Dari Hoaks sampai Rasisme: Busuknya Konsultan Politik Republikan AS

Roger Stone, teman lama dan orang kepercayaan Presiden Donald Trump, menunggu untuk berbicara dengan anggota media di Washington, Kamis (31/1/2019). AP Photo/Pablo Martinez Monsivais
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Tentang pembual teori konspirasi paling terkemuka, Roger Stone, dan pemain sentimen rasial paling legendaris, Lee Atwater. Menginspirasi jajaran konsultan muda AS di era “post-truth”.
tirto.id - Rob Allyn bekerja untuk tim pemenangan Prabowo Subianto pada pemilihan presiden 2014. Lebih tepatnya mengurus iklan kampanye di televisi. Namun belakangan namanya disebut-sebut lagi, setelah Joko Widodo menyebut ada yang menggunakan jasa konsultan politik asing dalam Pilpres 2019.

"Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, enggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut atau tidak. Enggak peduli," komentar Jokowi di Karanganyar, Jawa Tengah, seperti diberitakan Antara, Minggu (3/2/2019).

Jokowi menyampaikan hal tersebut lantaran tak terima dengan tudingan 'antek asing' yang selalu dialamatkan padanya, dan dalam pandangan analis politik, otomatis menggerus reputasinya.

Calon presiden nomor urut 01 itu tidak menyebut nama secara spesifik. Namun publik kembali menyorot Rob Allyn—pengusaha media, produser film, dan penulis buku asal Amerika Serikat yang empat tahun silam dituduh sebagai produsen isu-isu negatif terkait Jokowi.


Rob menyangkalnya. Salah satunya melalui sebuah kolom yang dipublikasikan New Mandala pada pertengahan Juli 2014. Ia membantah tudingan sebagai dalang di balik masifnya penyebaran isu Jokowi keturunan Cina, Jokowi beragama Kristen, Jokowi antek asing, Jokowi keturunan PKI, dan sebagainya.

Rob turut menyebut bahwa firmanya juga bekerja untuk tim kampanye Jokowi pada Pilgub Jakarta 2012. Jokowi kala itu menang. Rob memakai teknik yang sama saat mendampingi Prabowo pada Pilpres 2014, yakni “kampanye efektif di televisi berdasarkan riset yang bagus”.

Konsultan politik hampir tak bisa bersih dari kontroversi. Di negara asal Rob, persaingan politik terjadi dengan lebih licin sekaligus ganas. Saking ganasnya, ada banyak konsultan politik di Amerika Serikat yang mengakui secara terbuka pernah melakukan cara-cara kotor demi memenangkan klien.

Salah satunya adalah Roger Stone, konsultan politik legendaris yang sedang terjerat kasus dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016. Ia diduga keras terlibat dalam pencurian dan penyebarluasan informasi tentang Partai Demokrat dan Hillary Clinton.

“Kau Pikir Itu Jahat? Tidak, Itu Pintar”

Akhir Januari lalu tim Biro Investigasi Federal (FBI) menelusuri rekam jejak Stone sebagai penipu kotor (dirty trickster). Kristin Davis adalah teman sekaligus kolega yang pernah bekerja dengan Stone selama 10 tahun. Mengutip CNN, berikut sepenggal kesaksiannya di hadapan dewan juri:

“Roger dengan hati-hati telah membangun citra publik yang, kadang-kadang, saya pikir, tidak menguntungkan dirinya. Ia korban dari reputasinya sendiri.”

Stone, yang lahir di Connecticut pada 27 Agustus 1952, berasal dari keluarga keturunan Hongaria-Italia. Kemampuan manipulatifnya sudah terasah sejak usia remaja.




Saat itu ia menjabat sebagai wakil lembaga kesiswaan di sebuah sekolah menengah atas di Westchester County, New York. Ia mampu memanipulasi ketua hingga turun jabatan, lalu merebut posisinya. Di pemilihan ketua tingkat senior, ia kembali curang: merekrut lawan yang paling tidak populer, sehingga ia menang mudah.

“Kau pikir itu jahat? Tidak, itu pintar,” katanya pada Jan Hoffman dalam laporan New York Times edisi November 1999.


Stone punya tato wajah Richard Nixon di punggung, yang menunjukkan kecintaannya pada presiden AS ke-37 itu. Ia pernah bekerja di komite pencalonan kedua Nixon sebagai presiden. Saat Nixon terseret skandal Watergate yang memaksanya untuk mengundurkan diri, Stone menyangkal keterlibatan dirinya dalam kasus tersebut.

Pada 1980-an ia menyalurkan kecakapannya bergaul di lingkaran elite dengan mendirikan sebuah lembaga lobi bersama dua rekan ahli strategi politik, Charlie Black dan Paul Manafort. Di periode yang bersamaan kariernya melejit karena ambil bagian dalam kemenangan Ronald Reagan dan George H.W Bush.

Memasuki dekade 1990-an, setelah lembaga lobinya dijual ke orang lain, ia mulai bekerja untuk Donald Trump. Stone memang spesialis Partai Republikan. Oleh sebab itu, ia sengaja bekerja untuk Al Sharpton pada persaingan capres Partai Demokrat pada tahun 2004 dengan tujuan memecah Partai Demokrat dari dalam.

Jejaknya sebagai penipu kotor berpuncak pada era kampanye presiden Trump. Ia menjadi salah satu konsultan utama bersama tokoh-tokoh kontroversial lain (beberapa di antara sudah mendekam di penjara, baik untuk kasus keterlibatan Rusia dalam Pilpres 2016 AS maupun kasus lain).

Produsen Teori Konspirasi Palsu

Stone adalah motor di balik berita-berita hoaks yang ia pakai untuk melemahkan elektabilitas lawan-lawan Trump. Contohnya terkait kematian Sean Rich, karyawan Komite Demokrat Nasional (DNC), akibat kena dua tembakan senjata api di punggung pada pagi hari tertanggal 10 Juli 2016.

Usai kejadian, beredar beragam teori konspirasi di kalangan sayap kanan. Salah satunya adalah hoaks bahwa Sean terlibat kebocoran surat elektronik DNC yang menyebabkan goyahnya elektabilitas Hillary Clinton saat kampanye presidensial melawan Trump.

Orangtua Sean mengutuk para pembuat teori konspirasi itu karena mengeksploitasi kematian anaknya untuk kepentingan politik. Fox News yang pro-Trump menyebarkannya dan dihujani kritik oleh oleh publik AS.

Washington Post melaporkan Stone tidak hanya memproduksi, tapi juga turut menyebarkan teori konspirasi tersebut melalui akun Twitternya. Manuver yang sama turut dilakukan oleh Wikileaks dan beberapa media massa yang dikontrol oleh pemerintah Rusia.

Pentolan Wikileaks, Jullian Assange, misalnya, berkata bahwa Sean adalah sumber kebocoran email DNC. Ia juga menawarkan $20 ribu untuk informasi yang mengarah pada pembunuhnya. Sementara itu Russian Today menggoreng teori itu selama dua minggu sejak kematian Sean, termasuk dengan menjadikan Assange sebagai narasumber utama.

Persoalannya, sederet teori itu tidak sejalan dengan bukti-bukti yang terkumpul dan sedang diolah oleh pihak kepolisian. Josh Rogan dari Washington Post dan analis politik lain otomatis menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Stone dan kawan-kawan hanyalah manuver busuk untuk memenangkan Trump.


Stone rajin menyerang elite-elite Partai Demokrat lain, termasuk dengan menyatakan dukungan kepada serangan yang dilancarkan oleh orang-orang sekubu.

Joel Gilbert adalah sineas yang masih satu lingkaran dengan Stone. Ia pernah menyebarkan teori konspiratif bahwa di cincin pernikahan Barrack Obama diam-diam terselip ayat-ayat Al Quran. Atau bahwa Obama melakukan operasi plastik untuk menyembunyikan identitas ayah yang sebenarnya, aktivis buruh Frank Marshall Davis.

Jelang Pilpres AS 2016 ia kembali menyodorkan satu teori absurd: Bill Clinton punya anak laki-laki kulit hitam bernama Danney Williams, berusia 30 tahun, sebagai hasil dari hubungan dengan seorang pelacur kulit hitam.

Gilbert tidak tanggung-tanggung. Ia membawa dan memperkenalkan seorang laki-laki yang ia klaim sebagai Daniel Williams itu dalam acara National Press Club di Washington. Danney berbicara ke arah kamera, meminta bantuan Monica Lewinsky dalam kasusnya.

Monica Lewinsky adalah perempuan yang pada 1997 menjadi terkenal akibat kasus skandal seksual dengan Bill Clinton, yang saat itu masih menjabat sebagai presiden AS. Williams ingin mendapatkan sampel DNA Clinton di baju Monica untuk tes DNA, yang hasilnya nanti akan ia pakai sebagai bukti hubungan darahnya dengan Bill Clinton.

Kembali mengutip laporan Washington Post, faktanya, DNA Williams pernah dites pada tahun 1999. Saat itu ibunya menjual teori konspiratif yang sama ke beberapa tabloid. Hasil tes DNA menunjukkan bahwa Bill Clinton bukanlah ayah biologis Williams.

Pada 2015 isu tersebut sebenarnya sudah meredup—hingga Stone tiba-tiba mengangkatnya lagi melalui Twitter. Ia menyatakan akan “mencari keadilan untuk Danney Williams” dan meminta pendukungnya untuk terus mengikuti perkembangan kasus tersebut.

Jargon Ekonomi Berselubung Sentimen Rasial

Selama mengarungi bisnis politik sarat pelintiran, Stone memegang dua rumus utama. Pertama, "Serang, serang, serang, jangan pernah bertahan". Kedua, "Jangan mengaku, sangkal semuanya, luncurkan serangan balik".

Satu hal lagi, ia belajar banyak dari mantan koleganya, salah satu konsultan politik paling legendaris yang pernah dimiliki Amerika: Harvey LeRoy “Lee” Atwater.

Atwater juga jadi langganan elite Republikan seperti Reagan hingga Bush Sr. Buah dari kerja kerasnya adalah jabatan sebagai ketua Komite Nasional Republikan (RNC). Ia dikenal sebagai salah seorang tukang pelintir isu ras paling jempolan.

Dalam etimologi perpolitikan Amerika, apa yang Atwater lakukan sering diistilahkan sebagai Southern Strategy. Southern Strategy dilakukan dengan menguatkan kampanye bersentimen rasial untuk menarik atau mempertahankan suara warga kulit putih di sejumlah negara bagian Selatan AS.

Nixon salah satu politisi elite yang memakainya dalam kampanye pilpres. Narasi-narasi yang ingin disampaikan secara “top down” sekaligus terselubung adalah agar tampil kesan bahwa elite Republikan, yang hampir seluruhnya berkulit putih, adalah pilihan terbaik warga kulit putih karena kesamaan warna kulit/ras.


Atwater pernah menjelaskan metode itu saat diwawancarai secara anonim oleh ahli politik Alexander P. Lamis. Beberapa bagiannya terdapat dalam buku Lamis, The Two-Party South, dengan nama anonim. Nama Atwater baru disebut di cetakan buku selanjutnya dengan judul Southern Politics in the 1990s.

“Kalian jangan mengutip saya tentang ini ya. Pada tahun 1954 Anda bisa mengatakan “Negro, negro, negro”. Pada 1968 Anda tidak bisa lagi bilang “negro”—itu tidak menguntungkan Anda. Jadi bumerang,” katanya.

Atwater menjelaskan, alih-alih menggunakan ungkapan rasis secara eksplisit, Southern Strategy dijalankan dengan mengkampanyekan kebijakan-kebijakan yang disenangi kaum konservatif-kulut putih. Jualan yang paling laris: pemotongan pajak. Lainnya adalah pemberantasan kriminalitas yang secara implisit meletakkan warga kulit hitam sebagai pelaku kejahatan.

“Konsep-konsep itu sepenuhnya bersifat ekonomi namun juga sekaligus mengandung pesan bahwa jika dilaksanakan, maka yang paling tidak diuntungkan adalah warga kulit hitam. Dan tanpa sadar, itulah tujuannya. Jadi, dengan sudut pandang apapun Anda melihatnya, intinya tetap ras.”

Kecerdikan Atwater adalah ia menyadari pemakaian Southern Strategy amat bergantung pada situasi di selatan Amerika. Ia tidak memakainya saat menjadi konsultan Reagan karena ras saat itu bukan isu yang dominan.

Hasilnya? Reagan, seorang aktor kawakan Hollywood, benar-benar bisa jadi orang nomor satu di AS. Atwater juga sukses menaikkan Bush Sr. ke posisi yang sama, dan dengan demikian turut membantu klan Bush untuk berjaya di jagad perpolitikan AS di waktu-waktu selanjutnya.

Baca juga artikel terkait POLITIK AMERIKA SERIKAT atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight