Daur Hidup dan Pemulihan Ekosistem Krakatau Usai Erupsi 1883

Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut). ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 6 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Laiknya manusia, Krakatau juga punya siklus hidup. Tak hanya sebagai laboratorium geologi, Krakatau juga wahana studi pemulihan ekosistem.
Ada sekira 400 gunung api menjulang di Kepulauan Indonesia, dan 127 di antaranya adalah gunung api aktif. Salah satunya adalah Gunung Anak Krakatau. Akan tetapi, bersisian dengan bahayanya, gunung api adalah laboratorium alam dan sumber kehidupan. Sejak Krakatau mengagetkan dunia dengan erupsi kolosalnya pada 1883, banyak ilmuwan mengunjunginya untuk mempelajari bagaimana gunung api bertumbuh.

Gunung api, laiknya manusia, punya siklus hidup. Ada fase kala ia mulai terbentuk, tumbuh, hingga hancur—atau hancur sementara untuk kemudian tumbuh lagi. Krakatau memberikan gambaran yang nisbi mudah dipahami tentang siklus itu.

Semuanya bermula dari daya yang tersimpan jauh di kedalaman perut bumi Indonesia. Ahmad Arief dalam Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2013, hlm. 45) menulis, “Disuplai oleh tenaga berlimpah dari tumbukan tiga lempeng benua yang hiperaktif, membuat negeri ini ibarat tungku penuh bahan bakar.”

Ahmad Arief menjelaskan bahwa beberapa pulau Indonesia terbentuk dari deretan gunung api. Bahkan, beberapa pulau sejatinya adalah gunung api bawah laut yang tumbuh hingga permukaan laut. Krakatau purba adalah contohnya. Ian Thornton dalam “Krakatau: The Development and Repair of a Tropical Ecosystem” yang terbit di jurnal Ambio (1984, hlm. 218), menyebut bahwa Kepulauan Krakatau purba adalah sebuah gunung api andesit tunggal yang menjulang di Selat Sunda.

Krakatau purba berdiameter sekira 11 kilometer dengan ketinggian 2.000 meter dari muka laut, hingga ia mengalami erupsi dan kehilangan sebagian besar tubuhnya. Kemungkinan erupsi itu terjadi pada zaman prasejarah. Tetapi mungkin juga terjadi pada 416 menurut interpretasi dari suatu naskah babad.

Letusan itu menyisakan sebuah kaldera bawah laut berdiameter sekira 7 kilometer. Tepian kaldera itu membentuk Pulau Sertung, Panjang, dan Rakata. Sementara lainnya adalah pulau mati, Rakata terus tumbuh karena aktivitas vulkanik.

“Tinggi Rakata sekitar 800 meter dan berdiameter 5 kilometer. Dua kerucut andesitnya yang lebih kecil, Danan (450 meter) dan Perbuatan (120 meter), kemudian berkembang ke utara di dalam kaldera kuno. Tiga kerucut itu kemudian menyatu jadi Krakatau pra-1883,” tulis Thornton.

Ahmad Arif menerakan dalam bukunya (hlm. 60) bahwa erupsi Krakatau pada 1883 saat itu berskala 6 dalam ukuran Volcanic Explosivity Indeks. Hanya kalah dari letusan Tambora pada 1815 yang disebut sebagai erupsi paling mematikan dalam sejarah manusia modern. Kekuatannya setara 21.574 bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki.

Sekali lagi tubuh Krakatau amblas, tapi daur hidupnya belum habis.

Gunung Anak Krakatau

Suatu sore pada 29 Juni 1927, sekelompok nelayan mendapati suatu keanehan yang menakutkan terjadi di perairan antara Pulau Sertung dan Panjang. Perairan tenang di sekitar perahu mereka tiba-tiba bergolak. Gelembung-gelembung gas yang sangat besar menyembul diiringi suara gemuruh. Bau belerang yang busuk ikut menguar bersamanya.

Kejadian itu ternyata terjadi di dekat suatu formasi batuan andesit sisa-sisa letusan Krakatau. Seorang kartografer Belanda bernama Bootsman Rots menyebut lokasinya terletak di dekat titik yang dulunya adalah Kawah Danan. Dari laporan nelayan, diketahui bahwa air jadi menghangat dan terlihat rekahan merah di kedalaman laut.

“Dan kemudian, yang paling gila, nyala api mulai bermunculan di permukaan laut, dan kemudian menyembur keluar dalam semburan-semburan kuning raksasa dan gumpalan-gumpalan api,” tulis Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006, hlm. 432).

Dalam bukunya, Winchester juga mencatat adanya laporan bertarikh Januari 1928 yang menyebut bahwa volume gelembung itu kian besar. Tak hanya api, abu dan batuan solid juga menyembur dari sana hingga terbentuklah sebuah pulau kecil.

Selama dua tahun, pulau hasil aktivitas vulkanik itu timbul tenggelam oleh ombak. Fenomena itu terjadi hingga berpuncak pada sebuah letusan pada 11 Agustus 1930. Rekahan dasar laut melebar dan melontarkan sejumlah besar material vulkanik. Selama beberapa hari, seiring dengan kian seringnya letusan, material yang teronggok menjadi cukup solid dan melebar. Ombak tak mampu lagi menelannya.

“Dan pengonggokan materi baru yang besar sekali tadi, semuanya secara serentak, itulah yang merampungkan masalahnya. Hal itu memberi pulau itu permanensi yang menjadikannya stabil dan mampu mengonsolidasikan diri,” tulis Winchester (hlm. 435).

W.A. Petroeschevsky, ahli geofisika asal Rusia yang sempat mengobservasi fenomena itu, lalu memberi nama pulau itu Anak Krakatau.

Pemulihan Ekosistem

“Krakatau tak hanya berarti petaka dan kematian,” tulis Ahmad Arief (hlm. 61). “Krakatau merupakan laboratorium alam tak ternilai yang mengisahkan bagaimana penghancuran dan pemulihan kehidupan kembali di alam tropis yang kompleks.”

Winchester menerakan dalam bukunya (hlm. 439) bahwa sebelum erupsi kolosal 1883, pulau-pulau di kompleks Krakatau diselimuti hutan hujan tropis yang kaya bekicot, anggrek, merica, dan berhamparan rumput tebal. Kondisinya mirip seperti hutan-hutan di dataran Sumatra.



Pada Mei 1884—sembilan bulan setelah erupsi—botanis Edmond Cotteau mengadakan ekspedisi kecil ke Rakata. Betapa takjubnya ia ketika menemukan seekor laba-laba membuat sarang di pasir, tengara mulai pulihnya ekosistem di komplek Krakatau.

Para peneliti Krakatau memperkirakan kehidupan kembali tumbuh di tabula rasa Krakatau berkat kehadiran biota dari pulau-pulau sekitarnya. Selain itu, ada pula dugaan adanya flora asli Krakatau yang mampu bertahan dalam lingkungan ekstrem.

Melchior Treub, direktur Kebun Raya Buitenzorg, mengadakan observasi di Rakata pada 1886. Dari pengamatannya, setidaknya telah ada beberapa spesies lumut, pakis, dan ganggang yang membentuk koloni di Rakata. Benih-benih tanaman ini diperkirakan terdampar setelah terbawa angin, arus laut, atau menumpang burung.

“Mulai 1906 hutan-hutan semakin melebat, pohon-pohon semakin dewasa, pendakian 2.000 kaki ke puncak semakin sulit karena hutan-hutan (sungguhan!) mulai menutupi sisi gunung,” tulis Winchester (hlm. 444).

Proses kolonisasi biota di Kepulauan Krakatau bermula dari pantainya. Tanaman semak dan sulur-suluran adalah yang pertama kali tumbuh di Krakatau. Sementara tanaman-tanaman perintis yang tumbuh di dataran pedalamannya dipastikan berasal dari spora dan biji-bijian yang terbawa angin atau burung.

Sementara itu, fauna pertama yang membentuk koloni adalah fauna yang biasa hidup di dataran terbuka—seperti serangga, burung laut, dan kadal. Golongan ini mudah beradaptasi karena secara natural menyukai hawa kering. Lalu, ketika tanaman-tanaman keras mulai meneduhkan pulau, fauna-fauna seperti mamalia, tokek, burung hantu, dan kelelawar mulai berdatangan.

“Hasil keseluruhannya, lebih dari satu abad setelah letusan itu, adalah adanya sekelompok pulau-pulau yang mempunyai komposisi biologis dan botanis yang sangat berbeda dari daratan yang terletak 15 mil di utara (Sumatra) dan timur (Jawa),” tulis Winchester (hlm. 448).

Baca juga artikel terkait GUNUNG KRAKATAU atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight