Dari Video Mirip Ariel hingga Foto Mirip Aidit

Foto Mirip DN Aidit yang dipamerkan di bandaraTerminal 3. [Grafis/Tf Subarkah/Foto/youtube/wikipedia.org]
Oleh: Arlian Buana - 19 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Daripada menyebut Aidit dan PKI sebagai pengkhianat dan menodai perjuangan bangsa, sebenarnya lebih aman menyebut jenderal-jenderal Orde Baru sebagai penjahat kemanusiaan.
Mei 2010, berkat salah satu video paling menghebohkan sepanjang sejarah Indonesia, kata "mirip" jadi primadona. Hingga berbulan-bulan setelah tersebarnya video asyik itu, "mirip Ariel" jadi serupa mantra yang dirajah dan dirapalkan di mana-mana.

Bertahun-tahun kemudian, setelah sekian lama kehilangan panggung dan nyaris tak pernah muncul di kepala berita, kata "mirip" kembali merangsek merebut perhatian. Kali ini disandingkan dengan nama Aidit, Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum terakhir Partai Komunis Indonesia (PKI) dan salah satu manusia terbaik Indonesia yang pernah berhasil memimpin partai politik dengan jutaan kader—prestasi yang masih sulit dicapai politisi kiwari. Dan kali ini bukan video, hanya foto.

Adalah Republika Online yang memulainya. Cuma bermodalkan kicauan seorang bernama Hidayat Adhiningrat di Twitter, pada 12 Agustus 2016, Republika menurunkan berita berjudul Foto Mirip Aidit Dipajang di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dan membingkainya sebagai sesuatu "ganjil," hanya karena gambar mirip Aidit disandingkan dengan gambar mirip KH Ahmad Dahlan dan mirip KH Hasyim Asy'ari.

Di mana letak ganjilnya?

Tak ada penjelasan memadai kenapa foto Aidit diapit dua pendiri organisasi Islam itu harus dicap ganjil. Republika buru-buru lari ke permintaan penjelasan dari pihak Angkasa Pura II yang saat itu belum memberi jawaban. Media yang konon islami ini bahkan tak sempat memeriksa foto apa itu sebenarnya, apakah selain tiga tokoh tadi ada yang lain, seperti apa gambar utuhnya, dan lain-lain untuk melihat konteksnya bagaimana. Barangkali informasi-informasi demikian mereka anggap tidak penting. Pokoknya ganjil.

Dari satu berita itulah Republika menggoreng satu isu hangat dan seksi dan aduhai dan menggiurkan untuk disajikan ke hadapan pembacanya. Lalu digelontorkanlah komentar-komentar orang yang dianggap Republika sebagai pakar atau ahli atau pengamat atau tokoh masyarakat atau dipanggil-apa-saja-boleh asal pendapatnya bisa dikutip untuk mengelap-elap bingkai "ganjil" yang mereka bikin sampai berkilap.

Salah satu yang paling cemerlang adalah pendapat Plt Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi. (Republika bahkan tidak menuliskan apa itu PB PGRI, apakah Pengurus Besar Persatuan Gentong Republik Indonesia atau Persatuan Garong atau Persatuan Gundu atau Persatuan Guru) "Kalau sampai ada foto Aidit di bandara itu berarti kecolongan," kata Unifah. "Saya sendiri sangat sedih mendengar hal itu. Masak Aidit yang menodai perjuangan bangsa dipasang dengan tokoh-tokoh bangsa? Ini tak elok."

Belum terang benar apa saja yang "menodai perjuangan bangsa", Ulfiah menghadiahi lagi Aidit dengan gelar lain: Pengkhianat NKRI. Meski lagi-lagi tanpa uraian yang cukup atas julukan ini, pembaca (Republika, terutama, atau asumsikanlah begitu) tentu tak asing lagi dengan istilah penghianat dan pengkhianatan yang lumayan lengket dengan PKI dan Aidit. Film Pengkhiatan G30S/PKI pada masa Soeharto berkuasa bertahun-tahun menjadi tontonan "wajib".



Yang tidak diketahui Republika, Unifah, dan barisan antikomunis di seluruh negeri yang doyan rusuh dan menggebuk dan melanggar hak-hak sipil orang lain: film besutan Arifin C Noer yang biaya produksinya ditanggung rezim Orde Baru itu telah menjadi kudet alias kurang apdet alias ketinggalan zaman dan nilai propagandanya layak diretur kepada Soeharto dan kroni-kroninya, baik yang sudah di alam kubur maupun yang masih bergentayangan. Sejak kekuasaan Soeharto rontok pada 1998, dan kebebasan informasi turah-turah, sejarah sekitar peristiwa September 1965 perlahan-lahan mulai luas dibicarakan dan kebenaran versi Soeharto—kalau tidak boleh disebut omong kosong untuk membenarkan segala tindak kekerasan yang dilakukan rezimnya—bukanlah kebenaran mutlak.

Usaha-usaha untuk meluruskan sejarah pun telah dilakukan banyak pihak, dan sebagian besar sejarawan kini yakin dan punya cukup bukti: pembunuhan terhadap beberapa petinggi Angkatan Darat pada masa itu adalah konflik di tubuh tentara—bukan sesuatu yang dirancang oleh PKI seperti yang digemakan sejarawan Orde Baru dan film Pengkhianatan. Lalu yang terjadi setelahnya adalah mimpi buruk bagi negeri ini: mereka yang dianggap kader, simpatisan, atau sekadar pernah bersentuhan dengan PKI dibantai oleh tentara beserta milisi-milisi sipilnya. Perkiraan jumlah korbannya mengerikan: dari ratusan ribu hingga jutaan. Kalau tidak dibunuh, mereka diasingkan di Pulau Buru tanpa proses peradilan atau, bagi yang cukup beruntung, kabur ke luar negeri sebagai eksil.

Maka daripada menyebut PKI dan Aidit sebagai pengkhianat dan menodai perjuangan bangsa, sebenarnya lebih aman menyebut jenderal-jenderal Orde Baru sebagai penjahat kemanusiaan. Mereka, para jenderal itu, menghabisi hidup jutaan saudara sebangsa sendiri lalu meyebarkan kabar bohong selama puluhan tahun.

Ide Indonesia

“Sudah betul itu. Lebih baik majang foto mirip Aidit daripada majang foto mirip Muhadjir Effendy,” kata Bilven Rivaldo Gultom, pendiri Penerbit Ultimus.

Bilven pria yang suka membuat lelucon. Kadang lucu, lebih sering garing. Tapi sesungguhnya ia manusia yang penuh dedikasi. Seperti Aidit yang mewakafkan hidupnya untuk PKI, telah lebih dari satu dasawarsa Bilven mengabdikan dirinya di Ultimus. Dari awalnya merintis toko buku, warung internet, memfasilitasi berbagai kegiatan mahasiswa di Bandung, bahkan menampung mahasiswa-mahasiswa yang kekurangan uang untuk biaya tempat tinggal, hingga mendirikan pabrik buku yang menerbitkan buku-buku kiri.

Setidaknya ada dua kategori naskah yang ia cetak di Ultimus. Pertama, naskah yang berkaitan dengan literatur Marxisme: terjemahan dari karya-karya Karl Marx, Friederich Engels, Georgi Plekhanov, dan marxis lainnya. Atau teks-teks ilmiah di bidang ilmu tertentu yang ditulis dengan perspektif Marxisme. Kedua, naskah yang berkaitan dengan sejarah kelam Tragedi 1965: buku sejarah atau analisa ekonomi politik terkait Peristiwa 1965, memoar atau catatan harian para eks-tapol dan eksil, atau karya-karya klasik seniman Lekra.

"Masih banyak orang yang berangkat dari ketidaktahuan akan marxisme dan komunisme, yang berujung menjadi kebencian atau ketakutan,” kata Bilven. “Kami ingin mengalahkan ketakutan dan menghilangkan kebencian tak berdasar itu."

Karena ketakutan tak berdasar itu pula, PT Angkasa Pura II kurang baik mengelola humasnya. Alih-alih memberi keterangan sebaik-baiknya mengapa foto kolase ribuan tokoh itu—bukan hanya tiga tokoh, dengan foto Aidit yang kecil sekali—terpajang di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang baru diresmikan, PT Angkasa Pura II justru melakukan serangkaian blunder. Dimulai dari penyangkalan bahwa itu bukan foto Aidit melainkan Sutan Sjahrir, yang segera dijadikan santapan empuk Republika, penutupan gambar itu dengan kain putih, hingga penurunannya sebelum pameran ditutup.

“Karena [lukisan itu] dirasa menimbulkan macam-macam pengertian, persepsi, ya akhirnya diturunkan Jumat [12/08] kemarin,” kata Muhammad Suriawan Wakan, Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta.

Padahal, di bawah gambar berjudul #TheIndonesiaIdea itu sudah termaktub keterangan yang bagus sekali dari pelukisnya, Galam Effendy, sebuah pernyataan lantang untuk merawat kebhinnekaan.

“Indonesia bukanlah antinomi yang memperlihatkan wajah tunggal. Ia adalah sebuah pembayangan bersama yang ditopang dari ide yang beragam.” tulis Galam.

“Proses menjadi Indonesia sesungguhnya adalah kerja coba-coba yang serius. […] Bukan saja proses ini menobatkan sejumlah pemili ide menjadi 'tokoh bangsa' yang tampil dalam silabus sejarah, tapi juga pengusung ide yang bahkan teralpa dan bahkan terkubur karena pilihan ideologis yang kalah dalam pertaruhan. Ide-ide yang bertaruh dan diperjuangkan dengan keras kepala itulah yang membingkai wajah Indonesia yang terwariskan hingga kini.”

Dua hari setelah #TheIndonesiaIdea diturunkan, Terminal 3 Bandara Soetta kena banjir dan aktivitas penerbangan di sana praktis terganggu. Apakah ini kemurkaan gambar mirip Aidit? Meminjam istilah yang sering dipakai Republika: wallahu a'lam.

Baca juga artikel terkait AIDIT atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight