Menuju konten utama

Demi Sekarang dan Nanti, Hindari Risiko Karena Berkendara

Kesuksesan profesional seseorang tak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan atau bakat kognitif—apalagi sekadar kegigihan bekerja—tetapi juga perhatian terhadap tujuan-tujuan jangka panjang. Dengan menghindari risiko-risiko bagi tubuh dan mental, para pekerja dapat terus menggunakan kemampuan dan bakat mereka secara optimum

Demi Sekarang dan Nanti, Hindari Risiko Karena Berkendara
Ilustrasi wanita mengendarai mobil. FOTO/istock

tirto.id - Langgeng Prima Anggradinata, dosen Universitas Pakuan (Unpak) dan Institut Pertanian Bogor (IPB), sehari-hari berangkat kerja dari kediamannya di Taman Yasmin, Bogor, menggunakan mobil atau sepeda motor. Dalam sehari, Langgeng bisa mengajar di tiga kampus berbeda: IPB Darmaga, Pascasarjana IPB, dan Unpak. Dua lokasi terakhir terbilang berdekatan.

Walau cukup melelahkan dan berisiko terjebak macet karena melewati sejumlah lampu merah serta perlintasan KRL, Langgeng menggunakan dua kendaraan itu secara bergantian. “Lebih ekonomis, sih,” katanya kepada Tirto.

Pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia tersebut membeli bahan bakar hingga Rp50 ribu per hari. Baginya, itu lebih tertanggungkan ketimbang harus mengandalkan angkutan umum, yang ongkosnya lebih murah tapi kerap punya masalah dengan waktu. Kondisi jalanan Kota Bogor yang tak sepadat ibukota juga menjadi pertimbangan Langgeng.

“Mungkin kalau di Jakarta aku enggak bakal bawa mobil sendiri,” katanya.

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), pada 2015, setiap 1 kilometer jalan di Jakarta dijejali 2.077 kendaraan. Kala itu, mobil yang terdaftar di DKI berjumlah 3,5 juta unit. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat juga pernah mengatakan pertumbuhan jumlah mobil baru di Jakarta mencapai 300-an unit per hari. Dengan gambaran demikian, wajar bila macet jadi perkara yang tak mudah diselesaikan.

Langgeng dan jutaan orang lainnya tentu punya alasan masing-masing untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi. Hanya, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap keputusan mereka, saat bicara soal dampak berkendara dan kemacetan terhadap produktivitas para pekerja, berbagai hasil penelitian kiranya layak diberi perhatian.

Dua dasawarsa lalu, dalam jurnal Aggressive Behavior (1999), Dwight A. Hennessy dan David L. Wiesenthal menyatakan adanya korelasi kemacetan panjang dengan peningkatan stres serta perilaku agresif para pengemudi, baik laki-laki maupun perempuan. Risiko ini, dalam bahasa yang lebih kekinian oleh Go-jek, dapat disebut Hipersensi.

Meski penelitian tersebut menyimpulkan tidak ada perbedaan level stres signifikan antara pengendara laki-laki dan perempuan yang mengalami kemacetan panjang, konsekuensi negatif yang lebih besar dapat dialami perempuan pekerja apabila ia juga menangani urusan domestik.

Di samping itu, durasi perjalanan pulang-pergi ke tempat beraktivitas yang berlarut-larut dapat memangkas waktu tidur atau istirahat seseorang. Bagi yang sudah berkeluarga, kondisi demikian bisa membuat interaksi dengan anak-anak berkurang.

Selain memengaruhi kesehatan mental, duduk berlama-lama di belakang kemudi juga berdampak terhadap kesehatan fisik, antara lain peningkatan tekanan darah, pegal-pegal, sakit kepala, hingga linu di beberapa bagian tubuh seperti punggung, kaki, dan leher. Kondisi itu kini disebut dalam kamus Go-jek dengan nama Rheumatir. Lebih parah, risiko penyakit jantung dan stroke juga meningkat akibat akumulasi stres, yang salah satu sebabnya ialah kelelahan di perjalanan.

Kesehatan fisik dan mental yang menurun pada akhirnya akan menurunkan kinerja. Risiko para pekerja jatuh sakit dan tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas kantor dengan optimal kian parah. Jam demi jam yang dihabiskan buat mengemudi secara rutin dapat menyedot energi seseorang melebihi pekerjaannya.

Infografik advetorial Go-jek

Masalah Nyata Butuh Solusi Nyata

Miftah Harish, warga Rangkepan Jaya, Depok, bekerja sebagai guru olahraga di Sekolah Bogor Raya, Bogor. Ayah dua anak ini mulanya lebih memilih kendaraan pribadi untuk berangkat kerja. Namun demikian, seiring waktu, guru sekaligus atlet hoki tersebut mulai beralih ke layanan transportasi online.

“Naik Go-jek terasa lebih efisien. Fisik juga tidak terkuras seperti sebelumnya,” kata Miftah kepada Tirto. Selain itu, bagi Miftah, keberadaan Go-jek menguntungkan sebab bisa menjangkau rute-rute yang lumayan sulit diakses angkutan umum seperti sekolah tempat ia mengajar.

Bahkan bila akhir pekan tiba dan keluarga kecilnya hendak jalan-jalan, kecuali jika harus pergi jauh ke luar kota, Miftah lebih senang memarkir mobilnya di rumah. “Kalau sudah begitu tinggal buka aplikasi. Kayak kemarin ke Margo City, lebih enak pakai Go-car, cari parkir enggak susah,” tambahnya.

Di kota-kota besar, selain kemacetan rutin yang bisa menyebabkan Traumacet alias rasa takut berkendara karena terlampau sering terjebak di jalan, keterbatasan lahan parkir pun merupakan persoalan sehari-hari yang harus dihadapi para pengendara.

“Walaupun biaya parkir itu relatif terjangkau, kalau keseringan lumayan juga. Apalagi di salah satu kampus tempatku mengajar dulu, parkirnya berbayar,” ujar Ari Nur Senja, seorang dosen dan mahasiswa pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, yang lebih senang menggunakan layanan Go-jek ketimbang menyetir sendiri. Masalah yang dikeluhkan Ari disebut Go-jek dengan Vertibokek—keruwetan karena banyaknya pengeluaran saat menggunakan kendaraan pribadi.

Ari bahkan memanfaatkan Go-jek saat pulang kampung ke Sukabumi. “Daripada naik angkot, dari kosanku di Sersan Bajuri ke travel langgananku di Cihampelas, lebih worth-it pakai Go-jek,” ujar perempuan yang mengaku mudah mual tiap kali menumpangi kendaraan umum ini.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, mengingat urusan parkir, bensin, dan, tol lama-lama menyebabkan Vertibokek, #UdahWaktunya menggunakan Go-Jek patut dipandang masyarakat sebagai solusi nyata untuk meringankan gangguan-gangguan berlarut karena penggunaan kendaraan pribadi.

Dalam artikelnya di Journal of Personality and Social Psychology (2007), Angela L Duckworth dan rekan-rekan menyatakan bahwa kesuksesan profesional seseorang tak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan atau bakat kognitif—apalagi sekadar kegigihan bekerja—tetapi juga perhatian terhadap tujuan-tujuan jangka panjang. Dengan menghindari risiko-risiko bagi tubuh dan mental, para pekerja dapat terus merawat serta menggunakan bakat dan kemampuan mereka secara optimum.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis