Menuju konten utama

Daftar Tokoh Cendekiawan Muslim di Bidang Astronomi dan Karyanya

Berikut daftar tokoh cendekiawan Islam di bidang astronomi beserta karya dan penemuan mereka.

Daftar Tokoh Cendekiawan Muslim di Bidang Astronomi dan Karyanya
Ilustrasi Astrolab. tirto.id/Sabit

tirto.id - Pada abad pertengahan, lahir generasi tokoh cendekiawan Islam yang memiliki sumbangan besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang astronomi. Pengaruh karya-karya ilmuwan muslim itu terhadap kemajuan sains modern diakui secara luas, juga oleh para sarjana non-muslim di barat.

Banyak dari tokoh-tokoh cendekiawan Islam itu hidup pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yang berpusat di Baghdad (Irak). Sebagian besar lainnya muncul dari belahan barat, yakni wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah II di Andalusia (Spanyol). Mayoritas dari mereka tercatat hidup pada abad 9-10 M.

Meskipun demikian, laporan penelitian George Saliba yang termuat di artikel "The Development of Astronomy in Medieval Islamic Society" dalam Jurnal Arab Studies Quarterly (1982) terbitan Pluto Journals menunjukkan fakta lain. Laporan Saliba itu menyimpulkan banyak karya ilmuwan muslim di sejumlah bidang sains, termasuk astronomi, juga lahir pada abad 13-14 M.

Karya-karya itu menyodorkan pelbagai teori astronomi orisinal, tidak seperti pendahulunya di abad 9-10 M yang kerap terpengaruh oleh teks-teks Yunani, Persia, maupun India. Tak hanya astronomi, mereka pun menghasilkan karya-karya penting di bidang kedokteran, mekanik, optik, farmasi, dan matematika.

Saliba mencontohkan tokoh-tokoh ilmuwan muslim dengan karya prolifik di bidang astronomi pada abad 13-14 M itu seperti Ibn al-Shatir, Muayyad al-Din al-Urdi, Nasir al-Din al-Tusi, dan Qutb al-Din al-Shirazi.

Tokoh Cendekiawan Muslim dalam Bidang Astronomi

Dikutip dari sejumlah sumber, berikut sebagian daftar tokoh cendekiawan Islam bidang astronomi beserta karya dan penemuan penting mereka.

1. AL-Fazari

Melalui seorang astronom resmi pertama dari dinasti Abbasiyyah, yakni Muhammad bin Ibrahim Al-Fazari, yang meninggal sekitar tahun 777, pengaruh langsung India menjadi dominan dalam ilmu astronomi Islam. Al-Fazari menerjemahkan kitab astronomi berbahasa sanskerta siddhānta dalam kitab Sindhind.

2. Al-Battani

Al-Battani (858-929) bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Dia termasuk generasi awal astronom muslim yang paling terkenal. Di dunia barat, dia kerap disebut dengan nama Albategni atau Albatenius.

Karya Al-Battani yang paling berpengaruh ialah Tabel Sabian (al-Zij al-Sabi). Dia menyempurnakan tabel orbit matahari dan bulan yang menunjukkan arah eksentrik matahari seperti dicatat Ptolemy, berubah. Ini berarti bumi bergerak dalam elips yang bervariasi.

Berkat penemuannya, saat ini kita bisa mengetahui bahwa dalam setahun ada 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik (sumber lain menyebut 365,24 hari). Penemuan Al-Battani ini dianggap akurat, bahkan keakuratan pengamatan yang dilakukan Al-Battani ini membuat seorang matematikawan asal Jerman bernama Christopher Clavius menggunakannya untuk memperbaiki kalender Julian.

3. Al-Sufi

Abd-al Rahman al-Sufi (903-986) rajin mengamati kemiringan ekliptika dan gerak matahari (atau panjang tahun matahari). Dia juga menjadi terkenal karena pengamatan dan deskripsinya tentang bintang-bintang (posisi, kecerahan, dan warnanya), serta memetakan sejumlah konstelasi bintang.

Salah satu karya al-Sufi yang punya pengaruh besar dan terselamatkan adalah Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap). Kitab ini memuat inovasi dalam pemetaan bintang serta mencatat identifikasi sekitar 100 bintang baru.

4. Ibn Yunus

Abu'l-Hasan Ali ibn Abd al-Rahman ibn Yunus (950-1009) merupakan astronom muslim asal Mesir. Dari hasil observasinya memakai astrolab, tercatat sekitar 10.000 data posisi matahari sepanjang tahun.

Karya utama Ibn Yunus adalah al-Zij al-Hakimi al-Kabir. Karya ini ia dedikasikan bagi Khalifah al-Hakim yang mendukung kerja-kerja ilmiahnya. Kitab itu memuat 81 bab berisi hasil pengamatan Ibn Yunus di bidang astronomi. Dia menjelaskan 40 konjungsi planet secara akurat dan 30 gerhana bulan yang digunakan oleh Simon Newcomb (1835-1909) dalam teori bulannya.

5. Abul Wafa

Muhammad bin Yahya bin Ismail bin al-‘Abbas Abu al-Wafa’ al-Buzjani merupakan tokoh Islam asal Buzhgan (kini Torbat-e Jam), Khurasan. Lahir pada 10 Juni 940 M, Abul Wafa meninggal dunia di Baghdad pada 15 Juli 998 M.

Abul Wafa menghasilkan banyak karya di bidang astronomi dan matematika, termasuk yang berisi komentar kritisnya terhadap teori-teori dari Yunani. Namun, banyak karyanya lenyap karena tidak terselamatkan.

Salah satu karya penting Abul Wafa yang terselamatkan: Kitab al-Kamil. Buku ini punya pengaruh signifikan di Eropa. Salah satu terjemahannya dalam bahasa Prancis berjudul Carra de Vaux terbit pada 1892.

Kitab al-Kamil merupakan teks daras berisi pengetahuan astronomi kuno yang diuraikan berdasar pandangan geosentrisme. Di buku itu, Abu al-Wafa’ memperbaiki kekeliruan dan teori Ptolemeus mengenai gerak Bulan.

6. Mariam al-Ijliya

Mariam al-Ijliya, salah satu penemu astrolab yang tercatat sebagai salah satu anak didik Bitolus, pembuat astrolab terkenal dari Bagdad, Irak. Ayah Mariam adalah murid Bitolus yang kemudian mengajak putrinya bekerja di tempat ayahnya bekerja. Mereka bekerja di istana Sayf al-Dawla di Aleppo, yang memerintah dari 944-967.

Menurut Prof. Saleem Al-Husaini, yang dikutip dari Arab Times, Mariam adalah muslimah pertama pembuat cikal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern. Pekerjaan yang dilakukannya rumit dan berkaitan dengan persamaan matematis.

Sayangnya, nama Mariam sempat terlupakan. Rudaina A. Al-Mirbati dari Departemen MIPA, Gulf University for Science and Technology menulis, bahkan ketika peran penemu dan ilmuwan muslim Arab dalam ilmu pengetahuan banyak dibahas, nama Mariam kerap terlewat. Padahal, Mariam Al-Ijliya adalah satu-satunya muslimah pembuat alat penunjuk arah.

7. Ibn al-Shatir

Ala Al-Din Abu'l-Hasan Ali Ibn Ibrahim Ibn al-Shatir merupakan astronom, matematikawan, dan insinyur asal Damaskus, Syiria (1304-1375 M). Al-Shatir menciptakan model untuk semua planet memakai kombinasi gerak melingkar sempurna yang tiap lingkarannya berotasi secara seragam mengitari pusat. Dia memecahkan persoalan jarak planet dan memberikan catatan lebih akurat untuk observasi selanjutnya.

Karya Ibn al-Shatir di bidang astronomi yang terkenal adalah Kitab Nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul. Di karya itu, Ibnu al-Shatir secara drastis mereformasi model Ptolemeus terkait dengan Matahari, Bulan dan planet-planet. Model ini berangkat dari sistem Ptolemeus (tapi secara konseptual sangat berbeda), yang secara matematis identik dengan yang dikembangkan Nicolaus Copernicus di abad ke-16.

Baca juga artikel terkait ILMUWAN ISLAM atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Addi M Idhom