Menuju konten utama

Dalih Pura-pura Miskin demi Masuk Kampus Elite

Rick Singer sukses memikat hati sejumlah orangtua kaya AS yang ingin memasukkan anaknya ke kampus sekelas Ivy League dengan cara 'mudah'.

Dalih Pura-pura Miskin demi Masuk Kampus Elite
Felicity Huffman, tengah, pengadilan federal dengan saudaranya Moore Huffman Jr, pergi, Senin, 13 Mei 2019, AP / Steven Senne

tirto.id - “Mengamati kasus skandal penyuapan membuatku bertanya-tanya apakah hasil kerja kerasku untuk dapat nilai bagus bisa dipandang berarti di mata institusi pendidikan,” kata Brennan McCauley, siswa Hoggard High School yang saat ini tengah mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas di AS yang punya reputasi baik.

Berita penyuapan yang dilakukan orangtua kaya di AS kepada Rick William Singer bikin sejumlah murid seusia McCauley merasa kecil hati dan khawatir tidak diterima di universitas tersohor. Selain cemas, mereka pun merasa malu bila orangtua mereka bernasib sama seperti aktris Felicity Huffman.

Pada 13 Mei, Pengadilan Boston, AS, menyatakan Huffman bersalah karena memberi uang $15.000 kepada Singer untuk menaikkan hasil tes SAT anak perempuan Huffman, Sophia Macy. Nilai asli Macy ada di bawah skor ideal yang diharapkan pihak kampus. Oleh karena itu Singer punya ide menaikkan nilai agar Macy tetap bisa masuk ke jurusan yang diinginkan.

Perguruan tinggi di Amerika Serikat memberlakukan syarat SAT alias Scholastic Aptitude Test bagi calon mahasiswa.

Kasus tersebut membuat Huffman dituntut 20 tahun penjara oleh pihak pengadilan. Untungnya, juri memberi kesempatan untuk “menawar” masa hukuman. Pengacara Huffman mengupayakan agar hukuman tidak lebih dari enam bulan.

Di pengadilan, Huffman menangis sambil mengakui bahwa dirinya benar-benar bersalah. Sejauh ini jaksa sepakat untuk memberi hukuman empat bulan penjara dan denda sebesar $20.000.

Selebritas yang terkenal setelah bermain di serial televisi Desperate Housewives tersebut adalah satu dari 50 orang yang sedang diperiksa polisi terkait kasus kecurangan Singer.

Sebelum jadi penipu, Singer bekerja sebagai pelatih basket, softball, dan tenis di Sacramento AS. Ketika bisnis konsultan pendidikan berkembang di negara tersebut, Singer pun beralih profesi.

Ia membuka jasa konsultasi pendidikan bagi orangtua dan siswa SMA. Awalnya, jasa konsultasi yang ditawarkan berjangka waktu satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut orangtua dan anak bisa berdiskusi serta belajar dengan membayar tarif sebesar $1.500-$2.000.

Singer menganggap bisnis barunya sebagai lumbung uang baru. Oleh karena itu, ia segera mengatur langkah untuk membangun reputasi agar dirinya punya kesan baik di mata sosok-sosok kunci dunia pendidikan.

USA Today melaporkan sang konselor rajin membangun jejaring dengan tokoh-tokoh penting dalam berbagai asosiasi pendidikan di AS, misalnya presiden American Council on Education, Ted Mitchell. Ia bahkan bisa membuat Mitchell berkata, "Rick sangat memahami institusi pendidikan di AS. Yang jauh lebih penting, Rick ahli dalam memahami keinginan siswa serta orangtua murid dan dia mampu mencarikan sekolah yang cocok,” kutip USA Today.

Infografik Kasus suap Felicity huffman

Infografik Kasus suap Felicity huffman. tirto.id/Nadya

Pendapat-pendapat positif dari orang sejenis Mitchell bikin para orangtua murid percaya pada Singer. Ada orangtua yang beranggapan bahwa Singer bekerja dengan baik dan benar.

“Singer mampu memberi usulan yang baik tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk membuat proposal yang benar dan tidak ada yang ilegal dari sana,” kata John Doerr, mantan klien Singer yang terkejut mendengar pemberitaan di media.

Doerr bekerjasama dengan Singer pada 2006. Saat itu sang konsultan belum berubah jadi sosok yang serakah seperti sekarang.

Pada 2017, ia mulai blak-blakan bicara pada orangtua murid bahwa salah satu hal yang akan dilakukannya untuk membuat anak mereka masuk ke universitas bergengsi adalah menaikkan skor SAT. Ongkos yang harus dibayar untuk mendongkrak skor tersebut sekitar belasan ribu dolar.

Hal lain yang kerap ia sarankan adalah menyuruh murid menulis esai yang menyatakan mereka berasal dari keluarga miskin dan meminta mereka pura-pura “bodoh” di depan psikolog agar bisa diberi waktu lebih banyak untuk mengerjakan soal tes.

“Anak-anak marah. Mereka merasa tidak bisa menulis esai dengan baik karena tidak bisa membayangkan hidup sebagai orang susah,” tutur salah satu orangtua murid kepada USA Today.

Singer makin nekat setelah punya berbagai rencana untuk membesarkan bisnis rintisan di ranah digital. Ia merekrut beberapa orang untuk membangun usaha rintisan yang berhubungan dengan persiapan program pendidikan.

LA Times mencatat Singer pernah mengadakan rapat guna mengetahui sejauh mana berbagai bisnis rintisannya itu berjalan.

“Setiap penanggungjawab proyek menyampaikan perkembangan terbaru. Ada yang bicara soal kursus online murah, program We Got U (untuk membantu murid Asia yang belajar di AS), program algoritma yang menganalisis performa atletik dan akademik murid guna mendapat institusi pendidikan yang sesuai."

Para pengusaha start-up itu mempercayai reputasi Singer dan menganggapnya investor yang cukup baik lantaran tidak menuntut agar proyek selesai dalam waktu singkat.

Tapi hal tersebut berubah setelah tim FBI mulai memeriksa kasus Singer. Ia “melepas” semua bisnisnya dan tertangkap pada Maret 2019.

Baca juga artikel terkait KASUS PENIPUAN atau tulisan lainnya dari Joan Aurelia

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf