Curug Parigi, Objek Wisata di Bekasi yang Terancam Pabrik

Oleh: Nadhen Ivan - 23 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Curug Parigi adalah salah satu objek wisata di Bekasi yang belum digarap dengan baik. Salah satu masalahnya adalah pembebasan lahan.
tirto.id - Bagi Putri (22), mahasiswi dari salah satu universitas swasta di Jakarta, wisata adalah sarana pelepas lelah. Aktivitas ini berguna untuk mengembalikan semangat hidup, katanya.

Ahad lalu, 20 Januari 2019, Putri bercerita kepada saya soal beberapa perjalanannya melalui aplikasi percakapan. Dia bercerita soal pengalaman naik gunung, pergi ke danau, hingga yang terakhir air terjun—orang Sunda menyebutnya curug.

Satu air terjun paling berkesan yang pernah ia datangi adalah curug tersembunyi di Bekasi, Jawa Barat. Curug Parigi namanya. "Dua kali ke sana. Dua-duanya tahun 2017," ujarnya. Dia berkunjung pada Februari dan Juni 2017.

Jarak Curug Parigi dengan tempat tinggalnya hanya 6 kilometer. Dia tak menyangka ada tempat seindah itu, katanya.

Namun, sayangnya, tempat yang indah tidak dibarengi dengan kesediaan sarana dan prasarana yang memadai. Sampah-sampah berserakan di mana-mana.

Itu kunjungan pertama. Pada kunjungan kedua, hujan turun begitu lebat. Air curug, yang berasal dari aliran Kali Bekasi yang mengalir dari Bogor, meluber. Pada kunjungan kedua ini ia hanya bisa melihat air terjun dari kejauhan.

Ditutup


Satu hari setelah mendengar cerita Putri, saya mendatangi sendiri tempat itu. Curug Parigi tepatnya berada di Kelurahan Cikiwul, Kota Bekasi, Jawa Barat. Akses masuk ke sana hanya melalui sebuah jalan yang bernama Jalan Curug Parigi.

Sepanjang jalan sebelum menuju air terjun, di sebelah kanan tersuguh hamparan hijau pepohonan, sedangkan di sebelah kiri ada pabrik.


Sekitar 30 meter sebelum akses masuk ke air terjun, langkah saya terhenti. Di sana ada poster larangan masuk. "Tanah milik PT. Dilarang Masuk. Barang siapa merusak papan, pagar, masuk tanpa izin, akan ditindak secara hukum."

Akses yang ditutup plang tersebut sebetulnya bukanlah satu-satunya jalan menuju air terjun. Di sebelahnya, menurut cerita Putri, ada rumah warga yang biasa dijadikan tempat keluar-masuk air terjun tersebut.

Namun, kini rumah yang dimaksud ditutup rapat. "Enggak bisa masuk, sudah dijual," teriak sang pemilik rumah. Ia enggan membagikan waktunya untuk bercerita pada saya. Tanpa pamit, ia langsung kembali masuk ke dalam rumahnya.

Satu warga terlihat baru meninggalkan kawasan air terjun. Kata pria yang enggan menyebut namanya ini, akses jalan ditutup karena di sana hendak didirikan pabrik. Penutupan sudah terjadi sekitar empat bulan lalu.

"Dengar kabar saja sudah dijual. Pengin dibangun [pabrik] katanya," kata pria itu. "Palingan warga aja sekarang yang sering main ke dalam, cuma mancing tapi. Kalau pengunjung enggak [boleh masuk]," ujarnya lagi.


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bekasi sebetulnya berencana menata surug tersebut. Mereka berencana menggelontorkan duit sebanyak Rp9 miliar dan telah beberapa kali berkunjung ke lokasi.

Namun semua rencana ini belum terealisasikan karena kendala pembebasan lahan.

"Itu belum dikucurkan, baru rencana anggaran saja, belum disetujui" ujar Agus Enap, Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bekasi, saat ditemui di kantornya, 21 Januari 2018. "Lagipula, gimana kalau nanti sudah ditata, tapi [akses jalan] enggak bisa ke sana."

Karena faktor tersebut, pengelolaan Curug Parigi belum diprioritaskan Disbudpar Kota Bekasi. Faktor lainnya adalah mereka melihat yang lebih mungkin digali potensi ekonominya adalah wisata air Kalimalang. Penataan ini mendapat perhatian langsung dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

"Sekarang lagi fokus penataan di Kalimalang. Gubernur [Ridwan Kamil] sudah bertemu dengan pak Wali Kota [Rahmat Effendi], bahas itu," ujarnya.

Baca juga artikel terkait CURUG PARIGI atau tulisan menarik lainnya Nadhen Ivan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Nadhen Ivan
Penulis: Nadhen Ivan
Editor: Rio Apinino