Dari "Intel Inside" Menuju "Low Spec Inside"

Oleh: Ahmad Zaenudin - 30 Januari 2021
Dibaca Normal 5 menit
Intel dikenal sebagai produsen prosesor kelas kakap. Kini dianggap miskin inovasi.
tirto.id - Sudah seminggu saya menggunakan Macbook Air M1, laptop seri pertama dari Apple yang menggunakan prosesor berarsitektur ARM. Dalam waktu yang relatif pendek ini, cuma satu yang saya rasakan: fantastis (syarat dan ketentuan berlaku).

M1 tak seperti SQ1 dan SQ2--prosesor berbasis ARM--garapan bersama Microsoft dan Qualcomm untuk Surface Pro X yang berbuah kekecewaan karena banyaknya aplikasi penting yang gagal berfungsi. Ya, khusus untuk Chrome, browser keluaran Google itu masih dalam pengembangan untuk versi ARM-nya, namun pengguna diberikan pilihan untuk tetap menggunakan versi Intel. Ketika saya mencobanya, Chrome versi Intel lancar jaya digunakan pada M1, dengan catatan: ketika mengunjungi Gmail (dan berbagai produk Google), Chrome versi Intel yang dijalankan pada Macbook M1 terkadang mengalami kendala otentikasi akun Google. Google mengganggap Chrome yang saya gunakan "tidak aman" dan meminta saya untuk "menggunakan browser lain".

Karena hampir setiap layanan internet yang saya gunakan memanfaatkan "Sign in with Google", ini jadi masalah. Tetapi masalah ini dapat diakali dengan beralih menggunakan Chrome Developer alias Chrome versi pengembang website yang telah mendukung arsitektur ARM. Bagi saya, ini bukan kendala besar karena saya adalah pengguna Edge.

Selain Chrome, tidak ada masalah bagi Macbook M1. Kecuali semua aplikasi buatan Apple dan Adobe Lightroom yang telah memiliki versi ARM, segala aplikasi yang sebetulnya dirancang untuk arsitektur x86 (Intel dan AMD) lancar jaya dijalankan M1, seperti Adobe Illustrator, Photoshop, After Effect, hingga Microsoft Word. Yang lebih mengejutkan, Macbook yang saya gunakan dapat hidup selama 13 jam non-stop hanya dengan baterai (dan masih tersisa kapasitas baterai sebesar 20 persen), meskipun saya tak henti-hentinya menjelajah internet melalui Edge serta mendengarkan lagu dari Youtube Music dan memeriksa pesan di WhatsApp Desktop, plus sesekali menggunakan Lightroom, Atom (code editor), dan Illustrator. Tentu, sebagai penulis, saya tak pernah lupa menggunakan Kwaya--aplikasi word processing seperti Microsoft Word atau Google Docs buatan saya sendiri.

Satu-satunya kekecewaan terhadap Macbook M1 fakta bahwa Craig Federighi, Senior Vice President Apple, yang ingkar janji. Tatkala Macbook M1 (Pro dan Air) diluncurkan, Federighi sesumbar M1 dapat menjalankan 90 persen aplikasi iOS dan iPadOS. Sialnya, Apple kemudian mengoreksi klaim ini dan memberikan pilihan bagi pengembang untuk menempatkan aplikasi ciptaan mereka di Macbook--atau tidak. Lantas, Apple pun mematikan kemampuan sideloading--di mana kita bisa mencari instalasi apk pada Android untuk memasangnya sendiri di luar Google Play--pada Macbook M1. Tercatat, saya hanya dapat menggunakan aplikasi iOS Traveloka dan Bukalapak (serta beberapa aplikasi lain seperti aplikasi Tirto dan Detik). Padahal, saya berharap dapat memesan makanan via Gojek (untuk Grab, Anda dapat melakukan ini melalui versi web) dan menggunakan WhatsApp versi sungguhan di laptop.

Terlepas dari masalah minor yang saya alami, M1 memang fantastis. Merujuk klaim Senior Vice President of Hardwere Technologies Apple Johny Srouji dalam wawancaranya bersama Samuel Axon untuk Ars Technica akhir 2020 lalu, "Apple selalu ingin menciptakan produk terbaik yang dapat dibuat." Bagi Apple, meskipun iPhone dan iPod merupakan produk paling sukses, "Mac adalah jiwa kami". Mac, sebut Federighi, "menjadi alasan utama mayoritas dari kami berlabung ke dunia komputer menjadi karyawan Apple".


Dalam catatan sejarah, Apple mula-mula menggunakan prosesor ciptaan MOS Technology, yakni 6502 untuk Apple I dan Apple II, dan kemudian menggunakan PowerPC. Namun, karena PowerPC sudah tidak sanggup memenuhi keinginan performa Apple, sejak 2006 Apple hijrah untuk menggunakan Intel pada Mac. Sayangnya, tutur Srouji, "sekarang kami (berada di posisi) benar-benar mengharuskan merancang silicon (prosesor) sendiri untuk dapat menciptakan Mac terbaik yang dapat kami buat." Alasannya, tentu, karena Apple telah belajar bertahun-tahun merancang prosesor (dengan bantuan Samsung) untuk iPhone dan Intel sudah mentok untuk perkara prosesor.

Dengan merilis M1 (sementara Microsoft merilis SQ), Apple telah menganggap Intel bukan bagian dari masa depan mereka.

Masalah Kepemimpinan

Paul Allen, yang bersama dengan Bill Gates mendirikan Microsoft, dalam bukunya berjudul Idea Man: A Memoir by the Cofounder of Microsoft (2011), menyebut bahwa penciptaan Microsoft terkait erat dengan perkembangan Intel. Kisahnya bermula pada 1969 tatkala Intel diminta perusahaan asal Jepang menciptakan chip murah untuk kalkulator. Gayung bersambut, pada bulan November 1971, Intel merilis chip pertama mereka: 4004. Meskipun dibuat untuk kalkulator, sebut Allen, "4004 terlihat terlalu bagus hanya untuk kalkulator. Dan setelah saya melihatnya lebih seksama, 4004 bukanlah chip biasa, melainkan central processing unit (CPU) sungguhan."

4004 memang bukan chip biasa. Ini adalah chip pertama yang mengintegrasikan segala IC (integreted circuit) pada satu chip. Tatkala Intel merilis 4004, Allen (dan Gates) belum kepikiran untuk mengembangkannya lebih jauh. Namun, setahun kemudian, Intel merilis versi terbaru chip mereka, 8008, yang lebih tangguh. Memanfaatkan chip ini, Allen menciptakan Traf-O-Data, suatu mesin yang dapat menganalisis lalu-lintas. Dan bagi Allen, 8008 terlalu bagus pula jika hanya digunakan untuk Traf-O-Data.

Allen mengutarakan niatnya pada Gates bahwa ia hendak menciptakan complier, software yang menerjemahkan bahasa tingkat tinggi dalam komputasi seperti C++ ke bahasa yang dapat dimengerti komputer seperti binari. Sialnya, niat itu dipadamkan Gates. Bagi Gates, 8008 masih terlalu lemah untuk memproses complier. Gates pun meminta Allen "memberitahunya sesegera mungkin seandainya Intel telah menciptakan chip yang jauh lebih tangguh".

Dua tahun berselang, tepatnya pada April 1974, Intel akhirnya merilis chip yang jauh lebih tangguh itu, yakni 8080. Melalui chip ini, sebuah perusahaan bernama Micro Instrumentation and Telemetry Systems (MITS) sukses menciptakan komputer bernama Altair 8800. Allen, tentu, girang bukan main atas kehadiran 8080 dan Altair 8800. Klaimnya, 8080 "merupakan chip yang telah lama kami bicarakan." Bersama dengan Gates, ia akhirnya dapat menciptakan complier, BASIC, bagi 8080 alias bagi Altair 8800. Melalui BASIC, Allen dan Gates (singkatnya, Microsoft) merevolusi penciptaan software untuk komputer.

Kesuksesan Microsoft melalui BASIC berbuah dua hasil manis. Pertama, Microsoft akhirnya menjalin kontrak dengan IBM untuk membuatkan sistem operasi bagi mereka, MS-DOS (Microsoft Disk Operating System). Dengan kekuatan IBM sebagai perusahaan teknologi terbesar kala itu, IBM plus MS-DOS menguasai pasar komputer, yang akhirnya membuahkan hasil manis kedua: kejayaan Intel. Intel jaya tak lain karena sistem yang dikembangkan Microsoft dan PC yang dirakit IBM menggunakan Intel sebagai prosesornya.

Meskipun memperoleh hasil baik melalui 8080, kesuksesan Intel sesungguhnya tidak muncul di chip tersebut. Chip yang membuat Intel jaya sejaya-jayanya adalah Pentium, chip yang mereka rilis pada 1993. Pentium generasi pertama adalah prosesor yang memiliki 3,1 juta transistor—meningkat 1,2 juta transistor dari pendahulunya, Intel 80486—dan memiliki clock speed antara 60 hingga 66 MHz. Ia juga prosesor berarsitektur superskalar x86 pertama yang diproduksi Intel. Superskalar merujuk pada prosesor yang mampu melakukan banyak instruksi di setiap siklusnya. Intel menciptakan Pentium dengan teknologi 800 nanometer.

Di awal peluncurannya, Pentium dijual dengan harga $878 untuk versi 60 MHz dan $964 untuk versi 66 MHz. Prosesor ini tetap laku keras meskipun memiliki cacat desain, yakni "Pentium Flaw" pada salah satu di antara 3,1 juta transistor. Arsip The New York Times tertanggal 19 Juli 1994 menyebut Intel sukses menjual 6 hingga 7 juta Pentium. Atas penjualan yang moncer tersebut, di kuartal II-1994, Intel mendulang untung sebesar $640 juta. Dengan kata lain, Intel memperoleh keuntungan tambahan sebesar $569 juta dibandingkan hasil finansial setahun sebelumnya.


Infografik Pentium
Infografik Pentium


Ya, Pentium sukses bukan hanya karena kemampuan teknis chip tersebut, melainkan juga strategi pemasaran Intel, yakni slogan "Intel Inside". Strategi pemasaran ini disebut-sebut Donald G. Norri dalam Journal of Business & Industrial Marketing (Vol. 8 1993) sebagai yang "paling mahal dan paling sukses". Menurut penuturan Norri, kesuksesan “Intel Inside” setidaknya terjadi atas tiga faktor. Pertama, ia sukses membuat masyarakat percaya bahwa prosesor buatan Intel berharga murah. Kedua, kesuksesan “Intel Inside” disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat atas dunia komputer itu sendiri. Terakhir, promosi "Intel Inside" sukses karena Intel berhasil meyakinkan konsumen bahwa prosesor buatannya akan mampu mengakomodasi perangkat lunak untuk jangka panjang.

Pentium berlalu. Intel kemudian merilis bermacam prosesor, yang murahan hingga yang tangguh, mulai dari Celeron dan Atom hingga seri Core 2 Duo dan Core iX. Awalnya, tindakan ini terlihat baik-baik saja. Namun, dunia kian bergerak ke arah mobile dan chip buatan Intel dinilai terlalu boros listrik. Lalu, soal kerja-kerja berat, wabilkhusus untuk bermain game PC, AMD tiba-tiba tampil sebagai juara. Setelah Lisa Su ditunjuk menjadi Chief Executive Officer AMD pada Oktober 2014, perusahaan yang diprediksi akan bangkrut tersebut tiba-tiba mencuat melalui Ryzen. AMD akhirnya menjadi pilihan terbaik para pemain game.

Intel pun terpental. Berbagai prosesor buatan Intel perlahan dianggap tak sesuai harapan. Apple akhirnya memutuskan beralih dari Intel ke prosesor buatan sendiri.

Don Clark, dalam laporannya untuk The New York Times, menyebut performa Intel menurun karena krisis kepemimpinan dalam perusahaan. Dalam sejarahnya sebagai perusahaan teknologi, Intel selalu mengangkat teknisi terbaik mereka menjadi CEO. Namun, tradisi tersebut berakhir tatkala Paul Otellini, seorang ekonom dan karyawan yang menangani lini bisnis Intel, ditunjuk menjadi CEO pada 2005. Otellini dianggap tak terlalu paham sosl prosesor dan lebih mementingkan keuntungan. Meski akhirnya pada 2012 CEO Intel kembali beralih ke tangan seorang teknisi, yakni Brian Krzanich, sang CEO baru rupanya bermasalah dengan etika perusahaan. Ia diketahui memiliki hubungan dengan rekan perempuannya di Intel dan memaksanya mengundurkan diri.

Krzanich akhirnya digantikan oleh Robert Swan, mantan kepala keuangan eBay dan General Electric, yang tentu tak terlalu paham hal-hal teknis. Karena masalah etika plus gagap teknologi inilah Intel gagal memenuhi janji untuk membuat prosesor berteknologi pabrikan 10 nanometer, yang direncanakan dirilis pada 2019 (setelah berjanji akan menghadirkannya pada 2015). Ketika dua CEO tersebut menjabat, Intel diketahui mendelegasikan beberapa prosesor mereka ke Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Pada awal 2021, kabar mengejutkan dalam tubuh pucuk pimpinan Intel kembali mencuat. Swan dipecat dan digantikan oleh Patrick Gelsinger, mantan teknisi Intel yang keluar untuk mendirikan VMware.

Tentu, meskipun menghadapi masalah terkait pucuk pimpinan, Intel terus berupaya untuk terus menjadi pilihan. Dalam Consumer Electronic (CES) 2021 lalu, Intel akhirnya merilis chip 10 nanometer mereka, Alder Lake, alias Intel 12th-generation CPU, alias Core i3/5/7 12th-generation. Yang menarik, meskipun tetap menggunakan arsitektur x86, Alder Lake dibuat dengan desain yang identik dengan big.LITTLE milik AMD--yang diterjemahkan Apple menjadi Firestorm.Icestorm Core. Menggunakan desain big.LITTLE, chip terdiri dari core yang kuat tetapi rakus listrik dan core yang hemat listrik tetapi biasa-biasa saja. Dengan fitur switch mode, chip memerintahkan core hemat daya untuk bekerja seandainya pengguna hanya menggunakan aplikasi yang biasa-biasa saja. Jika pengguna butuh tenaga, barulah core yang kuat diaktifkan.

Dengan mengimplementasikan big.LITTLE pada Alder Lake, Intel seakan menyerah. Dunia memang tengah bergerak ke arah ARM dan Intel bergerak menjadi "Low Spec Inside."

Baca juga artikel terkait INTEL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight