Darmin Nasution: Kami Berunding Sawit dengan Uni Eropa di WTO

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 28 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Jika semua akan berujung di WTO, maka Indonesia akan mendengar apa yang negara tersebut tuduhkan. Kemudian akan ada diskusi dan berunding soal sawit.
tirto.id - Sengketa soal bea masuk untuk produk biodiesel Indonesia ke pasar Uni Eropa (EU) sudah berlangsung sejak lama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memperkirakan, sengketa tersebut bakal berujung pada penyelesaian sengketa di World Trade Organization (WTO).

"Pasti ujungnya kalau mereka sudah mulai kan gak bisa dibiarkan gitu aja, pasti ujungnya ya ke WTO. Kami tentu akan mendengar apa yang mereka tuduhkan, kami jawab, diskusi dan berunding," jelas dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng Jakarta Pusat, Minggu (28/7/2019).

Ia juga mengatakan, langkah ini dilakukan karena Indonesia menghormati hubungan secara multilateral.


Prosesnya, lanjut dia, jika semua akan berujung di WTO, maka Indonesia akan mendengar apa yang negara tersebut tuduhkan. Kemudian akan ada diskusi dan berunding.

"Sebenarnya WTO itu katakanlah peradilan tapi tetap saja berunding. Jadi ini adalah bagaimana pun buat Eropa, adanya kelapa sawit itu benar-benar menyusahkan," kata dia.

Ia juga mengatakan, sawit Indonesia cukup membuat susah petani minyak nabati di negara-negara Eropa karena Indonesia bisa memproduksi minyak sawit dalam skala besar dan murah. Karena Eropa juga memiliki minyak nabati yang produktivitasnya tinggi.

"Sehingga apa pun, mereka akan menghambat kelapa sawit dan turunannya ke sana. Nah ini mereka mulai lagi dengan biodiesel, yang sebenarnya sudah pernah juga dituduhkan. Tadinya tuduhannya itu subsidi, dan itu sudah dibuktikan. Itu pungutan dari produsen dan eksportir CPO itu sendiri, pemerintah tak keluar uang sedikit pun," ungkap dia.

Ia juga mengatakan, hingga saat ini meski mendapat kampanye hitam di Eropa. Pemerintah akan membenahi pertanian dan lahan sawit di dalam negeri, agar produksi sawit bisa dioptimalkan untuk mendukung penggunaan energi B20.

"Memang kita sendiri membenahi per kelapa sawitan kita sedikit terlambat dari Malaysia, sehingga ada ruang untuk menuduh market. Tapi perbaikan itu sudah kita jalankan beberapa tahun ini. Ada sejumlah hal yang baru mulai dijalankan, tapi tidak apa apa," ujar dia.


Baca juga artikel terkait SAWIT atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Zakki Amali
DarkLight