Dave Grohl & Foo Fighters yang Moncer Selepas Band Lama

Foo Fighters. [Foto/Youtube.com]
Oleh: Nuran Wibisono - 27 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Selepas Nirvana, Dave Grohl membentuk Foo Fighters dan menjadikannya salah satu band rock tersukses sepanjang sejarah.
tirto.id - Jika kamu adalah drumer band terbesar dunia dengan vokalis amat kharismatik, kematian vokalismu adalah mimpi paling buruk. Itu yang terjadi pada Dave Grohl. Pada periode 1990-1994, Grohl menjadi drumer Nirvana. Setelah mengeluarkan Nevermind (1991), band asal Seattle ini menjadi band paling terkenal di dunia dan Kurt Cobain adalah vokalis termasyhur dalam jagat musik kala itu.

Baca juga
: 25 Tahun Nevermind

Tapi Cobain memilih bunuh diri pada 5 April 1994. Membuat Nirvana langsung bubar dan dunia muram seketika. Banyak orang menduga karier Grohl dan Krist Novoselic—sang pemain bass—akan berhenti. Apalagi bagi sang drumer, posisi yang menurut penulis New York Times, David Kirby, "amat berbeda dari personel lain.

Grohl memang limbung. Ia memilih pulang ke rumahnya. Beruntung sang ibu, Virginia Grohl, menemaninya di masa yang disebutnya sebagai "sedih dan gelap." Setelah Grohl melewati masa suram itu, ia memutuskan membentuk band baru: Foo Fighters.

Mau tak mau, orang membandingkan antara Foo dengan Nirvana. Dan sudah pasti, orang akan meremehkan Foo. Apa boleh buat, Nirvana adalah band yang mendefinisikan sebuah generasi. Dan Foo hanya band baru yang dibentuk oleh drumer Nirvana.

Bagi Grohl, membentuk Foo Fighters adalah perjudian yang menegangkan. Ia menolak tawaran untuk menjadi drumer Tom Petty and the Heartbreakers. Tak ada jaminan album Foo akan diterima dengan baik oleh pendengar musik. Namun musik adalah hal teramat penting bagi Grohl, dan ia tak akan berhenti hanya karena kawan satu bandnya meninggal.

"Bunuh diri Kurt membuat hidupku amat berubah. Sehingga aku merasa bahwa menghargai hidup adalah hal terpenting," ujarnya saat diwawancara Sam Jones.

Di Foo, Grohl mengambil peran berbeda. Ia meninggalkan bedug Inggris dan angkat gitar, plus bernyanyi. Ia tidak berusaha menjadi Kurt. Namun lebih karena ingin mencoba hal baru, ditambah dengan perasaan tak ada beban.

"Setelah Kurt meninggal, aku punya dorongan: aku akan mencoba main gitar dan nyanyi. What do I have to lose? Aku akan mulai band ini dan aku akan jadi vokalisnya."

Baca juga: Move On dari Nirvana

Foo, band yang semula diragukan banyak orang, ternyata berkembang jadi amat besar. Bahkan melebihi dugaan Grohl sendiri. Mereka punya 8 album studio. Mendapat total 11 penghargaan Grammy dan berbagai penghargaan lain. Foo menyabet 4 penghargaan Grammy untuk Album Rock Terbaik, lebih banyak dari band lain.

Grohl sendiri mengalami evolusi. Penulis Paul Brannigan, yang juga menulis buku biografi This Is a Call: The Life and Times of Dave Grohl, menyebut Grohl sebagai "nicest man in rock." Lelaki paling baik hati di dunia rock. Ia menjadi pahlawan bagi banyak orang.

Pada 2015, 1.000 orang berkumpul di Cesena, Italia. Mereka ingin agar Foo Fighters datang dan bermain di Cesena. Maka seribu orang itu, lengkap dengan alat musik masing-masing, memainkan lagu "Learn to Fly". Hingga sekarang, video itu ditonton sebanyak 39 juta kali. Grohl terkesan, dan Foo Fighters akhirnya benar-benar bermain di Cesena.

Di tengah set, Grohl, yang bermain di atas singgasana karena kakinya patah, mengucapkan terima kasih. "Bisa berjumpa dengan kalian, menyanyikan lagu untuk seluruh dunia, adalah momen terpenting dalam hidupku."

Apakah ini artinya Foo Fighters sudah melampaui pencapaian Nirvana? Tentu ini masih akan mengundang perdebatan panjang tanpa usai. Namun Grohl membuktikan sesuatu: ia masih terus bermusik dan bisa lepas dari bayang-bayang Nirvana, juga Kurt Cobain. Grohl juga menginspirasi banyak orang, sama seperti yang dilakukan Nirvana.

Lepas dan Bertambah Besar

Ada banyak musisi yang mengalami fase hidup sama seperti Grohl: lepas dari band lama, namun alih-alih karier redup, mereka malah semakin bersinar. Itu pernah terjadi pada Jimmy Page. Pada 1968, ia keluar dari grup The Yardbirds. Band ini sebelumnya dikenal dengan para gitaris yang kelak jadi legenda, Eric Clapton, juga Jeff Beck. Selepas Page keluar, ia mengajak penyanyi Robert Plant, drummer John Bonham, dan bassist John Paul Jones untuk membentuk grup bernama Led Zeppelin.

Kita tahu bagaimana Led Zeppelin kemudian menjadi salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Di Led Zeppelin pula, Page berkembang menjadi gitaris dengan sound gitar tebal, kasar, namun sesekali terdengar melodius. Page menciptakan riff-riff dahsyat semisal "Stairway to Heaven", "Black Dog", "Immigrant Song", hingga "Whole Lotta Love."

Hal yang sama juga terjadi pada Rod Stewart. Penyanyi asal Inggris ini mulai dikenal sebagai penyanyi The Jeff Beck Group. Ia sempat merekam dua album. Keluar dari sana, Stewart menandatangani kontrak sebagai penyanyi solo bersama label rekaman Mercury, sekaligus menjadi biduan bagi kelompok The Small Faces. Bersama Small Faces, Stewart membuat 4 album.

Namun di saat bersamaan, kariernya sebagai penyanyi solo juga moncer. Stewart sempat merilis 4 album solo sebelum akhirnya Small Faces bubar. Karier solo dan popularitas Stewart dianggap sebagai salah satu biang perpecahan band itu. Setelah Small Faces bubar, karier Stewart tak lantas ikut bubar. Malahan ia semakin melesat ke puncak karier sebagai penyanyi. Suara serak basah yang khas menjadi identitasnya.

Album Atlantic Crossing (1975) mungkin adalah salah satu albumnya yang paling dikenal. Berisi 10 lagu, album itu kembali mempopulerkan lagu "I Don't Want to Talk About It", dan "Sailing." Sepanjang karier solonya, Stewart merilis 30 album studio. Kebanyakan lagu yang ia nyanyikan memang adalah reka ulang. Namun hebatnya, beberapa lagu yang dinyanyikan Stewart malah lebih populer ketimbang versi aslinya.

Hingga sekarang, Stewart termasuk salah satu musisi dengan penjualan album terlaris. Diperkirakan ia sudah menjual 200 juta keping album solonya. Pencapaian itu membuat ia dianugerahi gelar CBE dari Kerajaan Inggris. Segala pencapaian itu, jelas menegaskan sesuatu: Rod Stewart tetap bertahan meski keluar dari band lamanya, dan tetap moncer sebagai biduan.

Hal yang sama juga terjadi pada Eric Clapton, dan tentu saja: Michael Jackson. Selepas dari Jackson 5, Michael berkembang menjadi penyanyi pop paling berpengaruh pada zamannya. Julukan King of Pop melekat di pundaknya.

Baca juga
: Penjualan Album Thriller Michael Jackson Tembus 33 Juta Kopi



Di Indonesia, Ari Lasso adalah satu contoh musisi yang masih bisa berkarier sebagai musisi meski sudah tak bergabung dengan band yang membesarkan namanya. Ari hengkang dari Dewa 19 karena kecanduan narkoba dan membuatnya tak lagi bisa mengikut jadwal tur Dewa 19. Banyak orang menduga karier Ari sudah tamat, karena Dewa 19 saat itu ada di puncak karier.

Dugaan itu sempat nyaris menemui pembenaran, karena beratnya langkah Ari meniti karir sebagai solis. Namun lagu "Jika" yang dibuat oleh Melly Goeslaw berhasil kembali mengorbitkan Ari di jejeran musisi besar Indonesia. Sebagai solis, karir Ari Lasso cukup moncer. Bila kita tak menghitung dua album kompilasi, pria asal Surabaya ini sudah punya 4 album solo.

Ia juga punya banyak lagu hits. Mulai "Misteri Ilahi", "Penjaga Hati", "Perbedaan", "Rahasia Perempuan", hingga "Mengejar Matahari". Sekarang Ari masih menjalani tapak sebagai solis. Sesekali ia bergabung dalam konser reuni bersama Dewa 19.

Seperti yang dibilang oleh Grohl, lepas dari bayang-bayang nama besar itu berat. Amat berat, malahan. Rekan Grohl di Nirvana, Krist Novoselic, berupaya lepas dari bayangan Nirvana. Namun, ia ternyata tak seberhasil Grohl, dan akhirnya melakoni karier lain sebagai politisi dan penulis. Apa boleh buat, tak semua orang bisa seperti Grohl.

Baca juga artikel terkait ROCK atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight