Dampak Siklon Cempaka Yogyakarta dan Asal-Usul Nama Badai

Reporter: Yantina Debora, tirto.id - 30 Nov 2017 06:00 WIB | Diperbarui 30 Nov 2017 15:10 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan dan Ponorogo adalah yang paling terdampak siklon tropis Cempaka.
tirto.id - Hujan lebat disertai kilat, petir dan angin kencang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan agar masyarakat waspada dengan kondisi ekstrem tersebut.

Berdasarkan catatan Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis, pada Senin (27/11/2007) pukul 19.00 WIB terdeteksi siklon tropis yang tumbuh di perairan dekat pesisir selatan Pulau Jawa yang dinamai Cempaka. Hal ini kemudian memicu hujan lebat mulai dari wilayah Banten hingga Jawa Timur.

Siklon tropis ini juga memicu angin kencang yang kecepatannya dapat mencapai 30 knot di berbagai wilayah termasuk peningkatan gelombang tinggi di beberapa perairan. Misalnya tinggi gelombang yang mencapai 1.25-2.5 meter terjadi di Kepulauan Nias, Selat Sunda Utara hingga laut Halmahera.


Gelombang laut dengan ketinggian 2.5-4 meter berpeluang terjadi di perairan barat Aceh, Mentawai, Laut Cina Selatan hingga kepulauan Talaud. Potensi gelombang lainnya yaitu setinggi 4 meter hingga 6 meter yang berpotensi di Laut Andaman, Samudra Hindia di wilayah Aceh dan Bengkulu.

Cempaka berlalu, kini muncul lagi siklon tropis Dahlia. Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, kepada Tirto, siklon Cempaka di sebelah selatan Pacitan saat ini telah luruh dan makin menjauh dari wilayah Indonesia menuju ke arah Selatan. Namun Rabu (29/11/2017) pukul 19:00 WIB telah lahir Siklun Tropis baru yaitu Dahlia, di sebelah selatan Bengkulu. Siklon tropis ini bergerak ke arah barat dengan kecepatan pusaran angin 65 km/jam.

Baca juga: Badai Dahlia: Temuan Baru BMKG Setelah Siklon Cempaka

Diprediksi besok (30/11/2017) siklon tropis Dahlia akan membelok mengarah ke Timur- Tenggara ke arah selatan pulau Jawa dengan kecepatan pusaran 85 km/jam dan akan terus berlangsung hingga 2 Desember dengan kecepatan pusaran angin 100 km/jam. Namun, menurut Karnawati, siklon tropis ini akan semakin menjauh dari wilayah Indonesia ke arah selatan dari pantai selatan Jawa Barat.

Hingga saat ini, dampaknya terjadi di Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Selat Sunda, DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, berupa cuaca ekstrem yaitu hujan sedang sampai lebat yang disertai angin kencang dengan kecepatan maksimal mencapai 20 knots (35 km/jam), disertai kilat petir, menurut Karnawati.

Di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat hingga selatan Jawa dapat mengalami gelombang dengan ketinggian 4 meter hingga 6 meter.

Bagaimana siklon tropis dapat terbentuk?


Menurut BMKG, siklon tropis merupakan badai berkekuatan besar. Siklon tropis dapat mencapai radius 150-200 km. Siklon ini dapat terbentuk di lautan yang luas dan umumnya memiliki suhu yang hangat atau lebih dari 26,5 derajat dengan kecepatan angin maksimum 34 knot.

Selain suhu yang hangat, terbentuknya awan kumulonimbus yang merupakan awan guntur akibat adanya kondisi atmosfer yang tidak stabil menjadi salah satu pemicu tumbuhnya siklon tropis. Masa hidup siklon tropis ini sekitar 3 hingga 18 hari. Siklon ini akan melemah ketika bergerak ke wilayah perairan yang dingin.

Dampak dari Siklon Tropis di Indonesia

Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang kemudian menyebabkan kerusakan baik karena disebabkan banjir, longsor hingga pohon yang tumbang akibat diterpa angin kencang. Data sementara yang dihimpun BNPB yang diterima Tirto, tercatat ribuan rumah, ribuan hektar lahan pertanian, dan fasilitas publik terendam banjir.

Selain itu, aktivitas masyarakat lumpuh total di Wonogiri, sebagian daerah di Yogyakarta dan Pacitan. Jalan lintas selatan yang menghubungkan Wonogiri hingga Ponorogo juga lumpuh total karena tertutup longsor. Kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan triliunan rupiah.

Hingga Rabu (29/11/2017) siang, sudah 19 orang meninggal akibat banjir (4 orang) dan longsor (15 orang). Secara rinci, 11 korban berasal dari Pacitan, 3 orang di Kota Yogyakarta, 1 orang di Bantul, 1 orang di Gunung Kidul, 2 orang di Wonogiri dan 1 orang di Wonosobo.

Untuk kota Yogyakarta, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang diterima Tirto, siklon tropis Cempaka tak hanya menimbulkan banjir dan longsor. Sejumlah pohon di berbagai titik juga tumbang.

Secara rinci, terdapat sebanyak 131 titik kejadian pohon tumbang di berbagai wilayah di DIY Yogyakarta. Selain itu, longsor juga terjadi di 114 titik serta banjir menggenangi 110 titik di berbagai wilayah di Yogyakarta.

Banjir, longsor dan pohon tumbang di Yogyakarta menyebabkan 65 rumah rusak karena banjir, 18 rumah tertimpa pohon yang tumbang dan 12 rumah rusak karena longsor. Infrastruktur umum seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan hingga jaringan telpon ikut rusak akibat badai tersebut.

Siklon tropis Cempaka bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. BMKG mencatat terjadi beberapa badai tropis sejak terbentuknya pusat peringatan dini siklon tropis (Tropic Siclon Warning Center/TSWC) Jakarta pada 2008: siklon tropis Durga, Anggrek, Bakung, Cempaka dan yang terbaru Dahlia.

Baca juga: Topan Lan Jepang, Badai Irma Amerika, Mengapa Bisa Terjadi?

Badai Durga terjadi pada 2008 di perairan barat daya Bengkulu. Siklon itu diperkirakan 960 km dari Bengkulu dan menimbulkan hujan ringan dan gelombang setinggi 3 meter. Dampak yang tak sebesar Cempaka di sebabkan oleh jaraknya yang jauh sedangkan Cempaka terletak dekat daratan atau hanya berjarak 32 km di selatan-tenggara Pacitan.

Oleh sebab itu, wilayah selatan pulau Jawa seperti Yogyakarta, Wonogiri, pacitan dan Ponorogo adalah yang paling terdampak karena jaraknya yang dekat.

infografik badai cempaka


Selain itu, siklon tropis Anggrek juga terjadi di perairan barat Sumatera pada 2010. Siklon ini menyebabkan gelombang besar yang merusak belasan gudang penyimpanan ikan rusak di daerah Pasie Nan Tigo, Padang. Siklon tropis Anggrek juga sempat menghambat penyaluran bantuan bagi korban gempa dan tsunami di Mentawai karena ombak yang tak bersahabat. Selain itu pada 2014 terjadi siklon tropis lain yaitu Bakung di perairan barat daya Sumatera.

Asal-Usul Penamaan Badai

Yang unik dari setiap siklon yang terjadi adalah penamaan dari siklon tersebut. Nama siklon tak sembarang diambil. Ada peraturan standar yang ditetapkan World Meteorilogical Organization (WMO), tak terkecuali untuk badai Anggrek dan Cempaka.

Ada badan penentuan nama badai misalnya di Indonesia berada di bawah wewenang Jakarta Tropical Cycole Warning Center. Setiap nama badai harus sesuai alfabet dan yang tak asing di telinga masyarakat. Tujuannya agar lebih mudah diingat.

Awalnya penamaan siklon dilakukan secara acak yang tak beraturan dan banyak menggunakan nama feminin oleh Pusat Badai Nasional Amerika Serikat. Lalu WMO mulai mengembangkan metode serupa dan setelah diakui secara formal pada 1979 penamaan penggunaan nama feminin mulai dipadukan dengan nama maskulin karena penggunaan nama feminin dianggap bias gender.

Baca juga: Gempa-Gempa nan Mematikan

Namun, penamaan di AS sedikit berbeda dengan Indonesia. Ahli meteorologi akan membuat enam daftar nama feminin dan maskulin. Nama-nama itu akan dirotasi tiap enam tahun sekali. Artinya, daftar nama badai tahun ini akan digunakan kembali pada 2023.

Selain itu, untuk alasan kemudahan dalam daftar nama, awalan Q, U, X, Y dan Z tak digunakan dan nama badai yang mematikan akan dihapus dan diganti dengan nama lainnya. Alasannya agar tak menimbulkan luka bagi korban. Nama badai yang dihapus misalnya badai Katrina yang menghantam New Orleans pada 2005 dan Badai Sandy.

Sedangkan di Indonesia, penamaannya tidak menggunakan nama feminin atau maskulin. Berdasarkan hasil kesepakatan Jakarta Tropical Cyclone Warning Center dan WMO, Indonesia memilih nama bunga agar mudah diingat. Mulai dari Anggrek, Bakung, Cempaka, lalu kini Dahlia.

Baca juga artikel terkait BADAI CEMPAKA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Windu Jusuf

DarkLight