Menuju konten utama

Demi Keselamatan, Hampir Semua KA Wajib Berhenti di Cipeundeuy

Setelah Tragedi Trowek 1995, semua kereta api yang melewati jalur selatan Jawa Barat wajib berhenti di Stasiun Cipeundeuy.

Demi Keselamatan, Hampir Semua KA Wajib Berhenti di Cipeundeuy
Header Mozaik Tragedi Trowek. tirto.id/Quita

tirto.id - Di Stasiun Cipeundeuy, Garut, semua kereta api yang datang dari arat barat dan timur wajib menjalani pemeriksaan. Proses ini biasanya menghabiskan waktu sekitar 10 sampai 15 menit. Di saat itulah para pedagang dari balik pagar stasiun menjajakan dagangannya.

Sambil sejenak melepas penat, para penumpang yang turun bisa membeli nasi ayam serundeng, pecel, buah-buahan, kacang goreng, tahu, teh manis, kopi, dll.

Kereta api yang berhenti di stasiun yang berada di ketinggian 772 meter di atas permukaan laut ini mendapatkan pemeriksaan rangka bawah gerbong dan lokomotif, seperti roda, sambungan antar gerbong, dan uji tekanan rem.

Pemeriksaan ini harus dilakukan karena kereta api yang melalui koridor selatan berjalan di lintasan dengan jalur-jalur berkelok, tikungan tajam, jembatan-jembatan besar, serta tanjakan dan turunan yang cukup terjal.

Keadaan ini membuat para masinis harus ekstra hati-hati dalam mengendalikan lokomotif. Kondisi rem lokomotif dan gerbongnya pun harus tetap fit dan layak.

Terguling di Lembah Ci Rahayu

Prosedur pengecekan rem di Stasiun Cipeundeuy didorong oleh peristiwa kecelakaan kereta api yang terjadi pada 24 Oktober 1995.

Saat itu, gabungan rangkaian KA Kahuripan dan KA Galuh yang terdiri dari 13 gerbong dan 2 lokomotif anjlok dan terguling di kawasan Trowek, Kabupaten Tasikmalaya. Menurut laporan Kompas edisi 17 November 1995, kecelakaan ini disebabkan oleh rem kereta yang tidak berfungsi dengan baik.

Penggabungan rangkaian kereta api sebenarnya hal yang lumrah dan menjadi prosedur perusahaan kereta api. Dalam peristiwa itu, penggabungan kedua rangkaian didorong oleh adanya kerusakan pada lokomotif yang menarik rangkaian KA Galuh.

Namun, penggabungan ini sedikit demi sedikit menimbulkan masalah. Sejumlah penumpang bersaksi, kereta api sudah berguncang-guncang sejak meninggalkan Stasiun Cibatu menuju Stasiun Cipeundeuy. Pemakaian rem gerbong yang terus menerus sejak kedua kereta api digabungkan di Stasiun Cibatu membuat rem menjadi aus.

"Kereta yang saya tumpangi berangkat dari Stasiun Bandung pukul 21.30 memang berjalan lancar. Namun ketika lepas dari Stasiun Cibatu Garut rodanya terasa bergetar dan larinya pun kencang," ujar Tukiman, seperti dikutip dari Pikiran Rakyat edisi Rabu 25 Oktober 1995.

Lepas dari Stasiun Cipeundeuy, kereta api sudah berlari dengan kecepatan 70 km per jam. Rem kereta api akhirnya blong saat rangkaian mendekati lembah Sungai Ci Rahayu yang menikung dan menurun.

Akibatnya, kereta api meluncur dengan kecepatan 100 km per jam menuju tikungan jembatan sungai yang panjangnya sekitar 100 meter. Sementara kecepatan maksimal yang diperbolehkan di jalur tersebut hanya 50 km/jam.

Usaha masinis memperlambat laju kereta api menggunakan rem lokomotif menjadi sia-sia karena besarnya desakan dari gerbong-gerbong gabungan. Kereta api yang meluncur tidak terkendali ini kemudian anjlok, menabrak bukit, dan terguling.

Dua hari setelah kejadian, Pikiran Rakyat edisi Kamis 26 Oktober 1995 melaporkan bahwa korban tewas sebanyak 20 orang, 90 luka berat, dan 246 luka ringan.

Sejak kecelakaan ini, nama Stasiun Trowek diganti menjadi Stasiun Cirahayu.

Infografik Mozaik Tragedi Trowek

Infografik Mozaik Tragedi Trowek. tirto.id/Quita

Tahun-Tahun Kelabu

Jalur Trowek memang rawan kecelakaan. Pada 28 Mei 1959, empat gerbong kereta api jurusan Banjar-Bandung masuk jurang dan menewaskan sekitar 185 jiwa.

Mogoknya kereta api dari Banjar menuju Bandung pada pukul 7.30 menjadi pemicu tragedi. Rangkaian kereta api ini sempat coba ditolong oleh sebuah lokomotif yang datang dari arah barat, dari stasiun Cipeundeuy. Karena rangkaian teralu berat, maka ditarik menjadi dua bagian.

Kesalahan prosedur saat membagi rangkaian membuat gerbong-gerbong bagian belakang yang berisi penumpang tiba-tiba meluncur kembali ke arah timur dengan tidak terkendali.

Tiga tahun kemudian, kecelakaan kembali terjadi di Trowek, tepatnya pada 24 September 1962 yang disebabkan rem blong. Tragisnya, keadaan ini sudah diketahui sebelumnya, tetapi kereta api tetap melanjutkan perjalanan.

Saat memasuki Trowek, kereta api mencoba diperlambat dengan menggunakan kayu-kayu balok abasia. Karena tidak kuat, kereta api meluncur dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan ini menewaskan 130 jiwa dan luka-luka tercatat 374 orang.

Atas kejadian-kejadian itu, terutama peristiwa tahun 1995, setiap kereta api yang melewati jalur ini akan melewati pengecekan di Stasiun Cipeundeuy demi keselamatan.

Dalam buku Jalan Panjang Menuju Kebangkitan Perkeretaapian Indonesia (2009), Taufik Hidayat sebagai pengamat perkeretaapian menulis bahwa keselamatan merupakan hal yang sangat fundamental dalam bisnis transportasi, maka itu harus menjadi prioritas.

Baca juga artikel terkait KERETA API INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hevi Riyanto

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi