Data, Frustrasi, Kompetisi: Alasan Google Serius Menggarap Pixel

Ponsel Google Pixel 4 ditampilkan di acara yang mengumumkan produk Selasa, 15 Oktober 2019, di New York. (AP Photo/Craig Ruttle)
Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Google merilis Pixel 4, ponsel yang sanggup memotret gugusan Bima Sakti.
tirto.id - Selasa lalu (15/10), Google resmi merilis Pixel 4, ponsel pintar “made by Google” Dilansir laman resmi Google, versi terbaru dari lini Pixel ini menghadirkan peningkatan performa kamera, baik di sisi hardware maupun software. Pixel 4 menghadirkan dua modul kamera di bagian belakang, termasuk lensa telephoto. Ia juga dilengkapi fasilitas Super Res Zoom dan Night Sight. Kombinasi ini diklaim Google “sanggup menghasilkan foto ciamik dalam kegelapan, bahkan sanggup menangkap citra langit malam, bintang, hingga gugusan Bima Sakti”.

Tak hanya itu, Pixel 4 dibekali RAM sebesar 6GB, layar dengan frekuensi hingga 90hz, dan Pixel Neural Core, chip yang membuat ponsel ini sanggup melakukan kerja artificial intelligence bahkan dalam keadaan offline.

Kelahiran Pixel 4 menyusul ponsel premium lain yang telah lebih dulu hadir seperti Samsung Galaxy S10 dan Apple iPhone 11. Selain ponsel pintar, Google pun merilis Pixel Buds, Pixelbook Go, Nest Mini, dan Nest Wifi.

Jika “harga adalah kualitas”, maka performa ponsel yang dihargai $799 dan $899 untuk varian XL ini tidak perlu dirisaukan. Yang menarik dicermati adalah mengapa Google, si perusahaan iklan personal, serius masuk ke bisnis hardware melalui lini Pixel. Padahal, melalui Android yang digunakan sebagai sistem operasi hampir setiap produsen ponsel, Google telah sukses menancapkan taring di 2,5 miliar perangkat di seluruh dunia.

Frustasi barangkali adalah jawabannya.

Google, Frustasi Hardware Sejak Awal

Pada suatu hari di bulan Maret 2000, tulis James Somer dalam “The Friendship That Made Google Huge” yang terbit di New Yorker (2018), enam teknisi Google dikumpulkan secara mendadak. Penyebabnya, Googlebot, aplikasi yang bertugas menjaring situs web di jagat maya, berhenti bekerja. Akibatnya, ketika pengguna ingin melakukan pencarian di dunia web, Google menampilkan hasil pencarian lawas, yakni versi lima bulan sebelumnya.

Googlebot yang tidak bekerja ini sungguh mengkhawatirkan. Selain mengumpulkan para teknisinya, duo pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin menghubungi Yahoo, mencoba meminjam sistem penjaringan web milik situs pencarian tertua itu yang diklaim sepuluh kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki Google.

Kala itu, teknisi paling top Google Craig Silverstein memimpin pertemuan para teknisi. Selepas menganalisis barisan kode pemrograman Googlebot untuk mengetahui penyebab Googlebot berhenti bekerja, Silverstein berujar: “Tidak ada analisis kami yang benar-benar masuk akal".

Tidak ada bug dan cacat desain yang ditemukan di kode pemrograman Google.

“Semuanya hancur dan sedihnya kami tidak tahu kenapa,” ujar Silverstein.

Beberapa hari kemudian langit cerah menghampiri Silverstein. Masalah Googlebot rupanya tidak terletak pada kode pemrogramannya, tetapi pada chip memori yang tertanam di mesin yang menjalankan Googlebot. Google mengalami masalah di sisi hardware.

Googlebot kemudian dirancang ulang agar masalah hardware tidak berpengaruh secara keseluruhan terhadap sistem. Karena saat itu tidak ada komputer super yang sanggup melakukan proses komputasi sistem pencarian mereka, Google akhirnya membeli komputer biasa, lalu merangkainya sendiri menjadi komputer super.


Kisah ini menjadi semacam penegasan bahwa Google bukan sebatas perusahaan software melalui mesin pencari yang melayani miliaran pengguna internet, tetapi juga sebagai perusahaan hardware, yang merancang mesinnya sendiri. Bahkan pada 2012 lampau, Eric Schmidt, CEO pertama Google, menegaskan bahwa perusahaannya itu telah memiliki ambisi mendesain hardware sejak awal.

“Kami selalu ingin masuk ke bisnis hardware,” ucap Schmidt.

Salah satu keseriusan masuknya Google ke bisnis Hardware dilakukan pada 2012. Kala itu, dengan uang sebanyak $12,5 miliar mereka membeli Motorola. Menurut Schmidt langkah ini dilakukan “untuk cepat-cepat masuk ke bisnis hardware”.

Sayangnya, pembelian Motorola tidak benar-benar diterjemahkan Google untuk masuk ke bisnis hardware. Dua tahun berselang, divisi selular Motorola dijual seharga $2,91 miliar ke Lenovo.

Terkesan murah. Namun, sebagaimana tertuang dalam analisis yang dilakukan N.P. Singh dalam “Google Bought and Sold Motorola Mobility: What it Means?” (2005) Google sebetulnya untung. Motorola yang dijual ke Lenovo itu merupakan versi kosong karena lebih dari 17.000 paten terkait selular tidak diikutsertakan. Google pun menjual divisi Motorola lainnya, seperti divisi set top box ke Arris Group dan pabriknya ke Flextronics.

Dengan asumsi paten-paten Motorola yang digenggam Google bernilai $5,5 miliar, Google untung $2,024 miliar.



Larry Page menegaskan bahwa penjualan Motorola dilakukan karena bisnis ponsel “sangat kompetitif.” Dan Lenovo, yang sejak awal berjalan di bisnis ponsel, dianggap akan mampu membawa Motorola ke arah yang lebih baik.

Sementara itu, paten Motorola yang digenggam Google diklaim Page akan mampu “menguntungkan bagi ekosistem Android”.

Google seakan menyerah di bisnis hardware. Namun, langkah mereka kemudian berbicara lain. Pada 2017, meminjam istilah The Verge, Google membeli karyawan terhebat divisi mobile HTC seharga $1,1 miliar. Dalam aksi korporasi ini Google berhak atas lebih dari 2.000 karyawan HTC yang bekerja merancang ponsel pintar bagi perusahaan yang berbasis di Taiwan itu.

Selain HTC, Google pun membeli Nest seharga $3,2 miliar, Akwan Information Technologies, dan WIMM Labs, yang semuanya adalah perusahaan hardware.


Melalui amunisi baru, Google kemudian melahirkan beragam hardware. Mulai dari Pixel untuk lini ponsel, Chromebook, dan Pixelbook untuk laptop dan desktop, hingga beragam perangkat wearable device dalam kerangka “made by Google.”

Lalu, untuk mendukung perangkat-perangkat yang selalu terhubung ke internet ini, Google memasang kabel optiknya sendiri di Kansas City, Amerika Serikat.

Lantas, apa tujuan akhir Google menciptakan beragam perangkat keras? Sebagaimana dilansir Business Insider (24/4/2004), Page menegaskan bahwa Google harus tumbuh “10X” alias sepuluh kali lebih besar.

Hingga hari ini, Google masih mengandalkan iklan sebagai pendapatan utama. Sayangnya, sebagai penguasa bisnis iklan digital--bersama Facebook--pertumbuhannya jelas tidak akan 10X. Tengok pencapaian mereka dari 2016 hingga 2018 lalu. Sebagaimana dimuat Statista, berturut-turut sejak 2016, pendapatan iklan Google berada di angka $79,38 miliar, $95,38 miliar, dan $116,32 miliar. Artinya, bisnis ini hanya tumbuh 16 dan 18 persen.

Ponsel pintar jadi salah satu bisnis yang dapat menggairahkan Google. Masih menurut Statista, bisnis ini bernilai $522 miliar.

Jika melalui Pixel Google dapat memenangkan pertarungan di ranah ponsel, ada keuntungan lebih yang bisa dikeruk: data.

Ponsel adalah perangkat yang melekat erat pada pemiliknya. Ia, kemungkinan besar, adalah yang benda pertama dan terakhir dilihat manusia setiap hari. Ini tentu menguntungkan bagi “bisnis personalisasi” Google.

Tentu, meminjam perkataan Page, bisnis ponsel adalah bisnis yang “sangat kompetitif” nan keras. Sekeras Presiden Donald Trump menjegal laju Huawei dengan melarangnya berhubungan dagang dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Google tidak akan mudah memenangkan bisnis ini.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight