Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Jaringan MIT Sulteng

Oleh: Adi Briantika - 17 November 2020
Barang bukti yang disita yakni 22 item seperti 2 revolver, 2 bom lontong 2, 20 amunisi kaliber ukuran 5,56 hingga 4 butir amunisi revolver.
tirto.id - Densus 88 Antiteror meringkus dua terduga teroris di Sulawesi Tengah, Selasa (17/11), sekira pukul 05.35 WITA. Lokasi penangkapan di Desa Gulanobarat, Kecamatan Gulano, Kabupaten Parigi Moutong.

“(Terduga teroris) berinisial W alias AAN alias Bojes dan AA alias Ajis, (mereka) termasuk dalam jaringan kelompok Mujahidin Indonesia Timur,” ucap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono, Selasa (17/11/2020).

Kedua terduga teroris itu ditembak lantaran melawan petugas, akibatnya mereka tewas. Barang bukti yang disita yakni 22 item seperti 2 revolver, 2 bom lontong 2, 20 amunisi kaliber ukuran 5,56, 4 butir amunisi revolver, GPS dan kompas masing-masing 1 buah, 2 senter, dan uang tunai Rp306 ribu.

“Saat ini petugas melaksanakan olah TKP dan dua pelaku dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri, selanjutnya dilakukan identifikasi,” terang Awi.

Sejarah terbentuknya kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, bermula dari andil Santoso alias Abu Wardah Asy Ayarqi pada 2010 dengan mengumpulkan dan melatih kader-kadernya.

Santoso dikukuhkan sebagai pemimpin tertinggi pada 2012. Dua tahun berselang, MIT bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Sumpah setia MIT kepada ISIS itu diucapkan pada Juli 2014. Selanjutnya, pada November 2015, MIT merilis video dan menyebut diri mereka sebagai “Prajurit Negara Islam”. Video ini juga berisi ancaman terhadap pemerintah dan Polri.

Tanggal 3 April 2015, terjadi bentrokan bersenjata antara MIT melawan pasukan Densus 88. Daeng Koro, salah seorang petinggi MIT yang juga tangan kanan Santoso, tewas. Sedangkan Santoso dan para pengikutnya berhasil kabur untuk menyelamatkan diri.



Baca juga artikel terkait TERDUGA TERORIS atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight