18 Juli 1925

Dari Curhatan Adolf Hitler, Terbitlah 'Mein Kampf'

Oleh: Eddward S Kennedy - 18 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Adolf Hitler menulis 'Mein Kampf' selama berada dalam penjara. Berisi curhatan dan obsesinya tentang superioritas ras Arya.
tirto.id - Pada 18 Juli 1925, tepat hari ini 94 tahun silam, sebuah buku yang kelak dianggap sebagai buku paling berbahaya di dunia terbit: Mein Kampf.

Mein Kampf (Perjuanganku) adalah manifesto politik sekaligus curahan hati Adolf Hitler yang ditulisnya ketika mendekam selama 13 bulan penjara di Landsberg. Hitler dijebloskan ke bui akibat terlibat dalam kudeta terhadap pemerintah Jerman yang gagal dan dikenal dengan peristiwa Beer Hall Putsch. Buku yang disebut Hitler banyak dipengaruhi oleh The Passing of the Great Race karya Madison Grant ini berisi pandangannya mengenai rencana Nazi untuk mendominasi dunia.

Semula Hitler akan memberi judul yang panjang untuk buku ini: “Viereinhalb Jahre (des Kampfes) gegen Lüge, Dummheit und Feigheit” atau “Empat Setengah Tahun Melawan Kebohongan dan Kepengecutan”. Namun Max Amann selaku kepala badan penerbitan milik Nazi, Franz Eher Nachfolger, mengusulkan judul "Mein Kampf" karena lebih singkat, mudah diingat, dan punya makna yang selaras dengan isinya.

Dahsyatnya penjualan Mein Kampf sejak awal terbit hingga keruntuhan Nazi pernah diulas dalam laporan BBC yang tayang pada 17 Desember 2004. Laporan itu menyebutkan penjualan Mein Kampf sepanjang periode itu meraih sekitar 1,2 juta reichsmark. Jika dikalkulasi berdasarkan Historical US Dollars to German Marks, uang 1,2 juta reichsmark kala itu setara dengan nominal 3 juta dolar, di mana 1 mark = 2,5 dolar.

Namun demikian ada fakta menarik dalam laporan lain di CNN yang ditemukan seorang pensiunan notaris dan pakar perpajakan asal Jerman, Klaus-Dieter Dubon. Hitler ternyata mengemplang pajak hingga sebesar 405.000 reichsmark (kurang lebih satu juta dolar) sejak 1923 sampai 1932. Temuan ini didapat Dubon dari risetnya di berbagai Bavaria State Archive atau arsip negara di periode tersebut. “Dia terus menerus menantang keputusan kantor pajak," ujar Dubon.

Sejak diangkat kanselir, direktorat pajak Jerman memang segera memutuskan Hitler imun dari pajak. Dan sebagai imbalan atas keputusan tersebut, Hitler memberikan mereka gaji bulanan sebesar 2.000 reichsmark yang juga bebas pajak. Hal ini jelas sangat ironis, terlebih beberapa tahun sebelumnya Hitler berulang kali memohon kepada inspektur pajak agar diberi kemudahan untuk mencicil tunggakan tersebut.

"Semuanya sangat konyol," lanjut Dubon. "Tetapi, dalam kediktatoran, semua yang dilakukan oleh sang diktator adalah benar."


Obsesi Kejayaan Ras Arya

Edisi pertama Mein Kampf diketik Emil Maurice, salah seorang pemimpin Nazi yang ikut mendirikan Schutzstaffel (SS), polisi rahasia Nazi. Kala itu Maurice kerap menjadi supir pribadi Hitler. Di edisi kedua yang terbit setahun setelahnya (1926), tugas editor Mein Kampf diemban Rudolf Hess, wakil Hitler di partai. Hess, yang memang seorang pengagum Hitler, juga sempat mengetik naskah Mein Kampf selama di penjara dengan didiktekan langsung oleh sang Fuhrer.

Mein Kampf dimulai Hitler dengan serangkaian kisah masa kecilnya. Mengenai keluarga, sekolah Realschule pertamanya, hingga pandangan nasionalisme yang dikenalnya melalui dua mata pelajaran favoritnya, sejarah dan geografi, hingga cikal bakal dirinya sebagai seorang ultranasionalis.

Kisah selanjutnya adalah masa muda Hitler. Bagaimana ibunya selalu khawatir karena ia selalu sakit-sakitan hingga terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah. Keputusannya pergi mengadu nasib ke Vienna untuk melanjutkan pendidikan dan mengentaskan kemiskinan keluarganya. Lalu ada bab-bab di mana ia fokus mempelajari Marxisme yang kelak hanya untuk ditolaknya. Hingga kemudian pandangannya mengenai Yahudi, dan gagasannya membentuk Jerman Raya yang didasari oleh Lebensraum (“Ruang Hidup”).

Lebensraum merupakan istilah yang diciptakan oleh ahli geografi Jerman, Friedrich Ratzel (1844-1904). Ide tersebut, yang ia telaah sepanjang dua dekade di akhir abad ke-19, menyoal bagaimana migrasi menjadi suatu faktor penting sekaligus alamiah bagi perkembangan tiap spesies, termasuk manusia. Dan hanya dengan menjadi negara penakluklah maka upaya ekspansional demi kelestarian Ras Raya dapat berjalan dengan benar.

Ide semacam Lebensraum sebetulnya pernah diterapkan Jenderal Lothar von Trotha pada masa Neo-Imperialisme di awal abad ke-20. Ketika itu Von Trotha mengeluarkan kebijakan Vernichtungsbefehl (“Perintah Pemusnahan”) untuk menyingkirkan orang-orang Herero dan Nama, para penduduk asli di kawasan barat daya Afrika (yang sekarang disebut Namibia), demi proyek transmigrasi dan pendirian penjara buangan orang kulit putih.

Hitler meyakini bahwa rakyat Jerman membutuhkan Lebensraum untuk mengembalikan kejayaan dan ruang tersebut harus didirikan di Eropa Timur. Maka Nazi pun membuat kebijakan tertulis untuk memusnahkan, mendeportasi, atau memperbudak penduduk Polandia, Ukraina, Rusia, dan bangsa Slavia lainnya, yang mereka anggap inferior, lalu mengisi kembali tanah tersebut dengan orang-orang Arya.

Namun tesis utama Mein Kampf pada dasarnya adalah mengenai “bahaya Yahudi” yang bagi Hitler dianggap sebagai penyebab utama kesengsaraan rakyat Jerman. Maka kebijakan genosida pun dibuat. Dan kisah selanjutnya kita tahu: jutaan kaum Yahudi tewas di dalam kamp konsentrasi di Auschwitz sejak mereka dikirim ke sana dari berbagai wilayah Eropa pada awal 1942. Bersama mereka turut pula dikirim kaum Gypsi dan Roma, kaum homoseksual dan orang-orang cacat, para penentang rezim, serta ribuan tentara Uni Soviet.

Ketika Perang Dunia II berakhir dan Nazi runtuh pada 1945, Angkatan Darat AS menutup Eher Verlag, perusahaan penerbit Nazi yang mencetak Mein Kampf. Mereka juga menyita edisi orisinal buku tersebut serta catatan rahasia Hitler yang disebut “Zweites Buch” atau “Buku Kedua”, lalu menyerahkan hak ciptanya kepada pemerintah Bavaria. Adapun masa hak cipta tersebut berlangsung sepanjang 70 tahun.


Infografik Mozaik Mein Kampf
Infografik Mozaik Mein Kampf. tirto.id/Nauval

Kembali Diburu Banyak Orang

Pada Januari 2016, seiring dengan selesainya masa hak cipta tersebut, Mein Kampf diterbitkan kembali namun dalam edisi akademis yang dilengkapi anotasi—catatan, tafsir, penjelasan, maupun keterangan lain. Sejumlah sejarawan di Institut Sejarah Kontemporer Munich (Institut für Zeitgeschichte, IfZ) menjadi pihak yang bertugas mengurus hal ini.

“Kami ingin menghilangkan detonatornya. Cara ini akan menghilangkan nilai simbolisnya dan menjadikan buku itu sebagaimana adanya: sekeping bukti sejarah—tidak lebih,” ujar Christian Hartmann, ketua tim sejarawan tersebut.

Detonator yang dimaksud Hartmann antara lain berbagai seruan Hitler yang beraroma agitasi dan propaganda seperti ekspansi geopolitik Jerman atau tentang superioritas Ras Arya. Hal-hal itulah yang didemistifikasi oleh tim Hartmann agar kehilangan daya pukaunya.


Lalu bagaimana hasil penjualannya?

Berdasarkan laporan CNN tahun 2017, dari yang semula hanya dibatasi cetak 4.000 eksemplar, Mein Kampf edisi akademis tersebut rupanya begitu diminati di Jerman dan terus dicetak ulang hingga 85.000 eksemplar. Buku yang terdiri atas dua volume itu juga menjadi buku non-fiksi terlaris dalam daftar yang dibuat majalah Der Spiegel selama 35 minggu.

Magnus Brechtken, wakil direktur IfZ, mengatakan bahwa mayoritas pembeli Mein Kampf edisi ini adalah pembaca umum yang memang meminati topik sejarah atau biografi, dan bukan kalangan sayap kanan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Dalam pandangan saya, sebagian besar kalangan sayap kanan tidak senang dengan edisi baru ini karena mereka menginginkan teks aslinya,” ucap Brechtken.

Baca juga artikel terkait FASISME atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - )

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight