Dampak Gempa Palu: Penerbangan Garuda Masih Terbatas Jarak Pendek

- 6 Oktober 2018
Dibaca Normal 1 menit
"Sekarang 2 kali sehari [penerbangan] dari Ujung Pandang [Sulawesi Selatan] ke Palu karena [menggunakan] ATR. Kapasitas satu pesawat 72 seat."
tirto.id - PT Garuda Indonesia masih terbatas melayani penerbangan ke Palu, setelah terjadinya bencana gempa disusul tsunami pada Jumat (28/9/2018). Hingga saat ini, penerbangan hanya bisa menggunakan pesawat jenis ATR, pesawat penumpang regional jarak pendek.

"Sekarang 2 kali sehari [penerbangan] dari Ujung Pandang [Sulawesi Selatan] ke Palu karena [menggunakan] ATR. Kapasitas satu pesawat 72 seat," ujar Direktur Niaga PT Garuda Indonesia (Persero), Pikri Ilham Kurniansyah pada Jumat (6/10/2018).

Pikri mengatakan hal itu karena kondisi bandar udara Palu, SIS Al-Jufrie belum pulih dari kerusakan. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menginfokan pada saat terjadi gempa di Palu mengakibatkan menara bandar udara rusak dan landasan pesawat sepanjang 500 meter rusak dari 2.500 meter yang ada.

Ia mengatakan infrastruktur bandar udara harus pulih dahulu untuk penerbangan dapat kembali normal. "Tergantung runway [landasan] kan lagi diperbaiki. Kami tunggu pemerintah kerja. Enggak usah grusa-grusu. Pemerintah pasti lebih tahu," ujarnya.

Setelah adanya gempa, dikatakannya, tetap ada permintaan untuk terbang ke Palu. Rata-rata permintaan itu datang dari para relawan.

"Hari pertama Garuda terbang untuk membantu evakuasi. Penerbangan untuk kemanusiaan. Saya bilang siapin pesawat, evakuasi orang tua, anak-anak, yang sakit-sakit," ucapnya.

Sementara untuk tujuan pariwisata belum ada. Staf Khusus Menteri Bidang Infrastruktur Pariwisata, Judi Rifajantoro mengatakan promosi wisata Palu harus berhenti dahulu selama infrastruktur masih rusak.

"Kami kan mulai recovery pariwisata kalau infrastrukturnya sudah siap, seperti listrik, jalan, bandara, hotel. Kami akan menunggu. Kalau itu [infrastruktur] sudah siap, kami genjot lagi," ujar Judi.

Namun, Palu bukan menjadi salah satu destinasi utama promosi dalam negeri, sehingga ia mengatakan dampak dari bencana tersebut tidak signifikan mempengaruhi penurunan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia.

"Dampaknya pasti ada, tapi Palu bukan termasuk destinasi utama. Kami kan ada destinasi branding dan 10 destinasi prioritas, yang 'Bali Baru' itu. Kebetulan Palu tidak masuk ke situ," ujar Judi.


Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca & Shintaloka Pradita Sicca
Penulis:
Editor: Maya Saputri