Daftar 10 Film Indonesia Tahun 2016-2017 Versi Bekraf

Oleh: Febriansyah - 30 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Hari Film Nasional diperingati setiap tanggal 30 Maret, berikut daftar film rekomendasi Bekraf.
tirto.id - Peringatan Hari Film Nasional ditandai dengan tanggal syuting film berjudul Darah & Doa atau Long March of Siliwangi karya sutradara H. Usmar Ismail, yakni pada tanggal 30 Maret 1950. Film yang berkisah tentang pertarungan melawan kolonialisme Belanda ini disebut sebagai bermulanya karier film Indonesia.

Industri film di Indonesia terus berkembang, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sendiri menyatakan pertumbuhan jumlah layar bioskop di Indonesia pada tahun 2019 naik lebih dari kali lipat. Dari sebanyak 800 layar di tahun 2014, naik menjadi 2.000 layar di tahun 2019.

Jumlah penonton bioskop di Indonesia juga mengalami kenaikan, dari sekitar 18 juta orang di tahun 2018, bertambah menjadi 52 juta orang di tahun 2018. Sementara untuk tahun 2019 sendiri Bekraf menargetkan sekitar 60 juta orang.

Pada tahun 2016-2017 lalu, Bekraf pernah membuat daftar film Indonesia yang disusun bersama tiga organisasi film, yaitu Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI).

Berikut beberapa film 2016-2017 yang direkomendasikan itu:

1. Athirah (Emma’)

Film Athirah (Emma’) ini telah menjadi pemenang Festival Film Indonesia 2016 untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, dan Penata Busana Terbaik.

Berlatar belakang tahun 1950-an di Makassar, kehidupan seorang ibu muda bernama Athirah’s (Cut Mini) berubah ketika suaminya menikahi wanita lain. Hidup dalam masa yang memperbolehkan poligami memaksa Athirah untuk berjuang mempertahankan integritas keluarganya.

Sebagai karya dari duo ternama Riri Riza dan Mira Lesmana, Athirah juga berhasil mendapat pengakuan di kancah global, di mana film ini tayang di Busan International Film Festival 2016, Tokyo International Film Festival 2016, dan Vancouver International Film Festival 2016.

2. Cek Toko Sebelah

Cek Toko Sebelah adalah Pemenang Festival Film Indonesia 2017 untuk kategori Skenario Asli Terbaik. Film ini bercerita tentang perjalanan Erwin (Ernest Prakasa), seorang laki-laki muda yang bertekad untuk memiliki karier yang cemerlang.

Namun ketika ayahnya jatuh sakit, Erwin harus mengesampingkan ambisinya untuk membantu ayahnya mengelola toko keluarga mereka – meskipun ia tidak mendapat persetujuan dari pacarnya. Merasa kecewa dengan ayah mereka yang pilih kasih, kakak Erwin yang bernama Yohan (Dion Wiyoko) akhirnya membuat sebuah rencana untuk mengambil alih toko keluarganya.

3. Critical Eleven

Ale dan Anya adalah dua profesional muda yang bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Mereka langsung tertarik satu sama lain. Pertemuan itu segera membawa mereka ke perkawinan, yang kemudian mengharuskan mereka pindah ke New York.

Anya kemudian hamil, mereka tampak bahagia. Namun Anya mengalami keguguran. Rasa bahagia mereka berubah cepat dan sekarang mereka harus mempertanyakan cinta mereka, ego mereka, dan kemudian memilih: menyerah dalam kemarahan atau menyembuhkan luka dan bertahan dalam ketidakpastian.

4. Danur 1: I Can See Ghosts

Pada ulang tahunnya yang ke 8, Risa memberitahu ibunya bahwa ia memiliki seorang teman, jadi ia tak akan kesepian lagi. Ibunya, Elly, kemudian menemukan Risa sering tertawa sendirian dan seolah-olah bermain dengan banyak teman.

Lalu Elly mengetahui bahwa anaknya bisa melihat hantu. Ia kemudian menemukan cara untuk memisahkan Risa dari teman-temannya hantunya itu. Teman-temannya
dipaksa untuk menjauh dari rumah nenek Risa.

Sembilan tahun kemudian, Risa kembali ke rumah nenek itu untuk merawat neneknya yang sakit dengan saudaranya, Riri. Namun kejadian aneh dan gangguan menghantui mereka. Risa kemudian mengetahui bahwa Riri saudara perempuannya, akan dibawa oleh hantu jahat ke dunia lain.

5. Istirahatlah Kata-kata

Juli 1996, kerusuhan pecah di Jakarta, ibukota Indonesia. Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis, diburu oleh Orde Baru. Polisi kemudian mencarinya. Wiji Tukul terpaksa meninggalkan Solo menuju Kalimantan, melarikan diri dari perburuan. Wiji banyak dibantu kawan-kawan aktivis di sepanjang perjalanannya.

Dia berakhir di sebuah kota kecil di mana perlahan dia menemukan kedamaian di sana. Tapi pikiran dan hatinya tetap tertuju pada istri dan anak-anaknya yang hidup di bawah pengawasan polisi di Solo. Wiji tidak tahan lagi. Dia ingin pulang.

Film ini berkisah tentang perjalanan dan penghilangan aktivis Wiji Tukul yang sampai hari ini tak diketahui rimbanya.

6. Koala Kumal

Koala Kumal merupakan film komedi romantis Indonesia yang dirilis 5 Juli 2016. Film ini bercerita tentang seorang penulis bernama Dika yang kesulitan menulis bab terakhir bukunya. Dika kemudian menemukan Trisna, perempuan unik yang menolong meloloskannya dari perjodohan mamanya.

Dika pun semakin dekat dengan Trisna. Mereka menjadi semakin akrab. Trisna kemudian menemukan Dika masih patah hati. Lalu mereka merencanakan balas dendam kepada mantan Dika, Andrea.

7. Marlina: The Murdere in Four Acts

Di suatu daerah di Sumba, Marlina, seorang janda muda, didatangi oleh kawanan perampok. Perampok yang terdiri dari tujuh orang laki-laki itu memaksa Marlina untuk menyuguhkan mereka makanan dan salah satu dari mereka kemudian mencoba memperkosa Marlina.

Namun Marlina berhasil membela diri, dia membunuh beberapa pria dari kelompok itu dan memenggal kepala salah satu laki-laki di kelompok itu. Marlina kemudian pergi ke kantor polisi mencari keadilan. Ia sambil membawa kuda menenteng kepala si perampok.

8. Pantja Sila: Cita-cita & Realita

Film ini menampilkan kembali dan menghidupkan kembali pidato dibuat dan disampaikan oleh Sukarno, Presiden Republik Indonesia Indonesia, pada 1 Juni 1945 di BPUPKI (Komite Pekerjaan Persiapan untuk Kemerdekaan Indonesia). Film ini akan mengulas bagaimana penggambaran Pancasila serta landasan filosofis Republik Indonesia.

9. Rudy Habibie

Rudy Habibie merupakan sebuah film asal Indonesia yang mengusung genre drama. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan juga diproduseri oleh Manoj Punjabi. Film Rudy Habibie atau yang banyak disebut Habibie Ainun 2 ini bercerita tentang masa muda seorang visioner yang bernama Rudy.

Rudy merupakan seorang pemuda yang ingin membuat pesawat sebagai permintaan terakhir almarhum ayahnya yaitu jadilah mata air yang berguna bagi banyak orang. Film yang diadaptasi dari sebuah Novel karya Gina S. Noer ini dibintangi oleh Reza Rahardian yang kembali berperan sebagai B. J. Habibie atau Rudy Habibie di film ini.

10. The Seen and Unseen

Ini adalah kisah tentang Tantri, 11 tahun, yang hidup bersama saudara kembarnya, Tantra, di desa kecil di Bali. Dunia Tantri menjadi tidak seimbang, ketika saudara kembarnya sakit dan dirawat di rumah sakit. Ruangan rumah sakit menjadi sesuatu yang menakutkan, itu kemudian adalah tempat di mana Tantra menghabiskan waktu hidupnya.

Ketika ibu Tantri sibuk dengan saudara kembarnya yang sakit, Tantri menciptakan dunianya sendiri berimajinasi dan bermimpi tentang kembarannya itu. Dia mencoba membawanya keluar dunia lebih dekat dengannya. Malam menjadi taman bermainnya. Film ni adalah perjalanan melepaskan, bagaimana seorang anak belajar tentang kehilangan. Ini adalah kisah menemukan diri.


Baca juga artikel terkait HARI FILM NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Film)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight