu bala tentara Jepang sudah berkuasa di Indonesia. Ini adalah masa-masa sulit bagi banyak orang. Des juga ikut mengalaminya, meski dirinya tak harus jadi pekerja paksa yang kurang makan.

Belajar Radio atas Permintaan Hatta

Dalam Friends and Exiles: A Memoir of the Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement (2008: 9), Des mengaku kakeknya semasa hidup adalah pengusaha kaya di Banda. Tapi sepeninggal kakeknya, keluarga Des tidak tajir lagi. Masih beruntung Des bisa belajar di sekolah dasar berbahasa Belanda di Banda Neira sebelum akhirnya bertemu Hatta, Sjahrir, dan Tjipto Mangunkusumo. Berkat tokoh-tokoh itulah Des dan saudari-saudaranya bisa merantau ke Jawa.

Des sempat disekolahkan di sekolah teknik IVEVO (Instituut voor Electrotechnische Vak Opleiding) di Salemba. Jika siswa-siswa sekolah itu lulus, biasanya mereka akan direkrut Jepang. Des mengaku sekolah tempatnya belajar sering digeledah. Hal yang bikin jengkel Des pada fasis Jepang adalah Jepang suka menggunduli rambut siswa.

Des akhirnya melanjutkan sekolah radio di Surabaya. Sepengakuannya dalam Pertempuran 10 November 1945 (2012: 23), dia pernah ikut Djohan Sjahroezah, keponakan Sjahrir, yang pernah tinggal di sekitar Paneleh. Waktu di Surabaya itu Des pernah ditawari masuk Kaigun (Angkatan Laut Kekaisan Jepang), tapi dia ogah menerimanya. Sebagai kolega Sjahrir, Des juga terjaring dalam gerakan bawah tanah anti-Jepang.

Waktu itu belum terpikir dalam kepala Des mengapa dirinya dimasukkan sekolah teknik radio dan dibayari ongkosnya oleh Hatta. Baru kemudian dia menyadari bahwa “radio ternyata begitu penting untuk bisa mengetahui semua perkembangan di dunia luar.”

Di zaman Jepang, Des pun berurusan dengan radio. Ketika Sjahrir harus pindah rumah ke Jalan Maluku 19, Des lah yang mengurus kepindahan radio ilegal milik Sjahrir secara diam-diam. Des memindahkannya dengan naik delman pada siang bolong tanpa ketahuan tentara Jepang yang tak ingin radio dimiliki banyak orang.

“Pada usia 16 tahun, aku sudah bisa membuat radio gelap untuk memantau siaran radio asing,” aku Des (hlm. 28).

Kala itu hampir semua radio pribadi milik rakyat sipil sudah disita Jepang. Hanya radio khusus untuk umum saja yang bisa didengar masyarakat. Menguping radio luar negeri—dari negara-negara Sekutu—tentu kegiatan operator radio gerakan bawah tanah anti-Jepang macam Des Alwi hanya bisa dilakukan pada malam hari. Siangnya, Des bekerja di ruang kendali Radio Djakarta sejak 1945.


Sebagai insan radio, Des termasuk orang yang mula-mula mendengar soal menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Di ruang depan studio Radio Djakarta pada 15 Agustus 1945 siang, Kaisar Jepang berpidato dan menyinggung soal penyerahan tanpa syarat itu. “Setelah mendengar kalimat tersebut aku melihat banyak orang menangis,” aku Des (hlm. 91).

Berita menyerahnya Jepang cepat menyebar ke kalangan pemuda hingga Sukarni dan kawan-kawan akhirnya mendesak proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan. Proklamasi dengan desakan susah payah dari kelompok pemuda terjadi juga pada 17 Agustus 1945 di depan rumah Sukarno.

Penyiaran berita proklamasi bikin Kempeitai Jepang marah. Des salah satu yang ditangkap, meski sebentar. Setelah dibebaskan, Des langsung disuruh ke Surabaya.

Ketika tiba di Surabaya, Des Alwi menyaksikan bahwa proklamasi bukan jadi berita penting lagi karena para Republiken di sana lebih bernafsu menguasai senjata-senjata yang masih dipegang tentara Jepang. Dalam pergolakan Surabaya sekitar Oktober-November 1945, Des menjadi petugas komunikasi dalam kesatuan Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan terluka dalam sebuah ledakan mortir nyasar.

Pada awal 1946 Des berangkat ke Yogyakarta. Di situ dia bertemu lagi dengan dua bapak angkatnya: Hatta yang jadi Wakil Presiden dan Sjahrir yang jadi Perdana Menteri.



Menentang Rezim Sukarno

Pada 1947 Des dikirim belajar di Regent Street Polytechnic lalu British Institute of Technology London sambil kerja praktik di BBC. Di antara kawan belajarnya terdapat dua pemuda asal Malaya, Abdoel Razak dan Ghazali Shafie.

Dua tahun kemudian, ketika Konferensi Meja Bundar (KMB) diselenggarakan di Den Haag, Des Alwi menjadi salah satu staf delegasi Indonesia. Tugasnya adalah membantu Kolonel Simatupang dan Mayor M.T. Harjono.

Des Alwi lalu terlibat petualangan anti-rezim Sukarno pada 1950-an. Suami dari Anna Marie Mambo (1953) ini akhirnya dekat dengan pimpinan Permesta, Letnan Kolonel Vintje Sumual. Karena merasa dimusuhi rezim Sukarno, pada 1960-an Des tinggal di Kuala Lumpur bersama keluarganya.

“Anna istriku, menjadi penyiar Suara Malaysia, pemancar resmi milik Pemerintah Malaysia. Sedangkan diriku, sebagaimana profesi lama, mengelola pemancar radio gelap, waktu itu dengan tujuan untuk menggoyang rezim Sukarno,” aku Des Alwi (hlm. 476).

Des Alwi termasuk orang yang membantu Ali Moertopo dan Benny Moerdani dalam penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Untuk tugas ini, Des dibantu kawan lamanya di Inggris, Abdoel Razak. Setelah Sukarno lengser barulah Des beserta keluarganya bisa kembali ke Indonesia.


Di era Orde Baru, laki-laki kelahiran Banda Neira, 17 November 1927 ini tidak dikenal sebagai operator radio. Dia lebih dikenal sebagai seorang pengusaha—meski tak selevel konglomerat—dan produser film. PT Avisarti Film adalah miliknya. Des Alwi pernah bikin beberapa film dokumenter, salah satunya film tentang Hatta—yang biasa disapanya Oom Kacamata.

Selain itu, Des menulis buku-buku sejarah seperti Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon dan Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak. Lantaran aktivitas menulisnya itu, dia juga dianggap sebagai sejarawan. Des Alwi tutup usia pada 12 November 2010, tepat hari ini 9 tahun lalu, di Jakarta.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight