Dani Pedrosa Pensiun dan Bagaimana Ia Menaklukkan Rasa Takut?

Infografik Dani Pedrosa
Pembalap MotoGP Dani Pedrosa. REUTERS/Heino Kalis
Oleh: Renalto Setiawan - 24 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Tak ada yang menyangka, Dani Pedrosa harus mengalahkan rasa takut tiap melintasi arena balap.
tirto.id - Bagi Dani Pedrosa, GP Valencia yang digelar pada Minggu (18/10/2018) tidak hanya mengakhiri MotoGP musim ini. Di tempat yang sudah empat kali ditaklukkannya itu, ia juga mengakhiri 13 tahun petualangan di MotoGP. Dani Pedrosa pensiun.

Keputusan sudah diambil sejak Juli 2018. Saat itu, pembalap berusia 33 tersebut mengatakan bahwa ia akan pensiun setelah musim 2018 berakhir.

“Ini adalah sebuah keputusan yang sudah lama aku pikirkan,” kata Pedrosa, seperti dilansir Autosport. “Ini adalah keputusan yang sangat, sangat sulit, karena olahraga ini adalah olahraga yang aku cintai. Meskipun masih mendapatkan kesempatan bagus untuk terus membalap, aku merasa bahwa aku tidak bisa lagi membalap dengan intensitas seperti sebelumnya dan aku tahu aku mempunyai prioritas lain di dalam hidupku.”

“Aku sudah meraih mimpiku dengan menjadi seorang pembalap dan itu adalah sesuatu yang tidak aku sangka saat aku masih seorang bocah yang menonton TV dan menyaksikan para pembalap berlomba di kejuaraan dunia.”


Berbakat Sejak Kecil

Pedrosa memang sudah bermimpi menjadi pembalap sewaktu masih kecil. Ia lalu dibelikan motor balap mini saat berusia empat. Lima tahun setelah itu, pada 1994, ia sudah berkompetisi di Spanish Minibike Championship.

Karena berbakat, Pedrosa lalu membidik ajang balap profesional. Pada 2001 ia mulai ikut balapan di kelas 125cc. Setelah hampir tiga tahun balapan di kelas tersebut, Pedrosa berhasil menjadi juara pada 2003. Lalu, pintu kelas 250cc terbuka lebar. Hebatnya, selama dua musim balapan di kelas 250cc (2004 dan 2005), ia berhasil menjadi juara dua kali. Repsol Honda lantas mengetuk pintu. Pedrosa pun mulai balapan di MotoGP musim 2006.

Di kelas paling bergengsi itu, mimpi Pedrosa kemudian berkembang, tapi tak muluk-muluk. Setiap akan mulai balapan, mimpi itu lantas dirapal untuk dirinya sendiri: “Aku ingin menjadi pembalap dan aku ingin selalu balapan dengan maksimal.”

Pada musim debutnya, Pedrosa langsung mendapatkan perhatian serius dari para pembalap MotoGP. Reputasi mentereng Pedrosa di kelas 250cc membuat beberapa pembalap bergidik, termasuk dari sang juara bertahan Valentino Rossi.

Penilaian itu ternyata tak salah. Memulai debutnya di Jerez, Spanyol, Pedrosa langsung meraih podium dengan finis di urutan kedua. Ia kalah dari Loris Capirossi, pembalap Ducati, setelah berduel secara sengit di sepanjang balapan. Dan tiga seri berikutnya, saat balapan di Cina, Pedrosa meraih kemenangan pertamanya di ajang MotoGP.

Pedrosa memang harus puas di peringkat ke-5 pada musim debutnya. Namun setelah itu, ia hampir selalu menjadi kandidat kuat juara dunia. Ia nyaris tak pernah keluar dari peringkat lima besar, menjadi runner-up tiga kali (2007, 2010, dan 2012), dan menjadi pembalap kesayangan Repsol Honda. Saat Nicky Hayden pensiun, Andrea Dovizioso pindah ke Ducati, dan Marc Marquez menjadi fenomena, Pedrosa tak pernah ke mana-mana.

Namun, karena prestasi Pedrosa sudah dinilai mentok, Repsol memutuskan tak memperpanjang kontrak pembalap asal Spanyol tersebut. Mereka memilih menggaet Jorge Lorenzo untuk menemani Marc Marquez mulai musim 2019 nanti. Pedrosa lantas sadar diri. Daripada pindah ke tim lain, ia memilih untuk pamit.


Raja Start yang Menaklukkan Rasa Takut

Dari semua hal yang pernah diberikan Pedrosa untuk MotoGP dan penggemarnya, kemampuan Pedrosa saat melakukan start tentu saja akan terpatri dalam ingatan. Untuk urusan itu ia kelewat jago, nyaris tiada banding. Melalui situs resminya, RedBull bahkan berani melabeli Pedrosa sebagai raja start di MotoGP.

Menurut hitung-hitungan RedBull, sejak GP Qatar 2008, Pedrosa hanya 2 kali kehilangan posisinya saat melakukan start. Selebihnya, ia sudah 83 kali menyalip pembalap lain sewaktu melakukan start. Yang paling luar biasa terjadi di GP Qatar 2010. Saat itu Pedrosa melakukan start dari grid kedelapan, tapi pada tikungan pertama ia sudah berada di posisi paling depan.

Selain itu, ada satu hal lain yang sangat menonjol dari Pedrosa: ia adalah seorang pembalap yang berkali-kali berhasil mengalahkan rasa takut.

Pada Juli 2018, bulan yang sama saat ia memutuskan pensiun, Pedrosa mewawancarai dirinya sendiri. Kala itu, Pedrosa bertanya kepada dirinya tentang hal-hal yang begitu personal, yang tidak banyak diketahui orang-orang sebelumnya. Yang menarik, wawancara itu langsung dibuka dengan pertanyaan yang sangat mengena.

“Katakan padaku sesuatu yang belum pernah kamu ungkapkan selama wawancara?” tanya Pedrosa yang berperan sebagai pewawancara.

“Sesuatu yang belum pernah aku akui kepada orang-orang adalah rasa takut yang aku hadapi saat sedang berkompetisi atau sedang berada di atas motor balap. Itu adalah sesuatu yang tidak akan kau ceritakan kepada orang-orang karena itu adalah jalan untuk melindungimu dari dirimu sendiri. Dan orang-orang harus bisa memahaminya,” jawab Pedrosa yang berperan sebagai narasumber.

Sekilas, Dani Pedrosa memang tidak mempunyai rasa takut. Meski pembalap yang lahir di Sabadell, Spanyol pada 29 September 1985 tersebut sudah berulang kali jatuh, tekadnya untuk menjadi yang tercepat tak pernah terlihat goyah.

Padahal, tubuhnya—terutama di bagian kaki—sudah bertabur baut. Menurut Jack de Menenzes, dalam wawancaranya dengan Pedrosa di Independent, pergelangan kaki Pedrosa pernah patah, tulang selangkangannya sempat koyak, dan berkali-kali naik ke meja operasi.



Macam-macam cedera itu memang pernah membuat Pedrosa absen balapan 14 kali di kelas MotoGP. Namun, menurut situs resmi MotoGP, Pedrosa sudah 217 kali ikut balapan. Itu artinya, orang-orang tidak tahu bahwa Pedrosa juga sudah 217 kali berhasil mengalahkan rasa takutnya. Selama itu pula, Pedrosa berhasil mencatatkan prestasi mentereng: 31 kali menang dan naik podium sebanyak 112 kali.

Untuk seorang pembalap yang pernah disebut BT Sports “beruntung masih bisa berjalan” tersebut, pencapaian itu tentu luar biasa. Bagi Pedrosa, 14 kali absen dari balapan jelas amat menyiksa. Terlebih, ia melaluinya sambil merasakan ngilu-ngilu di badan.

Tapi penderitaan itu setimpal dengan apa yang ia dapatkan setelah pensiun: MotoGP menobatkannya sebagai salah satu anggota "MotoGP Legends". Pedrosa pun bediri sejajar dengan Mick Doohan, Freddie Spencer, hingga mendiang Nicky Hayden, mantan rekannya di Repsol Honda pada musim debutnya.

Baca juga artikel terkait MOTOGP atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight