Menuju konten utama

Curhat Susah Dapat RS, Politikus PAN Minta Ada RS Khusus Pejabat

Menurut Rosaline, pejabat harus diistimewakan dalam mendapatkan perawatan COVID-19 karena mereka bekerja untuk kepentingan publik.

Curhat Susah Dapat RS, Politikus PAN Minta Ada RS Khusus Pejabat
Sejumlah pasien COVID-19 menunggu di kursi roda untuk mendapatkan kamar perawatan di selasar Ruang IGD RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu (23/6/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/hp.

tirto.id - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Rosaline Irene Rumaseuw meminta pemerintah menyediakan rumah sakit khusus pejabat di tengah pandemi COVID-19 yang terus merajalela di Indonesia. Menurutnya, pejabat harus diistimewakan karena mereka bekerja untuk kepentingan publik.

"Karena pejabat negara ini harus diistimewakan, dia ditempatkan untuk memikirkan negara dan rakyatnya. Bagaimana sampai dia datang ke emergency terus terlunta-lunta?" kata Rosaline dalam webinar bertema Persepsi Netizen Terhadap Penanganan COVID-19 pada Rabu (7/7/2021).

Ia mengaku tahu ada Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) yang biasa merawat pejabat, tapi nyatanya itu tidak cukup.

Rosaline bercerita, saat rekannya anggota Komisi II DPR RI dari fraksi PAN, John Siffy Mirin kesulitan mendapatkan perawatan COVID-19 akhirnya meninggal dunia tiga hari lalu.

Saat itu ia bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi PAN di DPR Saleh Partaonan Daulay, dan seorang pimpinan Komisi IX DPR RI harus turun tangan "mengemis" ruangan ke Rumah Sakit Medistra untuk mendapatkan ruang perawatan.

Gagal mendapatkan ruang perawatan di Rumah Sakit Medistra, John Siffy Mirin berhasil mendapatkan ruang perawatan di RSPAD Gatot Subroto, namun nyawa legislator asal Papua itu tetap tak terselamatkan.

Rosaline mengklaim dirinya mengikuti webinar pada hari ini sambil membantu sejumlah anggota DPR yang tidak mendapat ruangan, bahkan harus dirawat di lantai koridor rumah sakit.

"Saya minta perhatian kepada pemerintah, bagaimana caranya harus ada rumah sakit khusus buat pejabat negara. Segitu banyak orang dewan kok tidak memikirkan masalah kesehatannya," katanya.

Kasus COVID-19 di Indonesia memang tengah menggila. Per hari ini Rabu (7/7/2021), Satgas COVID-19 mencatat ada 34.379 kasus baru di Indonesia, di samping itu terdapat 1.040 orang meninggal dunia.

Kasus aktif pun terus meroket hingga mencapai 343.101 kasus dan merupakan yang tertinggi sejauh ini, akibatnya rumah sakit kewalahan dan banyak pasien terlantar.

Tak hanya itu, tenaga kesehatan (Nakes) di sejumlah daerah menghadapi badai lonjakan kasus COVID-19 yang membuat banyak layanan kesehatan di rumah sakit tak mampu lagi menampung pasien positif Corona. Mereka bekerja menghadapi kematian bertubi-tubi dan risiko terpapar COVID-19.

Berdasarkan data Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dari Maret 2020 hingga 26 Juni 2021, terdapat 949 tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat COVID. Para tenaga kesehatan tersebut terdiri dari 401 dokter (umum dan spesialis), 43 dokter gigi, 315 perawat, 150 bidan, 15 apoteker, dan 25 tenaga laboratorium medik.

LaporCOVID koalisi untuk keterbukaan data, lapor warga, kajian, dan advokasi terkait COVID-19 mencatat dalam enam hari pertama yakni pada 1-6 Juli 2021 sedikitnya ada 35 nakes yang meninggal. Maka jika di rata-rata dalam periode itu ada 5-6 nakes yang meninggal setiap harinya.

Baca juga artikel terkait RUMAH SAKIT PENUH atau tulisan lainnya dari Mohammad Bernie

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Bayu Septianto