Menuju konten utama

Daramuda Project: Lagi-Lagi Folk yang Berujung Klise

Folk lagi dan tiada kebaruan.

Daramuda Project: Lagi-Lagi Folk yang Berujung Klise
Rara Sekar, Sandrayati Fray, dan Danilla Riyadi trio musisi Daramuda Project. Instagram/Benlaksana via Daramudaproject

tirto.id - “Santai aja. Janganlah ada terlalu banyak ekspektasi. Karena kami menjalankan proyek ini dengan sederhana dan sangat mengalir. Agak berimprovisasi juga. Yang penting, semoga bisa menginspirasi untuk bikin karya sendiri yang real dan raw.”

Kalimat di atas meluncur dari mulut Sandrayati Fay, solis pendatang baru yang namanya tergabung dalam proyek kolaborasi Daramuda. Sebagaimana ditulis Felix Dass dalam “Tentang Daramuda dan Bagaimana Perlu Menyikapinya dengan Santai” yang dirilis di Qubicle (2017), Fay ingin proses kreatifnya di Daramuda mengalir dengan sendirinya━tanpa harus dibebani ini dan itu.

Selain Fay, ungkapan senada juga muncul dari dua personel Daramuda lainnya, Rara Sekar dan Danilla Riyadi. Keduanya beranggapan bahwa Daramuda sengaja dibikin untuk menyalurkan sisi santai mereka sebagai seorang musisi. Artinya, Daramuda tak berbicara soal berapa banyak album yang laku maupun bagaimana respons para pendengar. Jika khalayak menyukai musik mereka, syukur. Bila tidak, jangan diambil pusing━cuek saja.

Frasa “santai” hingga “tak ingin berekspektasi” adalah beberapa kata kunci yang selalu ditegaskan personel Daramuda setiap ditanya tentang harapan soal karya. Pernyataan mereka sebetulnya tidak baru-baru amat, mengingat sudah banyak musisi yang memegang teguh prinsip “tak ingin berekspektasi” ketika berbicara soal album maupun karya yang tengah diusung.

Yang jadi pertanyaan: apa dan bagaimana implementasi dari “tak ingin berekspektasi” tersebut? Apakah dengan membikin album ala kadarnya bisa digolongkan sebagai tak ingin berekspektasi? Tentu, jawabannya akan ada bermacam rupa━tergantung perspektif dan pemahaman musisi bersangkutan.

Bagi Daramuda, konsep tak ingin berekspektasi itu hadir lewat lagu-lagu minimalis berjumlah tujuh buah yang termuat dalam mini album bertajuk Salam Kenal. Alunan gitar kopong dan suara vokal yang mendayu dan berbeda karakter menjadi kekuatan utama dari album ini.

Mulanya, saya mengira ketiga musisi Daramuda bakal bernyanyi bersama selayaknya format trio. Dugaan saya keliru. Di Salam Kenal, ketiganya tetap berjalan sendiri-sendiri kendati tetap berada pada jalur yang sudah ditetapkan.

Album Salam Kenal dibuka dengan nomor “Suara Dunia” yang dibawakan Fay, penyanyi yang pada 2017 lalu merilis album Bahasa Hati. Vokalnya begitu berkarakter. Ada nafas rock yang sepintas mengingatkan pada pesona Janis Joplin, terutama saat ia berteriak lantang: “Patung tulangku, tanah ini tubuhku.”

Nomor berikutnya yaitu “Apati,” yang dimainkan oleh Rara. Dengan suara kicau burung yang terdengar samar-samar, Rara tetap tak berubah: gaya bermusiknya masih sama ketika ia bersinar dengan Banda Neira, duo folk yang sempat membikin ribuan penikmat musik indie gelagapan ketika mereka memutuskan pecah kongsi. Vokalnya lembut, sentimentil, dan seperti mengajak pendengar menyelami lautan masa silam.

Selanjutnya giliran Danilla yang melantunkan “Renjana,” yang layak didaulat sebagai track andalan di Salam Kenal. Desir pasir di pantai dan bebunyian gulungan ombak yang malu-malu menyapu daratan menjadi latar yang pas untuk nada-nada depresif, gelap, dan gloomy yang dituturkan Danilla━”Mengapa diri mendayung, suaramu mengawal saat mataku terpejam.”

Kesempatan ketiganya untuk tampil bersama terjadi ketika mereka menyanyikan balada penutup berjudul “Salam Kenal”. Nomor ini, secara lirik dan aransemen, begitu renyah sekaligus komedik. Ketiganya terdengar begitu lepas ketika bergurau tentang senja, indie, rindu, dan kopi━empat hal yang sering dirayakan dalam koridor trolling di kalangan penikmat musik arus pinggir.

Infografik Daramuda

undefined

Lagu-lagu dalam Salam Kenal, secara garis besar, bertutur tentang alam, bahasa cinta universal, dan kerinduan terhadap kampung halaman. Tema-tema personal yang, sengaja atau tidak, diharapkan bisa membawa para pendengar melakoni pengalaman batin yang mendalam.

Untuk para penggemar ketiga personel, album ini mungkin dapat menjadi semacam oase pelepas dahaga. Tapi, untuk sebagian yang lain (baik, tepatnya saya), Salam Kenal seperti klise. Pertama, memilih folk sebagai pijakan bermusik mereka memperlihatkan betapa sempitnya visi kreatif yang dibawa. Ragam folk, lagi-lagi, dalam kasus Salam Kenal, mengulang pola yang sama seperti yang sudah terjadi sebelumnya: dijual dengan intensitas yang masif.

Kedua, Daramuda juga kelewat menghamba pada eksotisme alam demi memperoleh apa yang disebut Fay sebagai “sesuatu yang real dan raw.” Merekam materi secara outdoor tak otomatis membuat album ini terdengar alami dan otentik. Masalahnya bukan terletak pada cara mereka merekam lagu, tapi pada bagaimana menyusun komposisi nada-melodi-harmoni.

Mendengarkan keseluruhan materi dalam Salam Kenal ibarat kata seperti sedang makan bubur ayam di warung langganan. Satu, dua, lima kali mungkin terasa sedap. Namun, semakin sering Anda menyantapnya, perlahan ada rasa bosan dalam setiap kunyahan.

Tapi, apa boleh buat. Toh, mereka sendiri mengaku tidak punya ekspektasi apa-apa dalam proyek ini, jadi untuk apa kita berekspektasi terlalu besar?

Baca juga artikel terkait MUSISI LOKAL atau tulisan lainnya dari Faisal Irfani

tirto.id - Musik
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono