Dari Afsel Hingga Perancis, Rentetan Teror Jelang Ramadan

Ilustrasi orang bersenjata api. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 14 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Di Afsel imam masjid tewas dengan kondisi luka pada leher. Di Perancis ada yang membunuh warga dengan sebilah pisau sambil mengucap takbir.
tirto.id - Seorang pria berbaju serba hitam yang berada di tengah kerumunan manusia di jantung Kota Paris, Perancis, tiba-tiba meneriakkan takbir pada Sabtu (12/5/2018) waktu setempat. Jarum jam menunjuk jelang pukul 9 malam. Ia langsung jadi pusat perhatian.

“Allahu Akbar!”

Menurut aparat keamanan, pria itu berusia sekitar 20 tahun, memiliki rambut serta jenggot panjang, mirip orang Afrika Utara, sehingga membuatnya makin mudah dikenali orang-orang. Suasana lalu berubah menjadi chaos saat si pria mengayunkan sebilah pisau dan menebar ancaman di depan sebuah restoran.



Seorang pelayan bernama Jonathan bercerita pada The Guardian bahwa tangan si pria berlumuran darah, tanda telah melukai satu atau beberapa korban. Ia mengancam siapa saja yang menghalangi jalannya, termasuk kepada seorang perempuan dan pasangan laki-laki yang kebetulan berpapasan dengannya. Si pria masuk ke restoran sebelah, dan menyerang para pengunjung.

“Saya saat itu tidak terlalu cemas, saya kira dia sedang marah saja, atau kena pengaruh obat-obatan,” imbuh Jonathan.


Aparat kepolisian pertama-tama mencoba menembak pelaku dengan senjata pelumpuh, tapi tidak bekerja dengan baik. Saat pelaku ingin menyerang polisi, ia ditembak peluru tajam, dan tewas seketika, demikian kutip CNN. Proses investigasi menemui kendala sebab tidak ditemukan kartu identitas dalam pakaian pelaku.

Satu orang tewas, tiga luka-luka, dan satu lain dalam kondisi kritis. Rakyat Perancis kembali berduka, juga menumpahkan kemarahan serta pesan saling menguatkan di media sosial. Presiden Emanuel Macron memuji keberanian aparat yang mampu melumpuhkan teroris. Respons yang sama dicuit Walikota Paris Anne Hidalgo.

ISIS melalui medianya Amaq News Agency mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. “Orang yang mengeksekusi tindak penusukan di Paris adalah seorang tentara Negara Islam,” kata mereka, meski tidak memberikan bukti kuat.


Pernyataan tersebut juga menerangkan pelaku serangan bertindak atas dasar tanggapan terhadap seruan untuk menyerang negara-negara koalisi anti-ISIS. Namun, sekali lagi belum ada otoritas atau lembaga keamanan resmi yang memverifikasi keaslian atas klaim yang ISIS sampaikan.

Serangan ini berlangsung tidak lama usai ricuh yang mengguncang Rutan Salemba, Kelapa Dua, terletak dalam kompleks Markas Komando (Mako) Brimob, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5). Baku hantam antara polisi dan 155 narapidana tindak pidana terorisme (napiter) berakhir menewaskan lima orang polisi dan satu orang tahanan.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab terhadap kerusuhan tersebut. “Telah terjadi baku tembak yang sengit antara anggota pasukan perang Negara Islam (ISIS) dengan pasukan anti-terorisme dan pemberontak di dalam penjara Kota Depok, Jakarta Selatan,” demikian menurut Amaq News Agency seperti dikutip dari SITE (8/5/2018).


Lagi-lagi klaim ini diragukan sebab kericuhan di Mako Brimob justru dipicu akumulasi kekesalan para narapidana teroris karena barang titipan seperti makanan yang diberikan kolega mereka tak bisa masuk ke ruang tahanan. Tindakan main klaim seperti ini memang sudah biasa dilakukan ISIS.





Belum habis aksi terorisme di Rutan Salemba cabang Mako Brimob dibahas media, pada Minggu (13/5/2018) pagi, kabar ledakan bom lainnya datang dari Surabaya. Sasarannya Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan.

Menurut informasi dari Polda Jawa Timur hingga Minggu (13/5) pukul 20.00 WIB, kejadian ini telah menewaskan 13 orang dan menyebabkan 43 orang luka-luka. Badan Intelijen Negara (BIN) mengatakan pelakunya berafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga kuat mempunyai jaringan dengan kelompok ISIS.


Teror-teror ini terjadi manakala umat Muslim di seluruh dunia tengah menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Menurut peta kejadian yang direkam laman Esri, selain di Perancis, pada 12 Mei 2018 saja terdapat tiga serangan teror yang diinisiasi atau kemungkinan dijalankan oleh ISIS. Di Raqqa, Suriah, korbannya dua orang. Di Samarra, Irak, korbannya empat orang. Sedangkan di Hawija, Irak, menyeret nyawa enam orang.

Sepanjang 2018, per Minggu (13/5/2018), tercatat ada 485 serangan dan mengakibatkan kematian terhadap 2.546 orang. Rata-rata pelakunya adalah kelompok militan Islam seperti Al Qaeda, Al Shabaab, Boko Haram, ISIS, Taliban, dan lainnya.


Di Afrika Selatan, teror bahkan terjadi di masjid. Sebagaimana diberitakan Al Jazeera, tiga orang pelaku menyerang para jamaah salat zuhur di sebuah masjid di Verulam, kota kecil yang berjarak kurang lebih 27 km utara Durban.

Ketiga pelaku sempat membakar bagian dalam masjid sebelum kabur menggunakan mobil. Seperti dilaporkan oleh The Citizen, satu orang imam meninggal dunia dengan luka di leher, sementara dua orang lain luka-luka.

The Guardian mengutip juru bicara aparat kepolisian setempat yang menyatakan ada elemen ekstremis dalam kasus tersebut, sebab jelas-jelas melukai para jamaah. Tokoh Islam setempat, Aftab Haider, menilai serangan tersebut dikarenakan status masjid sebagai tempat beribadah komunitas Syiah, dan akumulasi dari kampanye kebencian yang telah marak sebelumnya.


“Ada kampanye kebencian yang terorganisir secara besar di berbagai masjid, stasiun radio, dan media sosial terhadap komunitas Syiah. Ada ancaman di masjid ini sebelumnya, tetapi tidak dalam minggu-minggu menjelang insiden,” kata Haidar.

“(Serangan) ini memiliki tanda-tanda dari gaya operasi ISIS di Irak dan Suriah,” imbuhnya.

Salah seorang korban bernama Ali Nchinyane. Ia tertusuk di bagian andomen perut. Pada saat kejadian ia yakin betul para pelaku bukan lah perampok yang menginginkan barang para jamaah atau properti masjid, seperti ponsel atau komputer jinjing.


“Mereka datang di gerbang dengan bilang mau salat. Mereka memang benar-benar salat. Tapi sesudahnya ingin membunuh orang-orang. Salah satu pelaku bilang 'aku akan membunuhmu'. Jika aku tak melawan, aku bisa saja tewas di tempat,” kata Nchinyane.

Kejadian ini termasuk langka di Afrika Selatan (Afsel) yang memiliki populasi Muslim sebesar hanya 1,5 persen hingga 1,9 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 55 juta orang. Mayoritas Muslim di Afsel adalah Muslim Suni.

Kepada Al Jazeera editor koran Muslim View yang berbasis di Cape Town, Farid Sayed, berkata memang sebelumnya ada kasus penyerangan masjid. Namun, biasanya pelaku berafiliasi dengan kelompok rasis sayap kanan, bukan ekstremis Islam. Meski berbagai komunitas agama hidup normal, tapi retorika anti-Syiah memang sedang naik akhir-akhir ini di media sosial.


"Di masa lalu, bentuknya selalu serangan verbal, bukan fisik. Saya memiliki beberapa unggahan (di media sosial) yang menunjukkan bahwa itu 'hanyalah sebuah masjid Syiah', dengan kata lain, mereka pantas diserang," kata Sayed.

Parlemen Afsel sudah merilis kecaman atas serangan. Pemimpinnya, Francois Beukman, mengatakan masjid adalah institusi religius, dan konstitusi Afrika Selatan menjamin dan melindungi hak menjalankan ibadah keagamaan.

“Kami ingin komunitas kami hidup harmonis, mempraktikkan agama mereka tanpa rasa takut.”

Baca juga artikel terkait TEROR BOM atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan
DarkLight