Dari Termehek-Mehek hingga Karma, Tambang Uang Reality Show

Oleh: Restu Diantina Putri - 3 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Acara realitas menjadi solusi ampuh industri televisi: biaya produksi tak sebesar menggarap sinetron tapi menguntungkan.
tirto.id - Suti menatap gemas layar kaca di ruang tamunya. Ibu dua anak itu menonton Termehek-Mehek, sebuah program reality show yang pernah populer dan tayang di stasiun televisi TransTV. Suaminya, Hari, juga ikut menikmatinya. Sesekali Suti menimbrungi jalinan cerita realitas itu bareng suaminya.

Suti tahu bahwa tayangan itu hasil rekayasa. Tapi ia tak ambil pusing soal begitu. Acara realitas itu membuatnya larut dalam emosi seiring adegan cerita yang penuh drama.

“Buat hiburan. Seru,” ujar Suti.

Yovantra Arief dari Remotivi, sebuah pusat studi media dan televisi berbasis di Jakarta, menilai acara realitas digemari justru karena mengundang empati penonton. Kendati tahu acara itu rekayasa tapi orang, narasi, dan latar ceritanya terjadi dalam hidup sehari-hari.

“Jadi ada semacam katarsis. Orang susah dibantu, orang diselingkuhi jadi ketahuan dan dipermalukan, kehilangan orang dekat lalu ketemu. Jadi kondisi orang dalam cerita itu "diselamatkan", sehingga kita ikut merasa lega,” ujarnya mengutip hasil penelitian sebuah riset psikologis mengenai program acara realitas.

Industri televisi di Jakarta menyuguhkan ragam reality show. Sebut saja Katakan Cinta, Harap-Harap Cemas, dan Termehek-Mehek. Mereka jadi tambang uang.

Termehek-Mehek, misanya, menyedot penonton sejak dibuat pada 2008. Formatnya waktu itu pencarian orang hilang yang kerap diakhiri dengan fakta-fakta tidak terduga. Acara ini pernah mendapatkan share tertinggi hingga 36 persen, dan menyabet penghargaan Panasonic Awards sebagai acara realitas terfavorit pada 2009.

Acara itu disebut "rekayasa" oleh penelitian Lembaga Studi Media Ampera. Mungkin terkait studi itu tapi mungkin karena penonton sudah bosan, pamor Termehek-Mehek menurun hingga berhenti tayang pada 2012 dengan share terakhir hanya 10 persen.

Di Indonesia, popularitas acara realitas sejalan kelahiran stasiun televisi swasta, yang dicontohkan dalam program Spontan pada 1996, menurut Yovantri.

Dua puluh tahun kemudian sejak tayangan Spontan, ditambah ada banyak stasiun televisi swasta, acara-acara realitas dan variety show menjamur. Dan tetap diminati ribuan hingga jutaan penonton. Sebut saja Karma di ANTV, Katakan Putus (TransTV), Rumah Uya (Trans7), Tercyduk (SCTV), dan beberapa variety show seperti Pesbukers (ANTV).


Infografik HL Indepth Reality Show

Komoditas Menguntungkan bagi Industri Televisi

Hampir setiap acara realitas atau variety show menjadi program unggulan di stasiun TV masing-masing. Program Karma, misalnya, yang mengadaptasi acara televisi Thailand dengan menyuguhkan ramalan ini mencapai share hingga 21 persen dan menyedot 1,2 juta penonton pada tiga bulan terakhir sebelum berhenti tayang. Pada periode yang sama, variety show Pesbukers menuai share hingga 15 persen dengan 874 ribu penonton.

Begitupun Rumah Uya kerap meraup share tertinggi setiap hari di Trans7, antara 7-9 persen. Ia bahkan menyaingi program unggulan Trans7 sebelumnya seperti On The Spot, Hitam Putih, dan Opera Van Java.

Irfa Dania, produser Rumah Uya, mengatakan kepada kami bahwa biaya produksi satu episode acara realitas yang dipegangnya itu sebesar Rp100 juta, baik untuk syuting langsung maupun rekaman. Acara ini tayang stripping dari Senin hingga Jumat, pukul 17.00. Artinya, Trans 7 menggelontorkan biaya hingga Rp500 juta per pekan atau Rp2 miliar per bulan.

Biaya produksi sebuah acara disesuaikan jam tayang. Acara macam Hitam Putih dan Opera Van Java, yang tayang pada jam utama, menelan biaya produksi lebih tinggi ketimbang Rumah Uya. Namun, dari segi pendapatan, Rumah Uya bisa mematut bangga.

Tingkat share yang tinggi artinya mendatangkan laba. Dari data Adstensity, media basis data yang memantau perolehan iklan di televisi, pendapatan iklan Rumah Uya pada Agustus 2018 mencapai Rp23 miliar. Artinya, masih ada selisih keuntungan Rp21 miliar. Sementara laba Rumah Uya "Investigasi" mencapai Rp6 miliar.


Meski begitu, acara realitas masih kalah dari sinetron. Sampai kini sinetron tetap jadi mesin uang stasiun televisi. Tapi, biaya produksinya lebih besar dan prosesnya lebih rumit. Menurut Irfa, memproduksi acara realitas jauh lebih mudah. Sumber daya manusia pun tak sebanyak kru sinetron.

“Produksi sinetron memakan waktu mulai dari riset, brainstorming, hingga proses syuting. Sedangkan SDM kami tidak banyak, sementara hampir 80 persen program Trans7 adalah in house (produksi sendiri tanpa melibatkan rumah produksi),” jelas Irfa.

Format iklan di acaranya beragam. Untuk saat ini, Rumah Uya juga mendapatkan iklan dengan format built in (iklan yang disisipkan dalam program) berupa kuis.

Pada Agustus 2018, pendapatan iklan tertinggi acara realitas dipegang Karma—sekitar Rp84 miliar. Program yang diampu Robby Purba dan Roy Kiyoshi di ANTV ini bahkan pernah meraup pendapatan iklan hingga Rp126 miliar. Program lain dengan pendapatan iklan tertinggi per Agustus 2018 adalah Bedah Rumah (GTV)—sekitar Rp42 miliar.

Total ada 31 program acara realitas yang tercatat Adstensity dari enam stasiun televis (SCTV, TransTV, Trans7, ANTV, GTV, dan NET).

“Konsep reality show menarik karena biaya produksinya murah, bisa stripping, dan jika belajar dari pengalaman Amerika Serikat, ini menguntungkan," ujar Yovantra Arief dari Remotivi. "Jadi tayangan semacam ini ideal ... murah dan menguntungkan."

Baca juga artikel terkait ACARA TELEVISI atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan