Dal Bhat: Sekali Makan, Kenyang 24 Jam

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 25 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Di Nepal, Bangladesh, dan India, Dal Bhat menjadi makanan tradisional yang cukup populer. Porsinya yang cukup besar dan tak terbatas membuat Dal Bhat menjadi idola para pendaki di Himalaya.
tirto.id - Lily Garcia, pendaki asal Filiphina duduk di meja makan besar bersama sembilan pendaki lainnya. Mereka sedang menunggu makan malam dihidangkan. Malam itu, 12 April 2017, sudah lima hari Lily berada di kawasan konservasi Annapurna, Nepal.

“Apa yang kau pesan?” tanya seorang pendaki kepada Lily.
“Tentu saja Dal Bhat, aku lapar sekali. Aku butuh asupan nasi yang bisa kumakan sepuasnya,” jawab Lily.
“Aku juga pesan Dal Bhat, demi karbohidrat yang banyak,” Charlie Ropsy, pendaki asal Belgia menyambar pembicaraan.

Pembicaraan di meja makan itu terjadi di Desa Himalaya, 2.920 meter di atas permukaan laut. Mereka semua, seluruh pengunjung di restoran itu, memiliki tujuan yang sama, Annapurna Base Camp.

Sekitar 20 menit menunggu, makanan mereka tiba. Dal Bhat disajikan dalam sebuah piring aluminium bundar bersekat. Piring itu cukup besar, berdiameter sekitar 30 cm. Lily dan Charlie yang tampak sangat lapar melahap makanannya. Dalam satu menu Dal Bhat, ada cukup banyak lauk yang mendampingi, tentu saja dengan nasi sebagai menu utama. Bhat dalam Dal Bhal berarti nasi. Sedangkan kata Dal adalah sebutan untuk sup kacang-kacangan yang menjadi lauknya.

Selain nasi dan sup, Dal Bhat selalu disajikan dengan tumis sayur, kari, achar, dan papad. Kari dalam Dal Bhat biasanya berisi sayuran atau ayam atau ikan. Tetapi, malam itu, tak ada pilihan lain selain kari sayur, tarkari mereka menyebutnya dalam Bahasa Nepal. Achar merupakan sambal fermentasi. Rasanya sangat pedas sekaligus asam. Sementara papad merupakan kerupuk seperti opak. Ia biasanya diletakkan di atas nasi.

Papad adalah bagian terbaik dari Dal Bhat, rasanya gurih dan renyah. Fungsinya seperti kerupuk, di Indonesia. Untuk sayuran, jenisnya sangat beragam. Terkadang, Dal Bhat disajikan dengan tumis sayuran berwarna hijau. Terkadang hanya irisan timur dan bawang. Ia bergantung pada restoran yang menyajikan dan ketersediaan sayuran di musim tertentu.

Harga Dal Bhat beragam sekali, di ketinggian harganya tentu lebih mahal. Dal Bhat yang dimakan Lily malam itu sekitar 500 rupee atau setara Rp60 ribu. Di Kathmandu, ibukota Nepal, harganya lebih murah. Dal Bhat dengan kari sayur cuma 200 rupee atau sekitar Rp25 ribu. Di kawasan perkotaan, pilihan kari pada Dal Bhat juga lebih beragam. Berbeda dengan di desa-desa di Annapurna yang hanya menyajikan tarkari.

Infografik Dal Bhat


Orang-orang Nepal biasanya melahap Dal Bhat dengan tangan, bukan dengan sendok dan garpu. Tetapi, bagi wisatawan asing, pelayan restoran selalu menyediakan kedua alat makan itu.

Malam itu, Lily makan menggunakan sendok dan garpu. Ia melahap habis seluruh lauk dan nasi, tetapi ia menyisakan Achar. “Aku tak pernah bisa memakan ini, rasanya pedas sekali,” katanya. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nasi. Piring Lily yang kosong kembali terisi. Pelayan itu kemudian kembali lagi membawa kari sayur, tumis sayur, dan sup. Lily melanjutkan makannya, begitu juga Charlie. Piring mereka diisi ulang dua kali oleh pelayan sampai akhirnya mereka menyerah kekenyangan dan mengatakan “Cukup, jangan tambah lagi.”

Dalam budaya Nepal, Dal Bhat menjadi menu makanan sehari-hari. Ia tersedia di warung-warung kecil sampai ke restoran-restoran besar. Beberapa restoran menyajikannya dengan menghidangkan, namun ada juga restoran yang menyajikan menu Dal Bhat dalam bentuk prasmanan. Jadi, pengunjung bisa mengambil sepuasnya tanpa perlu berulang kali meminta isi ulang kepada pelayan.

Porsinya yang banyak dan tak terbatas membuat Dal Bhat menjadi idola para porter—orang-orang yang membawakan barang para pendaki. Mereka biasanya membawa sekitar seratus kilo beban di badannya. Bukan hanya di Nepal, Dal Bhat juga populer dan menjadi makanan tradisional di India dan Bangladesh.

Charlie yang lahir dan besar di Belgia juga sering memesan Dal Bhat dalam perjalanannya ke Annapurna Base Camp. Bukan karena ia begitu suka rasanya, tetapi karena porsinya banyak dan karbohidrat dalam nasi dibutuhkan Charlie untuk terus mendaki.

Ada sebuah frasa cukup populer tentang Dal Bhat di Nepal; Dal Bhat Power, 24 Hours! Saking populernya, ia disablon di kaos-kaos yang dijual di pusat perbelanjaan.

Baca juga artikel terkait GUNUNG EVEREST atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti